MAKE A DEAL

1078 Words
William menceritakan semua hal yang sempat ia rahasiakan dari Brian. Termasuk, alasan ia menerima tawaran Priscilla untuk memisahkan Brian dan Mauren. Dan juga, perihal perasaan cinta yang ia pendam secara diam-diam pada kekasih Brian. Mendengar semua hal yang William utarakan, Brian hanya bisa menghela napas. Alih-alih marah, Brian justru memberi pengertian pada William. “Kau serius tak marah sedikit pun padaku, Brian?” William memastikan. Bahkan, paras memesona Brian tak memudar karena hal yang baru saja ia dengar dari mulut William. Bagi Brian, William wajar melakukan hal itu. Brian tahu betul betapa kesepian hidup William tanpa kasih sayang seorang ibu. Dan, Maxim Haryasa? Ah, pria single parent itu justru mengekang putra semata wayangnya. Menurut Brian, hal itu lebih dari cukup untuk pria itu jadikan alasan sebagai balas dendam. Sudah pasti, William memiliki rasa iri. Ingin sekali mendapati apa yang tak pernah ia rasa. Meski, cara William tetap salah. Tak seharusnya, ia merebut Mauren hanya untuk meluapkan rasa kesal pada Brian. “Aku tak marah padamu, Will. Aku memandangmu sebagai seorang sahabat. Dan, aku tahu betul kau adalah seorang pria yang sudah pasti bersungguh-sungguh saat mencintai wanita. Setidaknya, hal itu membuatku cukup tenang. Mengingat, selama empat tahun berada di Inggris, aku tak pernah ada di samping Mauren,” Brian menyahut. Memberi penjelasan. William tercengang. Pria itu benar-benar bersyukur. Meski, di lubuk hati terdalam ia cukup menyesal. Seandainya, aku tak pernah menjadi remaja laki-laki yang labil sejak dulu, mungkin aku takkan bersikap seperti itu padamu, Brian. Batin William. ****** Tak terasa, senja berpindah menjadi malam bertabur bintang yang indah. William berpamitan pulang dari kediaman Wijaya. Meski, Fransiska meminta pemuda itu untuk makan malam bersama, namun William memilih menolak halus tawaran Fransiska. Berdalih jika ia harus segera pulang ke rumah. Lucia terlihat mengantar William ke depan halaman. Wanita itu ingin memastikan jika hubungan William dan sang kakak baik-baik saja. “Apa kalian akan tetap berteman? Ah, maksudku bersahabat?” Lucia bertanya. William terkekeh mendengar pertanyaan ambigu dari Lucia. Pria itu beralih menepuk puncak kepala Lucia. Lalu, ia berkata, “Tentu saja, kami sudah dewasa. Jadi, sudah seharusnya kami menuntaskan masalah dengan baik.” Lucia memanggut-manggutkan kepala. Setelahnya, William benar-benar berpamitan pulang pada Lucia. “Hati-hati di jalan, Kak,” Lucia berpesan. Sedikit berteriak. William membunyikan klakson sebagai tanda ‘iya’ pada pesan yang Lucia tujukan baru saja. ****** Sementara itu, di meja makan. Seperti biasa, keempat anggota di kediaman Wijaya akan berkumpul bersama saat mereka bisa. Salah satu agenda yang tak boleh terlewat adalah sewaktu makan malam bersama. “Brian, bagaimana dengan hari pertamamu bekerja di perusahaan? Apa kau menikmatinya?” Jonathan bertanya. Sesaat usai menyuap sesendok nasi ke dalam mulut. Brian tampak berpikir sejenak. Pria itu memang kerap berpikir dahulu sebelum berbicara. “Brian tak begitu menyukainya, Pa.” Bola mata ketiga orang di meja makan spontan melebar. “Apa maksud ucapanmu, sayang?” Fransiska menyergah. “Jika Brian pergi ke perusahaan, Brian akan kehilangan jadwal besuk untuk Mauren. Dan, Brian merasa semakin bersalah padanya.” Hhh! Baik Jonathan, Fransiska dan Lucia menghembus napas dengan berat secara bersamaan. Brian memang benar-benar mencintai Mauren semenjak SMA. Pria itu bahkan bisa dibilang terlalu bucin pada sang kekasih. Kebucinan itu berlanjut pada sebuah janji yang ia buat dengan bersungguh-sungguh. Brian sudah memutuskan untuk bekerja di perusahaan Wijaya semenjak bertemu Mauren saat kali pertama. Pria itu benar-benar ingin menikahi Mauren selepas kuliah. Dan, satu-satunya cara adalah dengan menjadi mapan diwaktu yang terbilang masih muda. Dengan bantuan Jonathan, sudah pasti Brian dapat meraih hal itu. Hanya saja, Brian tak ingin dianggap sebagai pegawai baru yang menduduki posisi tertentu, karena ia merupakan anak seorang CEO Perusahaan. Maka dari itu, Brian bersih keras berkuliah dengan baik selama berada di negeri seberang. Dengan begitu, ia dapat membuktikan, jika dirinya benar-benar berkompeten untuk menjabat sebagai seorang Manajer Perusahaan. ****** Hari semakin larut. Tepatnya pada pukul sembilan malam. Lucia dan Brian masih berada di halaman belakang. Pria itu sedang menemani Lucia berenang. Yah! Mereka berdua senang sekali berenang di malam hari. Jika saja tungkai Brian tak terbalut gips berwarna putih, mungkin pria yang memiliki lekuk roti sobek itu, akan menceburkan diri bersama sang adik. “Kak, apa kau benar-benar baik-baik saja?” Lucia bertanya. Sesaat sebelum menceburkan diri ke dalam kolam renang. Byur! Air di kolam yang semula tenang, beralih bergelombang. Lucia dengan gesit melintas di kedalaman satu setengah meter kolam. Brian tak menyahut. Ia menyimpan jawaban. Hingga mendapati kepala sang adik mulai muncul ke permukaan. “Apa maksud dari pertanyaanmu itu, Lucia?” Brian menjawab. Mendapati sang adik yang kini berada di tepi kolam. Baru saja menuntaskan satu putaran berenang. “Aku tak sengaja mendengar Kak William dan Priscilla berbincang. Dan..” “Jadi, kau tahu jika mereka bersekongkol?” Brian menimpali ucapan Lucia yang belum tuntas. Wanita itu mengangguk mengiyakan. Lalu, beranjak dari dalam kolam. Menggunakan handuk kimono yang sudah disiapkan oleh pelayan. Beralih duduk di samping Brian. "Tadi, aku tak sengaja mendengar mereka berbincang, sewaktu menghampiri studio band Kak William," Lucia memberi penjelasan. “Lalu, apa kau tak sakit hati dengan perbuatan mereka?” Lucia kembali mengajukan kalimat pertanyaan. “Tentu saja, aku sakit hati. Aku juga kecewa. Tapi, semua terlanjur. Jadi, untuk apa aku marah pada mereka. Terlebih lagi, aku tahu betul jika William nyatanya benar-benar mencintai Mauren.” Lucia melongo. Ia tak pernah tahu jika Brian berhati sebesar itu. “Aku salut padamu, Kak.” Hening sesaat. Sebelum pada akhirnya, Brian memutuskan untuk beristirahat. Sembari mendorong kursi roda Brian, Lucia kembali bertanya karena rasa penasaran. “Oh iya, Kak. Itu berarti kau memberi kesempatan pada Kak William, dong?” Brian mengangguk. Benar saja, sebelum William pergi dari kediaman Wijaya, dua pemuda itu sempat bersepakat, jika mereka akan sportif dalam mendapatkan hati Mauren. Lagi pula, bagi Brian dan William, hal utama yang terpenting saat itu adalah Mauren terbangun dari koma. Mendengar itu, Lucia menggeleng tak percaya. Lalu, kembali berucap dengan lucu, “Apa tadi kalian tak sempat beradu otot, Kak? Maksudku, mengapa bisa kalian memecahkan masalah dengan kepala dingin seperti itu?” Brian meminta Lucia untuk memberhentikan laju kursi roda. Pria itu mengarahkan sang adik untuk sedikit berjongkok ke arahnya. Lalu, Brian menepuk puncak kepala Lucia. Sama persis yang dilakukan oleh William sebelumnya. “Lucia, aku dan William kini sudah dewasa. Sudah seharusnya kami menuntaskan masalah dengan baik.” Lucia mengerucutkan bibir. Ia bak baru saja merasa dejavu dengan ucapan sang kakak. Sepertinya, aku juga mendengar kalimat yang sama tadi. Batin Lucia. Wanita itu menggaruk puncak kepala yang tak gatal. Menggeleng pelan karena merasa heran.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD