WILLIAM'S SECRET

1176 Words
William dan Priscilla mengakhiri perdebatan. Wanita berparas cantik, berbola mata biru dan berbulu mata lentik itu, beranjak pergi dari dalam studio dengan langkah cepat. Ia bahkan hampir menabrak sosok Andrew yang sedang berdiri di sisi samping pintu depan studio. Issh! Wanita itu berdesis. Lalu, melanjutkan langkah untuk pergi. Menaiki sebuah taksi berwarna putih yang sudah ia pesan secara online, pada beberapa menit yang lalu. Sementara itu, Andrew menampakkan diri dari balik tembok. Masuk ke dalam studio band menggantikan posisi Priscilla di sana. William sempat terperangah. Beruntung, bukan orang lain yang baru saja tiba. Setidaknya, orang itu adalah Andrew. Seorang pria serampangan yang bisa diandalkan dalam menyimpan rahasia. “Aku kira, kau sudah mengakhiri hubungan persekongkolanmu dengan wanita itu,” Andrew berujar. Bahkan, ia tak sempat mengucap salam berisi sapaan. William terdiam. Lalu, ia menyahut, “Tak semudah yang kau bayangkan, Drew. Priscilla bukan wanita lain di luar sana. Dia cukup berbeda. Dia adalah wanita yang akan berjuang keras untuk mendapat apa yang dia inginkan." Andrew menghempas kasar puncak kepala. Beralih memprotes sahabatnya, “Jika kau sudah tahu siapa wanita itu, lantas mengapa kau menerima tawarannya dahulu? Dan, dendam? Dendam apa yang kau punya pada Brian?” Yah, Andrew menyatakan kalimat tanya yang sedari tadi membuat ia penasaran. Yakni, perihal dendam yang sempat William sebutkan; sewaktu Andrew dan Lucia menguping di luar ruangan. “Jadi, kau benar-benar mendengar perdebatan kami tadi?” William mengkonfirmasi. “Tentu saja, bahkan tak hanya aku yang mendengarnya. Tapi, Lucia juga,” Andrew menginfokan. Seketika bola mata William melebar. Melebihi ukuran normal. Pria itu tak menyangka jika rahasia yang ia sembunyikan selama empat tahun, akhirnya terbongkar. Hhh! William menghela napas panjang. Beralih duduk di samping Andrew. “Jadi, dendam apa yang kau miliki pada Brian? Hingga menjebloskanmu ke dalam jurang bersama wanita licik itu?” Andrew mengulang pertanyaan. Ia takkan membiarkan rasa penasaran terus bergentayangan. “A-aku,” William tergagap. Setelahnya, pria itu mulai bercerita perihal masa SMP mereka. Dahulu, William dan Brian satu kelas. Sedangkan Andrew, tidak. Semasa duduk di bangku sekolah menengah pertama, William dan Brian selalu bersaing secara akademis dan non akademis. Brian lebih unggul dalam akademis, namun William tidak. Pria itu selalu menjadi nomor dua di kelas setelah Brian. Sebenarnya, William tak masalah. Toh, di dalam dunia non akademis ia paling berbakat dalam banyak hal. Seperti, bermain band, bermain basket, berenang, paskibraka, dan lain sebagainya. Hanya saja, sang ayah -Maxim Haryasa tak pernah puas dengan prestasi non akademis yang William raih. Ayah William selalu menginginkan putra semata wayangnya berada di peringkat satu. Pria dewasa itu menginginkan William menjadi seorang dokter di kemudian hari. Sebuah cita-cita yang melenceng jauh dari apa yang William ingini. Yakni, menjadi seorang gitaris ternama. Yah! William sangat suka bermain musik. Bahkan, sejak duduk di sekolah dasar, William sudah mahir memainkan berbagai alat musik, salah satunya gitar. Namun, sang ayah tak berpihak pada cita-cita William. Pria dewasa itu menentang keras hobi dan bakat sang putra semata wayang. Hingga, suatu hari. Maxim bertemu dengan Jonathan pada sebuah acara pertemuan para CEO perusahaan. Mulai saat itulah, Maxim menjadi membanding-bandingkan William dengan putra sulung Jonathan Wijaya. Bahkan, Maxim mengubah alur perintah pada William. Yakni, meminta sang putra untuk melanjutkan perusahaan miliknya. Tentu, jika William bersih keras menolak menjadi seorang dokter seusai lulus SMA. Hal tersebut membuat William geram. Bagaimana pun, Brian memang putra laki-laki yang penurut; Brian sedari awal mau-mau saja ketika Jonathan meminta ia meneruskan perusahaan. Sifat penurut Brian itu berbeda jauh dari William. Pria bertinggi seratus delapan puluh depalan centi itu, lebih suka membangkang. Nahasnya, semakin William membangkang, sang ayah menjadi semakin mengekang. Semenjak itu, William menaruh dendam pribadi pada Brian. Sebuah dendam yang menjebloskan William ke dalam lembah busuk bersama Priscilla. “Cih! Dendammu itu dendam anak SMP, Will. Lantas, mengapa kau masih menyimpan dendam itu hingga sekarang?” Andrew menimpali cerita dari William. William menepuk pundak Andrew dengan kasar, “Kau harus dengarkan aku, Drew. Aku membangun studio band ini dengan susah payah. Kau tahu sendiri kan apa saja yang sudah aku korbankan?” Andrew mengangguk mengiyakan. “Lalu, lihatlah Brian. Semenjak SMP, dia selalu mendapat apa yang dia inginkan dengan mudah. Tante Fransiska dan Om Jonathan tak pernah bertindak kasar seperti Papaku bertindak kepadaku. Bahkan, jika Papa tahu aku membuka studio band ini secara diam-diam, dapat aku pastikan jika dia akan memenggal kepalaku. Dia akan memaksaku untuk melanjutkan bisnisnya di perusahaan. Kau tahu sendiri, menjadi dokter dan seorang CEO, merupakan profesi dan jabatan yang tak pernah aku inginkan,” William melanjutkan. Andrew menggeleng heran. Ia tak menyangka jika William begitu iri pada Brian. Namun, tak dapat Andrew pungkiri, jika nasib Brian memang jauh lebih baik dari mereka berdua. “Tapi, kau tenang saja. Semenjak beberapa tahun ini, aku sudah tak menaruh dendam kepadanya.” Andrew beralih menganggukkan kepala, “Yah! Itu benar saja, karena semenjak Brian berkuliah di Inggris, kau tak lagi bertemu dengan Brian di sini, jadi dendammu itu perlahan memudar,” simpul Andrew kemudian. Huh! William mendengus kesal. Dengusan itu berarti mengiyakan simpulan Andrew yang benar. Mengingat masa lalu yang kelam, rasanya William malu pada dirinya sendiri. Jika diingat-ingat, ia bak remaja labil yang kerap iri pada sebaya di sekolah. “Sudahlah, Drew. Yang terpenting, aku tak lagi berniat membalas dendam lagi sekarang. Aku..” Belum sempat William melanjutkan kalimat. Andrew segera momotong ucapan William. “Karena kau terlanjur mencintai Mauren?” Andrew menyergah. William mengangguk mengiyakan, “Aku memang merasa bersalah karena sudah menerima ajakan Priscilla, untuk bersekongkol memisahkan Brian dan Mauren. Tapi, di sisi lain aku juga tak bisa memungkiri takdir yang Tuhan beri. Sebuah takdir yang membuatku membuka hati pada seorang wanita bernama Mauren. Yah, aku tahu, lagi-lagi aku salah. Aku salah karena telah mencintai kekasih sahabatku sendiri. Tapi, itu bukan mauku, Drew. Percayalah, aku tak pernah berniat merebut Mauren dari Brian. Semua hal itu terjadi tanpa sadar. Aku tak menyangka jika kedekatanku dengan Mauren; yang berawal untuk menjauhkan Mauren dari Brian, membuatku diam-diam mencintai wanita itu.” Helaan napas terus terdengar berat dari indera milik Andrew. Pria itu benar-benar bingung pada situasi yang dialami oleh kedua sahabatnya. Pada akhirnya, Andrew hanya bisa mendukung William dan Brian secara netral. Bagaimana pun, ia tak bisa memihak salah satu dari mereka berdua. Pertimbangan itu akan sangat sulit untuk Andrew putuskan. Hening sesaat. William beralih meneguk sebotol minuman dingin di atas meja. Sementara, Andrew hanya bisa menerawangkan pikiran yang tak henti berkelana. Seandainya, waktu bisa diputar, mungkin Andrew akan menjadi penengah diantara William dan Brian sedari awal. Drrt drrt! Dering ponsel memecah keheningan. Kali itu, ponsel milik Andrew yang terdengar memekakkan gendang telinga. Andrew terpaksa berpamitan pada William. Panggilan itu berasal dari sang ibu. Sudah jelas, Andrew harus segera tiba ketika sang ibunda meminta. “Sorry ya, Will. Aku harus balik, ini adalah jadwal Mama untuk kemoterapi.” William mengangguk mengiyakan. Andrew melangkah menjauh sembari menjawab panggilan. “Oh ya, Will. Jangan lupa, kau harus segera menceritakan semua rahasiamu ini pada Brian. Apa kau mengerti?” Andrew berputar arah. Membalikkan badan. Berucap mengingatkan. Tanpa sahutan, William segera mengangguk untuk kali kedua. Menatap bayangan Andrew yang kian lama menghilang di dalam netra.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD