ARRANT

1156 Words
Para dokter dan perawat menghampiri William. Salah satu dokter mengecek kondisi Mauren. Namun, dokter itu menggeleng kemudian. Belum ada tanda kesadaran dari seorang pasien yang sedang terbaring koma di sana. “Tidak mungkin, Dokter! Saya jelas-jelas merasakan tangan Mauren bergerak. Saya tidak berbohong. Anda harus mengecek ulang,” William membantah. Pria itu yakin pada apa yang baru saja ia rasa. Sangat disayangkan, lagi-lagi dokter terpaksa menggeleng sebagai isyarat ‘belum’ pada keluarga pasien yang berkunjung. William harus menerima kenyataan yang ada; jika kondisi Mauren benar-benar jauh dari kata baik. Pasien wanita itu merupakan pasien terburuk di sepanjang tahun. Belum pernah kecelakaan nahas menimpa sefatal itu pada seorang pasien. Mendapati Mauren masih berjuang di ruang perawatan ICU saja, sudah merupakan hal luar biasa. Sehingga, perihal kapan Mauren akan terbangun dari koma, hal tersebut adalah perkara ghaib. Hanya Tuhan yang tahu perihal kapan waktu itu akan tiba. ****** Kini, William sudah berada di luar ruang perawatan. Usai drama yang terjadi di dalam ruang, pria itu harus pergi meninggalkan Mauren seorang diri. Yah, benar saja karena jam besuk memang sudah berakhir. “Will?” Andrew menyapa. Menepuk pundak William dari sisi belakang. “Apa ada suatu hal yang terjadi? Mengapa kau terlihat bersedih?” William menggeleng. Ia memilih tak menyahut pertanyaan sang sahabat yang baru saja datang. “Baiklah, sebaiknya sekarang kita pulang,” Andrew memutuskan. Mengarahkan William untuk menuju lift penumpang. Di dalam lift, William tak henti memandang cermin dengan tatapan kosong. Bukan hanya Brian yang merasa hancur saat mendapati Mauren tak sadarkan diri, namun ia juga. Tiba-tiba, William mengeram kesal. Pria itu mengepalkan tangan. Seraya ingin menonjok wajah Brian. “Will, tenanglah,” lagi-lagi Andrew mengingatkan. “Bagaimana aku bisa tenang, Drew? Semua ini terjadi karena ulah Brian. Jika saja dia tak membuat prank konyol pada Mauren, pasti hari ini kita sudah berada bersama Mauren, merayakan ulang tahunnya yang ke dua puluh tiga,” William menyanggah. Andrew menghembus napas dengan panjang. Ia kembali menepuk pundak William sebagai isyarat menenangkan. Ting! Lift berdenting. William dan Andrew bergegas keluar. Mereka harus memberi ruang bagi pengunjung rumah sakit yang baru saja tiba. Namun, pandangan William dikejutkan dengan sosok wanita yang ia kenal. Siapa lagi jika bukan Priscilla? “Sedang apa kau ke mari?” William memekikkan suara. Membawa tubuh Priscilla menjauh dari kerumunan yang ada. Andrew tercengang. Ia tak bisa ikut campur dengan urusan William. Sebuah urusan yang tak pernah Andrew tahu dengan jelas. Setahu Andrew, Priscilla adalah seorang wanita yang pernah berusaha memisahkan Brian dan Mauren, itu saja. Andrew menghunus tajam puncak kepala karena merasa gusar. Bagaimana bisa aku berada diantara kisah cinta segitiga mereka? Ah, ataukah cinta segiempat? Entahlah, kini Andrew bingung harus memihak pada siapa. Hal itu terlampau sulit untuk ia putuskan. ****** Tak lama kemudian, William membawa pergi Priscilla dari rumah sakit. Pria itu bahkan lupa pada seorang sahabat yang baru saja datang menghampiri. Issh! Mereka hendak pergi ke mana? Andrew bergumam kesal. Terpaksa melanjutkan langkah seorang diri. Menuju area parkir mobil. Lalu, mengendarai mobil SUV miliknya. Tut.. tut.. Sembari menyetir, Andrew tak henti melakukan panggilan keluar. Sebuah panggilan telepon yang ia tujukan pada William. Namun, sambungan telepon tak kunjung mendapati jawaban. Drrt drrt! Ponsel yang hampir meredup kembali menyala terang. Andrew segera menyahut penelepon dari seberang. “Hallo, Brian? Ada apa?” Alih-alih William yang menelepon, justru nomor Brian-lah yang tertera di dalam layar ponsel yang menyala. “Aku menelepon Lucia, tapi dia tak menjawab panggilan. Apa kau sedang berada bersamanya?” Brian menanyakan sosok sang adik perempuan. Andrew mengerutkan dahi, “Mengapa kau bertanya kepadaku, Brian? Aku tak bersamanya.” Brian terdiam. Menenggelamkan pikiran. Untuk apa Lucia berbohong kepadaku? Tadi, dia bilang hendak menjumpai Andrew. Setelahnya, Brian berpamitan. Mengakhiri panggilan. Sementara itu, Andrew kembali melajukan mobil dengan laju kecepatan meninggi. Berniat menghampiri lokasi yang mungkin didatangi oleh William. ****** Usai membahu setengah jam perjalanan, akhirnya mobil yang dikemudikan Andrew tiba pada sebuah tempat. Yakni, tempat yang kerap ia datangi bersama William. Anehnya, tak hanya ada satu mobil yang terparkir di depan halaman studio band di sana. Melainkan dua mobil dengan jenis berbeda. Sepertinya, mini hatchback itu milik Lucia? Andrew menerka. Tanpa banyak bicara, Andrew segera turun dari dalam mobil. Langkah lebar pria itu segera menjumpai pemandangan elok di sebuah sudut ruang. Sedang apa dia ke mari? Andrew bergumam heran. Lalu, menghampiri sosok wanita yang sudah ia duga. “Lucia, sedang apa kau di sini? Dan, mengapa kau suka sekali mengintip seperti ini?” Andrew menyapa sosok adik perempuan Brian. Nyatanya, wanita itu benar-benar menuju tempat persinggahan Andrew dan William. Yakni, sebuah studio band yang didirikan oleh William secara diam-diam. Issh! Lucia mendesis. Mengisyaratkan gerak tubuh, agar Andrew turut bersembunyi dibalik tembok; seperti saat mereka bersembunyi di lantai ruang ICU. Dengan pasrah Andrew menurut. Meski, sebenarnya ia tak terlalu penasaran dengan bahan obrolan William dan Priscilla di dalam ruang. “Sudahlah, Prisc! Aku tak mau bersekongkol lagi denganmu. Aku takkan menyalah gunakan perasaan cintaku pada Mauren. Bagaimana pun, aku akan mencintai Mauren dengan setulus hati. Bukan untuk membalas dendam pada Brian lagi,” William memekikkan suara. Manik mata pria itu menatap tajam Priscilla. Seorang wanita cantik yang sedang mendongak ke arahnya. “Tapi, Will. Kau tak bisa berkata jujur pada Brian perihal semua rahasia kita selama ini. Aku tak ingin Brian tahu, jika selama berada di Inggris, aku sengaja membatasi ruang komunikasi mereka. Aku tak ingin Brian membenciku, Will!” Priscilla menyanggah dengan suara keras. Wanita itu benar-benar tak ingin mengalah. “Persetan dengan rahasia kita yang terbongkar, Prisc! Bagiku, Brian harus tahu. Dan, di waktu yang tepat, aku akan mengungkapkan semua kebusukanmu itu,” William menyahut. Mengintimidasi Priscilla dengan sebuah ancaman. “Apa?” Priscilla berteriak kencang. “Apa kau bilang? Kebusukanku? Bukankah kau juga setuju melakukannya? Bukankah kau lebih busuk karena merebut wanita yang dipacari oleh sahabatmu sendiri?” Priscilla melanjutkan kalimat. Mencerca William dengan beragam ucapan yang ia simpulkan. Sementara itu, Lucia tak henti tercengang. Ia tak menyangka jika dibalik komunikasi yang tak terjalin antara Brian dan Mauren, merupakan hal yang disengaja oleh oknum lain. Dan, oknum itu adalah Priscilla dan William -sahabat kakaknya sendiri. “Kak William benar-benar sudah tidak waras!” Lucia berdecak sebal. Wanita itu beralih pergi. Ia tak lagi ingin melihat perdebatan yang sedang berlangsung diantara William dan Priscilla. Di saat, Lucia hendak melangkah pergi, wanita itu teringat pada suatu hal yang janggal. Lalu, ia memutuskan untuk memutar badan. Menyorot tajam pada sosok Andrew yang masih terdiam di tempat semula. Dengan keberanian penuh, Lucia kembali menghampiri Andrew. Menujukan sebuah pertanyaan. “Kak, apa selama ini kau juga tahu perihal semua hal yang mereka berdua lakukan?” Lucia bertanya. Membidik tajam lawan bicara. Sesekali, kepala wanita itu mengarahkan pandang pada William dan Priscilla. “A-aku,” Andrew tergagap. Lucia segera paham dengan tanggapan yang Andrew beri. Wanita itu menghempas kasar tangan kanan yang semula hendak menghujam d**a Andrew karena kesal. Lalu, kembali melanjutkan langkah. Beralih meninggalkan sisi depan studio band di sana. Mereka benar-benar keterlaluan! Lucia membatin geram.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD