16. Umpan

1092 Words

"Jangan gila, Ma. Sendirian? Itu jebakan," bisik Ardi. Suaranya serak, matanya melotot menatap layar ponsel yang masih menyala. Mama Lian tidak bergeming. Ia menuangkan sisa teh yang sudah mendingin ke dalam cangkir, gerakannya sangat presisi. "Semua ini jebakan sejak awal, Ardi. Bedanya, sekarang kita yang memilih untuk melangkah masuk." "Dia bisa melakukan apa saja kalau aku sendirian. Dia punya bukti, dia punya kontrol. Kalau aku datang dan dia memutuskan untuk menghancurkan kita saat itu juga, selesai!" Mama Lian menaruh cangkirnya. Bunyi denting porselen di atas meja kaca terdengar seperti vonis. "Dia tidak akan menghancurkanmu sekarang. Dia sedang menikmati ini. Dia sedang merasa menjadi Tuhan atas hidupmu. Dan Tuhan tidak akan membunuh mainan favoritnya secepat itu." Ardi mengus

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD