Suara mesin mobil itu akhirnya benar-benar berhenti di depan rumah. Tidak ada lagi ilusi waktu tambahan, tidak ada lagi ruang untuk menunda. Ardi berdiri di ruang tengah dengan tubuh kaku, sementara di sebelahnya, Mama Lian justru terlihat terlalu tenang. “Dia sudah sampai,” gumam Ardi pelan. Mama Lian tidak langsung menjawab. Ia hanya merapikan lipatan bajunya, memastikan tidak ada satu pun detail yang terlihat janggal. “Senyum,” ucapnya singkat. Ardi mengernyit heran. “Apa?” Mama Lian menoleh tajam. “Kamu mau dia langsung curiga begitu masuk?” Klik. Pintu depan terbuka. “Ma! Mas! Aku pulang!” Suara Tere mengisi rumah—ceria, hangat, dan normal. Justru kenormalan itulah yang terasa paling asing bagi Ardi. Ardi menarik napas cepat, lalu memaksakan sebuah senyum. Mama Lian sudah berj

