William baru saja keluar dari dalam mobil sport berwarna biru gelap. Ia membawa dua buah tas jinjing. Selain, tas berisi ponsel baru. Ia juga membawa kue kesukaan Mauren.
Di sela William sedang berjalan menuju sisi dalam lobi rumah sakit, Andrew terlihat belari dengan langkah tergesa.
William spontan mengerutkan dahi. Ia mengikuti gerak langkah sang sahabat. Berlari sembari menyerukan nama Andrew dari kejauhan.
“Drew?” Suara William terdengar.
Hh! Hh!
Andrew sedikit terengah. Ia berkacak pinggang saat mencapai sisi depan lift penumpang.
“Ada apa?” William bertanya.
“Ini gawat, Will!”
“Apanya yang gawat?”
“Nyokap, Will. Nyokap—” Andrew masih berseru tak tenang.
Dan,
Ting!
Lift berdenting. Dua orang pemuda itu masuk ke dalam ruang besi bersamaan.
Di dalam lift.
“Nyokap baru saja kasih kabar, kalau bokap tiba-tiba jenguk dia,” Andrew melanjutkan jawaban.
Deru napas Andrew berubah. Tak lain, saat menyebut panggilan yang ia tujukan pada sang ayah. Mengingat, Letta dan Mario sudah lama berpisah. Perceraian mereka dikarenakan Mario yang kerap melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Sehingga, mendapati kabar, jika Mario mengunjungi Letta, Andrew tak bisa menahan rasa cemas.
******
Tak terasa, lift kembali berdenting. Andrew bergegas menuju kamar perawatan sang ibunda.
Di depan kamar perawatan.
“Bik? Apa ada sesuatu hal yang terjadi?” Andrew bertanya pada seorang pelayan di rumah, yang selalu berjaga di sana.
Pelayan tersebut menggeleng pelan. Andrew segera paham.
Sret!
Pintu kamar terbuka. Andrew menyaksikan Letta sedang menghapus bulir air mata.
Dan,
“Will, sepertinya aku dan Mama harus berbincang empat mata. Kau pergilah menjumpai Mauren. Aku tak apa,” Andrew berucap. Menatap William dengan isyarat agar sang sahabat tak lagi mencemaskan dia dan Letta.
“Baiklah, Drew. Hubungi aku kapan saja, ketika kau butuh,” William mengingatkan.
******
Kini, tak ada lagi bayangan dua orang pria tampan sedang berada bersama. William sedang beralih menuju sisi depan lift penumpang. Menujukan langkah pada lantai sembilan.
Setiba di sebuah kamar VIP nomor 9110.
Mauren terlihat menoleh pada ambang pintu yang terbuka. Ia segera menyapa seorang pria di sana.
“Kau lama sekali, Will?”
“Apa kau sedang butuh sesuatu sedari tadi, Mauren?”
“Tidak. Seperti biasa, aku hanya bosan,” Sang pasien mengadu.
Meski begitu, Mauren sama sekali tak berniat untuk membahas tentang keluarga. Ia seolah sudah terbiasa hidup seorang diri. Tentu, hanya ditemani oleh William dan Andrew. Selain itu, orang-orang di sekitar Mauren bak pemeran figuran saja.
“Kau membawa apa, Will? Kulihat tas jinjing putih itu berlabel ponsel. Sedangkan, satunya?” Mauren bertanya. Menyipitkan mata.
“Apa kau membawakanku makanan?” Ia menebak dengan benar.
Haha!
William tergelak. Berkata, “Kau ini peka sekali terhadap bebauan makanan.”
Saat itu, William meletakkan dua tas jinjing di atas nakas. Ia beralih mengeluarkan sebuah chocoberry cake dari dalam tas. Membuka pengait kertas pada kotak kue berukuran sedang.
“Ah, kau memang yang terbaik, Will. Kau tahu saja, makanan apa yang sedang kuinginkan,” Mauren memuji dengan sorot mata penuh makna.
Issh!
William berdesis. Menyahut, “Ini sih, bukan makanan yang sedang kau inginkan. Kau memang menyukai chocoberry cake. Dan, lagi pula tak ada jenis makanan yang kau tolak, bukan?”
Haish,
“Sialan! Kau membuatku seperti pemakan segala, Will,” Mauren berdecak. Meski begitu, ucapan William tak salah. Maka, Mauren menjadi terbahak.
Usai melebarkan meja lipat pada sisi atas ranjang, William mempersilahkan Mauren untuk menyantap kue tersebut.
Sembari melihat si pasien mengunyah, William terdiam.
Dan,
“WOI! Mengapa kau melamun? Ah, apa karena harga cake ini? Oh, tidak! Tentu, karena harga ponsel yang kau beli untukku, bukan?” Mauren berujar. Membuyarkan lamunan sang teman pria. Menoleh ke arah sisi nakas di sebelah kanan.
Pada akhirnya, William bercerita perihal Mario yang mengunjungi Letta. Sungguh, Mauren masih mengingat jelas sosok kedua orang tua Andrew; sama seperti ia mengingat Maxim Haryasa.
Hanya saja,
Sret!
Pada saat bersamaan, daun pintu kamar terbuka. Kali itu, menampakkan sosok seorang wanita berpakaian rapi dan senada.
“Mauren, apa kau juga mengingat Tante Fransiska?” William bertanya. Sesaat usai memandang ibunda Brian yang sedang berjalan menghampiri posisi mereka.
“Tentu saja.”
Lalu,
“Tante Fransiska?” Mauren menyapa.
DEG!
Fransiska menghentikan langkah. Ia menitikkan air mata. Bagaimana bisa, Mauren mengingatku? Namun, ia tak ingat pada Brian dan Lucia?
“Tante? Mengapa diam saja di depan pintu?” Mauren kembali mengeluarkan suara.
Fransiska menyudahi pemikiran kalut di kepala.
“Bagaimana kabarmu, sayang?” Wanita dewasa itu bertanya. Menyentuh puncak kepala Mauren, sesaat usai William berpindah tempat dari posisi semula. Yakni, tempat duduk yang baru saja diduduki oleh Fransiska di sana.
“Seperti yang Tante lihat. Anggota tubuh Mauren masih di perban.”
Dan,
Aw!
Mauren memekik saat berusaha menggerakkan sebelah tungkai.
“Jangan kau paksakan, Mauren. Semua ada waktunya. Kau pasti lekas sembuh,” Fransiska berujar.
Pada saat bersamaan.
Lucia menampakkan diri ke dalam ruang yang sama. Mauren menatap seorang wanita muda, yang baru saja berseru memanggil Fransiska dengan sebutan Mama.
“Jadi, wanita ini adalah putri Tante?” Mauren bertanya. Menatap Fransiska dan Lucia bergantian.
“Benar, Mauren. Apa kau tak mengingat Lucia?” Fransiska mengkonfirmasi ulang.
Mauren menggeleng pelan. Berkata pada Lucia, “Jika memang kau putri Tante Fransiska, seharusnya waktu itu, kau segera berujar demikian. Tapi, kau justru berbicara melantur.”
Sontak, Fransiska dan Lucia segera paham pada alur pembicaraan Mauren. Yakni, saat Mauren berujar pada Lucia, jika ia tak memiliki seorang kekasih. Dengan kata lain, pria yang dimaksud ada sosok Brian yang terlupakan.
“Tante dan Om, bagaimana kabarnya? Maafkan Mauren, karena sakit jadi tak bisa merawat tanaman bersama Tante,” Sang pasien kembali berujar. Lebih memilih untuk membahas hal lain.
Hhh,
Fransiska menghembus napas panjang. Bagaimana tidak, ia tak betah melihat Mauren tak mengenali sang putra dan putri. Meski begitu, Fransiska tak dapat berbuat apa-apa. Melihat Mauren tersadar dari koma saja, ia cukup merasa bahagia.
“Tante dan Om, baik-baik saja, sayang. Kau lekaslah sembuh. Kami berempat menunggumu berkunjung ke rumah.”
Berempat? Bukankah, Tante dan Om hanya bertiga bersama Lucia. Lantas, tak mungkin William yang beliau maksud, bukan? Mauren bertanya-tanya.
Dan,
“Brian, Mauren. Yang Tante maksud adalah Brian,” Wanita dewasa itu menyergah pemikiran si pasien.
“Bri-Brian?” Mauren terbata.
Ngiiing!
Lagi-lagi, kepala Mauren kembali merasakan sakit yang teramat hebat. Wanita tersebut hingga menyentuh sisi pelipis. Mengetuk-ketukkan kepalan tangan pada area di samping telinga.
“MAUREN!” Spontan, William memekikkan suara. Ia mencekal lengan Mauren. Menghalangi pasien itu memukul-mukul sisi kepala.
Refleks,
Pasien pengidap amnesia berjenis retrograde tersebut, menitikkan air mata. Sungguh, rasa sakit pada area kepala, tak mampu menahan bulir dari pelupuk mata.
Hiks,
“Will? Apa yang terjadi denganku? Mengapa kepalaku bisa tiba-tiba sakit saat mendengar nama itu?”