Tere berdiri mematung. Pandangannya kosong, menatap lurus ke arah lantai tempat ponselnya tergeletak. Di layar yang retak itu, video masih terus berputar, mengeluarkan suara desahan yang sangat akrab di telinganya—suara suaminya, dan suara ibunya sendiri. Udara di dalam ruang tengah itu mendadak terasa hilang. Tere mencoba menarik napas, namun dadanya terasa menyempit, memicu rasa mual yang hebat di pangkal tenggorokannya. "Re... Tere, dengarkan Mama, Nak..." Mama Lian melangkah maju dengan tubuh gemetar, tangannya terulur ingin menggapai pundak anaknya. "Jangan sentuh aku!" Teriakan Tere menggelar, begitu melengking hingga membuat Mama Lian tersentak mundur. Air mata yang sejak tadi ditahan Tere kini tumpah ruah, membasahi pipinya yang pucat. Ia menatap ibunya dengan tatapan yang d

