17. Candu

1012 Words

Ardi memarkir mobil di depan rumah dengan tangan yang masih gemetar. Ia menatap kunci kecil di telapak tangannya—benda logam dingin yang terasa seberat bongkahan dosa. Cepat-cepat ia menyelipkannya ke dalam saku kecil di dompet. Menarik napas panjang, memaksakan oksigen masuk ke paru-parunya yang sesak, lalu keluar dari mobil. Lampu teras sudah menyala. Di dalam, ia bisa melihat bayangan dua wanita yang paling berpengaruh dalam hidupnya saat ini. Yang satu adalah pelabuhannya, yang lain adalah nahkoda badainya. Begitu pintu terbuka, aroma masakan menyambutnya. Tere sedang menata meja makan, wajahnya cerah. "Mas! Kok lama banget? Vendornya susah ditemui ya?" Tere mendekat, langsung memeluk pinggang Ardi. Ardi membeku sekejap sebelum tangannya bergerak membalas pelukan itu. "Iya, Re. Ban

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD