Pagi ini.
Brian bersiap rapi dengan setelan kemeja, jas kerja dan bawahan yang seragam. Pria itu harus menuju Perusahaan Wijaya bersama sang ayah. Semenjak resmi menjadi salah satu Manajer Perusahaan di sana, ia harus mengemban amanah sebagai salah satu pegawai yang mulai bekerja.
“Ma? Apa Lucia sudah bangun?” Brian bertanya pada Fransiska. Bercelingukan mencari sosok sang adik yang belum terlihat di ruang makan.
“Kau tenang saja, Brian. Adikmu tak lagi bangun siang. Dia bilang, waktu itu hanya jetlag saja usai melakukan perjalanan panjang.”
Brian memanggut-manggutkan kepala, “Lantas, di mana dia sekarang?”
Fransiska memberi info perihal keberadaan Lucia pada Brian. Sedari pagi, wanita muda itu sibuk di taman. Berdalih ingin menggantikan posisi Mauren merawat tanaman di halaman belakang.
Brian melajukan kursi roda. Menjumpai Lucia di sana. Lalu, ia berseru lantang. Membuat sang adik menoleh ke sumber suara.
“Ada apa, Kak?” Lucia bertanya. Menghentikan aktivitas menyiram tanaman.
“Sedang apa kau?”
Lucia mengalihkan pandangan. Mengikuti sorot mata Brian pada bebungaan di sisi belakang Lucia.
Issh!
“Apa Kakak tak melihatku, jika aku sedang menyiram tanaman?” Lucia berdecak. Kembali menyentuh penyiram tanaman.
“Maksudku, tumben sekali kau berkebun seperti ini?”
Lucia terkekeh. Sebenarnya, Lucia sama sekali tak menyukai aktivitas berkebun. Ia memiliki hobi jauh berbeda dengan Fransiska dan Mauren. Namun, mengingat Mauren tak bisa berkunjung ke rumah, maka Lucia berinisiatif membantu Fransiska untuk merawat tanaman itu.
“Tahukah kau, Kak? Kak Mauren menanam semua tanaman ini sewaktu kau berangkat ke Inggris,” Lucia menginfokan. Ia sembari memutar memori perihal betapa bahagia Mauren dapat berkebun di sana.
“Benarkah?” Brian memekikkan suara.
Selama berpacaran, Brian tak pernah tahu jika Mauren memiliki hobi berkebun. Entahlah, Mauren seakan baru menunjukkan hobi itu, selepas Brian pergi dari Indonesia.
“Benar, Kak. Kau lihatlah bunga ini. Nama bunga ini adalah Cecile Brunner Climbing Rose. Kata Kak Mauren, bunga ini melambangkan keberuntungan dalam cinta. Maka dari itu, selepas Kakak pergi, Kak Mauren meminta ijin pada Mama untuk menanam bunga ini,” Lucia menjelaskan.
Brian tercengang. Mauren, maafkan aku. Nyatanya, aku adalah sosok yang tak membuatmu beruntung dalam hal percintaan.
“Kak?” Lucia berseru. Menyadarkan Brian yang tiba-tiba tenggelam di dalam lamunan.
“Iya, Lucia?”
“Apa Kakak mendengarku?”
“Tentu saja,” Brian mengangguk cepat. Menampakkan gurat antusias pada bebungaan indah lain yang Mauren tanam.
“Kalau yang ini, namanya bunga Peony. Kata Kak Mauren, ia paling suka pada bunga ini.”
“Memang apa makna dari bunga Peony itu, Lucia?” Brian bertanya penasaran.
Lucia terkikik setelahnya.
“Kak, memangnya menyukai jenis bunga itu harus bergantung dari lambang bunga tersebut, ya? Kak Brian itu terlalu kolot sekali,”
Aw!
Lucia memekik tajam. Sesaat usai Brian mengetuk kepala Lucia akibat ledekan yang ia beri.
“Maaf Kak, maaf. Kak Mauren tak menceritakan makna bunga ini padaku. Ia hanya sempat bilang, jika ia menyukai bunga Peony karena warna merah mudanya itu,” Lucia menyahut. Memanggutkan dagu ke arah bebungaan berwarna merah muda.
Sekilas, Brian menjadi teringat jika sang kekasih memang menyukai warna kalem tersebut.
“Ah, sudahlah Kak. Tak ada habisnya, jika aku bercerita satu-satu perihal bunga di sini. Kak Mauren terlalu banyak menanam bunga,” Lucia menimpali obrolan mereka. Memberi kalimat penutup pada Brian.
Issh!
“Kau itu jahat sekali. Masa bercerita padaku perihal hobi Mauren saja, kau tak mau,” Brian menggerutu.
Seketika, Lucia teringat pada suatu hal.
“Sebentar, Kak!” Lucia berseru. Memekik gendang telinga.
Brian menarik sudut alis ke arah atas. Melebarkan bola mata. Lalu, bertanya, “Ada apa, Lucia?”
Wanita itu tak menyahut. Ia berjalan menghampiri salah satu sudut. Menatap bunga terakhir yang sempat Mauren tanam di sana. Sontak raut wajah Lucia berubah. Gurat yang sebelumnya bahagia, menyumbul seribu rasa sedih di wajah.
“Ada apa, Lucia? Kau jangan membuatku menjadi khawatir,” Brian kembali memekikkan suara.
“Kak,” suara sendu Lucia terdengar.
“Ada apa?” Brian bertanya tak sabar.
“Kemarin Mama sempat bercerita, jika sebelum kecelakaan, Kak Mauren menanam bunga Krisan ini.”
“Lalu?” Brian memotong ucapan Lucia.
Lucia terdiam. Wanita itu tak berani melanjutkan perkataan.
“Lucia!” Brian menghentak.
“Lalu, sewaktu Lucia mencari makna bunga ini, bunga Krisan merupakan simbol untuk berumur panjang.”
Glek!
Lucia menelan ludah, “Kak, ini bukan pertanda apa-apa, bukan?”
Brian melebarkan bola mata. Pria itu tak percaya dengan kesimpulan yang baru saja Lucia gambarkan.
“Apa maksudmu, Lucia? Kau jangan berpikiran yang tidak-tidak!” Brian berkata tegas. Meminta sang adik menjauhkan pikiran buruk di kepala.
Tiba-tiba,
“Brian? Lucia? Sampai kapan kalian berada di sana? Kakakmu harus segera sarapan. Papa sebentar lagi hendak berangkat ke kantor,” Fransiska berseru dari kejauhan. Membuyarkan obrolan menegangkan antara Lucia dan Brian.
Lucia mendorong kursi roda Brian. Saat itu, keduanya terdiam. Tak saling berbincang. Seakan, mereka menenggelamkan pikiran di dalam benak masing-masing.
******
Pukul setengah delapan pagi.
Brian dan Jonathan berpamitan pergi bekerja. Sementara itu, Fransiska dan Lucia terlihat mengantar dua pria tampan itu ke depan halaman.
“Hati-hati di jalan ya, Pa,” Fransiska berpesan. Menyodorkan tas kerja milik Jonathan.
Sedangkan Brian sedang berbincang sejenak dengan Lucia.
“Lucia, Kakak titip Mauren padamu ya. Nanti sepulang kerja, Kakak akan berkunjung ke sana. Untuk pagi ini, kau harus berangkat menjenguk Mauren. Dan, perihal firasat burukmu tadi, jangan kau hiraukan. Sudah pasti, Mauren akan baik-baik saja. Bukankah kau sering mengatakan hal itu padaku?” Brian berpesan. Memberi pengingat pada Lucia.
Lucia mendecap bibir. Ia merasa bersalah usai menyatakan firasat buruk di dalam hati. Namun, entah mengapa pagi itu perasaan Lucia benar-benar tidak enak. Meski begitu, ia harus berpikiran positif. Bagaimana pun, orang pertama yang akan merasa sedih jika hal buruk menimpa Mauren, adalah Brian. Dan, Lucia tak ingin sang kakak kembali terpuruk dalam penyesalan.
“Baiklah, Kak. Nanti jam setengah sepuluh pagi Lucia akan berangkat ke rumah sakit. Kak Brian tak usah khawatir. Kakak hanya perlu berfokus bekerja saja bersama Papa,” Lucia menyahut. Meski, bibir tipis itu terpaksa berucap beda, dengan firasat buruk di dalam hati.
Tak lama kemudian, deru kendaraan terdengar semakin lirih. Menandakan jika mobil yang dikendarai Jonathan telah pergi.
******
Pukul sepuluh tepat.
Lucia menampakkan diri dari balik ruang berbentuk persegi. Lift penumpang yang Lucia naiki baru saja berhenti di lantai yang ia pijaki. Lucia melangkah cepat. Memasuki kamar perawatan ICU.
Namun, tiba-tiba para dokter dan perawat berhamburan menuju satu sudut ruangan. Lucia membatin heran. Ada apa ini?
Suara code blue rumah sakit baru saja terdengar nyaring di telinga. Sinyal itulah yang membuat para dokter berhamburan menuju salah satu sudut ruang perawatan.
Tiba-tiba,
Seseorang menarik paksa lengan Lucia. Wanita itu spontan menoleh pada sosok yang mencengkram tangannya.
“Priscilla? Apa yang sedang kau lakukan di sini?” Lucia memekikkan suara.
“Untuk apa kau masuk? Percuma saja, Mauren takkan tertolong kali ini,” Priscilla memprovokasi. Wanita itu mengarahkan pandang pada salah satu sudut ruang. Sebuah sudut yang dipenuhi dengan kerumunan.
“TIDAK! Tidak mungkin, Prisc! Pasien yang sedang meregang nyawa itu, pasti bukan Kak Mauren!” putus Lucia. Berusaha acuh pada ucapan Priscilla.