Pagi itu hadir dengan cara yang ganjil, seolah-olah waktu sengaja melambat untuk memberi ruang bagi kecemasan yang belum tuntas. Cahaya matahari yang merembes masuk melalui celah jendela tidak membawa kehangatan yang lazim; ia hanya memperjelas debu-debu yang menari di udara, serta ketegangan yang menggantung pekat sejak semalam, menolak untuk menguap. Ardi duduk terpaku di ruang makan, terjebak dalam postur yang kaku. Di depannya, secangkir kopi telah kehilangan uapnya, meninggalkan lapisan minyak tipis di permukaan cairan hitam yang kini mendingin. Ardi tidak menyentuhnya sama sekali. Pikirannya jauh lebih bising daripada kesunyian ruangan itu—sebuah kegaduhan internal tentang Evelyn dan satu kata yang terus menghantuinya: kontrol. Baginya, kesunyian ini bukan sekadar ketiadaan suara,

