THE CONVERSATION

1272 Words
Sebelum William menjalankan nasihat yang Andrew beri, pria tampan itu melajukan mobil ke sebuah rumah sakit. Ia ingin menjumpai Mauren. Barangkali, usai William mengungkap rahasia yang ia miliki bersama Priscilla, Brian menjadi marah. Sehingga, Brian akan melarang keras William berkunjung ke rumah sakit setelahnya. Tentu, tentu William tak ingin hal tersebut terjadi. Maka dari itu, sebelum semua terlambat, William akan menjumpai Mauren lebih dulu. Melampiaskan rasa rindu yang terus menderu. Setibanya di rumah sakit. William melangkah cepat. Tak ingin melewatkan jadwal besuk di ruang perawatan ICU. Beruntung, William masih sempat membeli buket bunga kesukaan Mauren. Bagaimana pun, ia harus membawa bunga itu untuk Mauren; sebagai tanda perpisahan? Ah, tidak! Lebih tepatnya sebagai tanda permulaan. Yakni, awal mula yang baru untuk hubungan mereka bertiga. Mauren, aku akan memastikan Brian tidak marah kepadaku. Maka dari itu, aku akan berkata jujur padanya hari ini. Dengan begitu, aku akan memiliki kesempatan untuk menjumpaimu lagi. William membatin. Sekilas, pria itu menatap buket bunga yang ia bawa. Ting! Lift berdenting. Lagi-lagi, William melangkah lebar. Menghampiri daun pintu kaca yang bergeser otomatis. Pria itu segera menggunakan apron dan sandal khusus ruang ICU. Setelahnya, William merekahkan senyum. Sesaat usai mendapati sosok wanita yang ia cinta sedang menunggu. “Mauren, apa kau menungguku?” William bertanya. Menatap lekat bola mata Mauren yang terpejam. Berandai-andai jika saja Mauren tersadar. Lalu, membayangkan Mauren menatap dirinya sebagai orang pertama. Sembari tak henti mengukir senyum, William meletakkan buket bunga yang ia bawa pada sisi kanan ranjang perawatan Mauren. “Mauren, maafkan aku ya, aku tak sempat memberimu hadiah sewaktu kau berulang tahun kemarin. Jadi, hari ini kubawakan bunga kesukaanmu. Kau tidak masalah, bukan?” William mengobrol satu arah. Di sisi lain, beberapa perawat tak henti memperhatikan sosok pria itu. Seorang pria yang tak pernah absen berkunjung. Tak pernah berhenti berdoa dan berharap, agar sang pasien itu terbangun. Hhh! Salah seorang perawat menghela napas. Sesaat usai memperhatikan interaksi William yang intens. Beruntung sekali pasien itu, dia memiliki dua orang pria tampan yang mencintai dengan sungguh-sungguh. Yah! Tak hanya William yang kerap melakukan hal itu pada Mauren, namun Brian juga. Dua orang laki-laki itu bak pinang dibelah dua. Mereka, sama. Sama-sama dingin di luar namun berhati lembut dan begitu perhatian di dalam. ****** Satu jam berlalu. William terpaksa meninggalkan ruang perawatan. Jam besuk hari itu sudah berakhir. Namun, entah mengapa ia belum melihat tanda-tanda Brian hadir di sana. Apakah dia takkan berkunjung hari ini? William bergumam heran. Biasanya, beberapa menit sebelum Brian tiba, William bergegas keluar dari dalam ruang. William tak ingin ketahuan menjenguk Mauren secara diam-diam. Hanya saja, hari itu berbeda. Meski, William sudah berada di dalam ruangan selama satu jam, namun Brian tak kunjung datang. ****** Pada akhirnya, William memutuskan untuk menjumpai Brian di kediaman Wijaya. Pria itu membahu jalanan dengan kecepatan sedang. Berharap bisa menjumpai Brian di sana. Tak lama kemudian, William menepikan mobil pada sebuah halaman megah. Ia turun usai memarkir mobil dengan rapi. William menengok kanan dan kiri. Tak ada mobil lain, selain mobil milik Lucia. Ting-tung! William menyalakan bel. Seorang pelayan menampakkan diri dari dalam rumah. Mempersilahkan sosok tamu yang berkunjung ke rumah. Di saat William hendak menjejalkan p****t di sofa, Lucia memekikkan suara. Membuat William terperangah. “Sedang apa kau ke mari?” nada bicara wanita itu terdengar ketus setengah mati. William menghela napas. Sudah jelas, sikap dingin Lucia disebabkan hal yang tak sengaja ia dengar sebelumnya. “Aku hendak menjumpai kakakmu. Tapi, pelayan di rumahmu bilang, Brian tak ada di rumah. Aku memutuskan untuk menunggu,” William memberi penjelasan pada Lucia. “Jika, kau bertemu Kak Brian untuk terus berpura-pura, maka pergilah. Aku bisa menjadi perantara dalam mengungkap rahasia yang kau miliki bersama Priscilla,” Lucia mengancam. Bibir wanita itu mengeram kesal. “TIDAK!” spontan William memekikkan suara. Pria itu menolak keras perihal rencana yang hendak Lucia jalankan. “Biar aku saja yang mengatakan hal itu pada Brian. Ini adalah urusan kami,” William memutuskan. Meski, dengusan kesal terdengar, namun Lucia berusaha menghargai niat baik William. Adik perempuan Brian itu melangkah pergi. Ia akan memberi waktu luang agar William dan Brian dapat berbincang empat mata. ****** Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit kemudian. Akhirnya, deru kendaraan terdengar. Brian memasuki daun pintu rumah berukuran lebar. Pria itu terlihat ditemani oleh sang ibu. Jelas saja, Brian baru pulang bersama Fransiska. Mengingat, sewaktu William tiba, mobil MPV Fransiska tak ada di halaman rumah. “Loh, ada nak William. Sudah lama nak, menunggu Brian datang?” Fransiska menyapa. Wanita dewasa itu memang selalu ramah pada siapa saja. Membuat William iri pada sosok Brian. Bagaimana pun, sedari kecil William tak pernah merasakan kasih sayang dari seorang wanita yang ia panggil dengan sebutan ‘Mama’. “Tidak, Tante. William baru saja tiba kok.” Fransiska mengangguk. Memberi ruang pada dua pemuda yang sudah beberapa tahun bersahabat. Usai Fransiska tak menampakkan bayangan, Brian mengajak William untuk mengobrol di halaman belakang. “Tumben, kau tak datang bersama Andrew?” Brian memulai obrolan. “Andrew sedang menemani Tante Letta ke rumah sakit,” William menyahut. Tanpa banyak info, Brian tahu betul dengan aktivitas sahabatnya sewaktu mengantar sang ibunda ke rumah sakit. Sudah lama, Letta mengidap kanker p******a. Beruntung, wanita dewasa itu bisa bertahan beberapa tahun lamanya. Meski, belakangan hari kondisi Letta menurun. Mengharuskan wanita itu kembali menjalani kemoterapi. Brian mengangguk. Lalu, mulai membicarakan hal lain dengan sang sahabat. “Oh iya, Will. Apa kau mengenal Priscilla Keana Marioline?” Brian berceletuk setelahnya. Glek! William menelan ludah. Bahan obrolan yang hendak ia ajukan, nyatanya sudah lebih dulu keluar dari bibir Brian. “Priscilla adalah anak salah satu kolega Papaku di perusahaan,” William menyahut jujur, sesaat usai terdiam. Pantas saja. Batin Brian, mengingat-ingat perihal pertanyaan Lucia tentang hubungan William dan Priscilla waktu itu. “Sebenarnya..” William berucap. Menghentikan kalimat. Memberi jeda. Membuat Brian menyelipkan rasa penasaran yang berbeda. “Sebenarnya apa?” Brian menyergah. Tak tahan dengan ucapan William yang sengaja dijeda. “Sebenarnya, aku sempat bersekongkol dengan Priscilla. Kami berniat menjauhkan kalian.” Brian tercengang. Apa aku tak salah dengar? Bersekongkol? Menjauhkan kalian? “Apa maksudmu, Will? Bersekongkol? Lalu, menjauhkan aku dengan siapa? Jangan bilang..” Kali itu, bergantian Brian yang berhenti melanjutkan ucapan. “Benar, Brian. Selama kau berada di Inggris, aku dan Priscilla sengaja memblokir komunikasimu dengan Mauren. Priscilla bertugas membuatmu sibuk di Inggris, sedangkan aku bertugas membuat Mauren lupa pada sosokmu di sini.” “APA?” Brian memekikkan suara. Menggeleng cepat karena tak percaya. “Sebentar, sebentar! Jadi, ketika Mauren tak membalas pesan atau telefon dariku, itu terjadi karena kau sibuk mengalihkan perhatiannya dariku?” Brian mengkonfirmasi. William mengangguk tanpa basa-basi. “Kau benar, Brian. Selama ini, Mauren memikirkanmu. Dia merindukanmu. Hanya saja, waktu dan jarak berhasil mendukung rencanaku dan Priscilla. Setiap kali Mauren hendak menghubungimu kembali, dia selalu mengurungkan niat, selain ia sibuk denganku, ia juga tak ingin mengganggu jam kuliah dan istirahatmu. Begitu pula dengan yang Priscilla lakukan padamu di sana, hingga tak terasa kalian jadi kehilangan kontak untuk beberapa waktu yang lama.” Brian menggeleng tak percaya. Selama berada di Inggris, ia kira Mauren lupa pada dirinya. Namun, nyatanya di Indonesia, Mauren juga merasakan hal yang sama. Mengingat, Brian menjadi jarang mengirim kabar pada Mauren. Berdalih, ia takut mengganggu waktu Mauren di Indonesia. Perbedaan waktu Indonesia-Inggris yang berkisar tujuh jam, mampu membuat kisah Mauren dan Brian kehilangan arah. Menyebabkan kisah percintaan mereka diselimuti oleh banyak praduga. Dan, bodohnya Brian justru melakukan prank konyol sewaktu ia baru tiba di Indonesia. Sebuah prank yang menyebabkan Mauren terbaring koma. Brian memijat pelipis yang terasa pening. Lalu, bertanya, “Apa yang kalian pikirkan sewaktu melakukan manipulasi itu, Will? Lagi pula, mengapa kau tega melakukan itu padaku dan juga Mauren?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD