AWKWARD MOMENT (1)

1195 Words
Satu jam kemudian. Mauren mengerjap mata. Menatap suasana kamar yang sepi. Ia memutuskan untuk menyalakan kembali layar televisi. Lalu, Ceklek! “Will? Tadi, kau bertelepon dengan siapa? Mengapa lama sekali? Aku hingga ketiduran,” Mauren bertanya. Sesaat usai mendengar suara daun pintu kamar mandi terbuka. Memunculkan wajah William di sana. “Apa itu telepon dari kekasihmu, huh?” Wanita tersebut kembali mengeluarkan suara. Ck! William terkekeh singkat. Kemudian, melanjutkan langkah menuju sisi samping ranjang perawatan. Menjejalkan p****t pada sebuah kursi di sana. Lalu, menekan tombol power off pada remot televisi, yang baru saja dinyalakan kembali oleh sang wanita. “HIA! Mengapa kau mematikan televisi? Apa kau tak tahu? Aku benci suasana sepi,” Mauren memekikkan suara. Kini, mengalihkan pandang menuju sisi wajah William di samping sebelah kanan ia berada. “Itu salahmu sendiri. Ini akibat dari kau yang terlalu banyak menonton drama korea berbau adegan percintaan. Maka dari itu, kau jadi sembarangan bicara,” William menyahut. Mauren mengerutkan dahi. Berkata,” Apa maksudmu?” Sahutan ketus itu disertai dengan gerakan merampas remot dari genggaman tangan William. Klik! Layar televisi kembali menyala. Memunculkan wajah oppa korea yang tampan di sana. “Bukankah, kau tahu jika aku tak memiliki kekasih, Mauren?” William mempertegas jawaban. Menanggapi ulang pertanyaan yang sempat sang lawan bicara lontarkan. Mauren mengangguk santai. “Lantas, mengapa kau tadi bertanya seperti itu?” William melanjutkan. “Siapa tahu, selagi aku terbaring koma, kau memiliki pacar baru. Hanya belum sempat saja bercerita kepadaku,” Mauren menyahut. Masih dengan gerak anggukan kepala berulang. Issh! William bergerak mengacak-acak sisi depan rambut sang wanita. Berkata, “Jika aku memiliki kekasih, aku tak mungkin berada di sini.” Haha, Mauren tergelak. Benar saja, William amat dikenal sebagai seorang pria baik-baik. Meski, hanya beberapa kali berpacaran. Namun, Mauren hafal betul. Jika, William takkan pernah berselingkuh atau mendua. Pria tampan itu merupakan satu dibanding seratus lelaki dengan predikat setia. ****** Jarum pada jam terus berdentang. Tepatnya, satu jam usai William menuntaskan agenda menemani Mauren menonton acara drama di televisi. “Will? Apa kau tak merasa bosan?” Mauren bertanya. Ia menyandarkan kepala pada punggung ranjang yang sedang terbentuk siku-siku. “Bosan? Tidak,” William menyahut santai. Issh! “Bagaimana bisa kau tidak merasa bosan seperti itu, huh? Kalau begitu, bagaimana jika kau menggantikan aku saja di sini? Aku bosan sekali,” Lagi-lagi, hal yang dikeluhkan Mauren adalah hal yang sama dengan hari kemarin. “Aku kan sudah berkata padamu—” Belum tuntas William bertanya, Mauren segera melayangkan jemari untuk menutup dua garis bibir William yang terbuka. Menghalangi sang pria untuk mengocehi diri. Sontak, William terdiam. Hanya saja, ia bergerak menggapai sisi jemari Mauren yang menutup sisi bibir. Lalu, menggenggam tangan itu. Refleks, Mauren melebarkan bola mata. Ia merasa canggung ketika William menyentuh dan menggenggam tangan miliknya. Bagaimana tidak, selama itu William hanya berani menyentuh tangan Mauren, ketika wanita tersebut sedang terbaring koma. Sedangkan, pada hari itu Mauren merasa ada sedikit getaran berbeda saat William menggenggam tangan miliknya secara sadar. Perasaan apa ini? Mengapa degup jantungku berdebar kencang? Sang wanita membatin. Seraya, ia teringat pada saat William berucap agar Mauren tersadar pada saat itu. Sebuah batin yang mampu membuat Mauren benar-benar membuka mata; menunjukkan refleks gerak dan nyeri sebagai pertanda telah sadar dari keadaan koma. Pada saat bersamaan, “Oh ya, Mauren. Aku akan pergi dahulu. Aku sudah berjanji padamu untuk membelikan ponsel,” William berkata demikian. Tentu, untuk memecah suasana canggung yang tiba-tiba menerpa. “Kau tak apa, bukan? Jika, aku meninggalkanmu seorang diri?” William mengkonfirmasi. “Ten-tentu,” Mauren menjawab singkat. Masih dengan gurat menyembunyikan rasa salah tingkah. “Kalau begitu, aku akan berangkat sekarang. Jika, kau membutuhkan sesuatu, kau katakan saja pada para perawat,” William mengingatkan. Ia sembari beranjak dari tempat duduk. Meraih kunci mobil, yang semula berada di atas nakas sisi kanan ranjang. “Baiklah, Will. Kau berhati-hatilah di jalan.” William mengangguk. Dan, Sret! Daun pintu kamar baru saja terbuka dan tertutup kembali. Tak lagi memperlihatkan sosok William di dalam ruang tersebut. Mauren menghela napas panjang. Ia beralih meraih sebuah apel dan pisau pada nakas yang berada di sisi kanan ranjang; sisa apel yang belum sempat dikupas oleh William. Namun, Aw! Mauren memekik kesakitan. Sesaat usai merasakan nyeri pada sisi tulang rusuk, yang juga mengalami cidera. Pada akhirnya, seorang pasien wanita sebatang kara itu mengurungkan niat. Tak lagi bergerak memutar tubuh untuk meraih buah apel di sana. Hh, Helaan napas kembali mencuat. Mauren meratapi nasib sembari membatin. Ternyata, aku tak bisa ditinggalkan oleh William. Aku masih membutuhkan dia. ****** Sementara itu, Selagi berjalan menuju sisi area parkir kendaraan. William menghentikan langkah. Menoleh ke arah sisi dalam lobi rumah sakit. Membatin lirih. Apa tak mengapa jika aku meninggalkan Mauren seorang diri? Pertanyaan itu terngiang. Mengingat, hari itu William tak bisa meminta bantuan pada Andrew. Sang sahabat sedang bersibuk mengurus studio band miliknya. Sedangkan, Brian? Ah! Kekasih Mauren tersebut, sedang bekerja di Perusahaan Wijaya. Tapi, aku harus tetap pergi. Aku telah berjanji membelikan ponsel baru untuk Mauren. ***** Kini, William sedang membahu jalanan. Di dalam perjalanan. Drrt drtt! Nama Brian muncul di dalam layar. **Brian : “Kau sedang berada di mana, Will?” Pesan itu hanya sempat dibaca singkat oleh sang pemilik ponsel melalui kolom notifikasi. William tak bermaksud untuk enggan membalas. Namun, ia sedang berfokus pada kemudi. Bergegas untuk segera sampai pada sebuah galeri ponsel. Ia harus membeli telepon genggam dan kembali melajukan kendaraan ke rumah sakit. William benar-benar tak bisa meninggalkan Mauren dalam kurun waktu berjam-jam. Ia sungguh khawatir, jika pasien wanita tersebut tiba-tiba membutuhkan bantuan. ***** Di sebuah galeri ponsel. William terlihat berjalan menyusur beberapa sudut. Ia melihat-lihat beberapa ponsel keluaran terbaru. Kemudian, netra pria tampan itu tertuju pada sebuah ponsel yang sama dengan ia gunakan sekarang. “Apa aku membelikan model ini saja untuk Mauren?” William terdengar bergumam pelan. Namun, gumaman itu tak sengaja didengar oleh salah seorang sales perempuan. Sehingga, “Selamat siang, Kak. Saya lihat Kakak sedang mencari ponsel untuk kekasih Kakak, ya?” Ke-kekasih? William terbata di dalam hati. “Baiklah, kami akan merekomendasikan ponsel keluaran terbaru ini.” Blablabla Sales perempuan itu terus menjelaskan panjang lebar. Sejatinya, tanpa diberi penjelasan, William sudah teramat paham. Mengingat, ponsel yang baru ia beli; model yang sama tersebut, baru ia miliki pada saat sebelum Mauren mengalami kecelakaan. Ponsel baru, yang masih terhitung dua minggu ia gunakan. “Baiklah, Mbak. Saya pilih model yang ini saja, ya. Dan, saya minta ponsel dengan warna merah muda,” William memutuskan. ****** Tak berapa lama, Ponsel keluaran terbaru dengan harga cukup mahal, telah berada di dalam tas jinjing yang sedang William pegang. Astaga! Aku hampir saja lupa membalas pesan dari Brian. Lalu, **William : “Aku sedang berada di galeri ponsel. Baru saja, aku membelikan ponsel baru untuk Mauren.” Brian kebetulan sedang online. Drrt drrt! **Brian : “Mengapa kau yang membelikan Mauren ponsel, Will? Sepulang bekerja aku juga berencana membelikan dia ponsel baru.” **William : “Tak apa, Brian. Aku sudah berjanji padanya.” **Brian : “Baiklah, Will. Lagi pula, Mauren akan menolak barang pemberian dari orang asing sepertiku.” DEG! Seketika, hati William mencelos. Ia sangat memahami, perihal betapa sedih sosok Brian yang sedang tak diingat oleh sang pujaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD