IN BESIDE YOU

1230 Words
Hari semakin larut. William sama sekali tak ingin meninggalkan Mauren seorang diri. Mengingat, takkan ada ayah atau pun ibu yang akan menemani sosok pasien wanita di sana. Tak ada sanak saudara, karena Mauren adalah putri tunggal pasangan Martin Kelton Manopo dan Jessy Alarice. Yakni, sepasang suami istri yang amat gila pada harta. “Will, apa kau yakin tak ingin pulang ke rumah?” Andrew bertanya. Sesaat sebelum pergi meninggalkan ambang pintu kamar yang terbuka. Sembari memasukkan dua tangan ke dalam saku celana, William menyahut ‘tidak’ pada sang sahabat. Pria itu bersih keras untuk menemani Mauren di dalam kamar perawatan VIP. “Baiklah, kalau begitu. Jika kau butuh apa pun, kau bisa menghubungiku,” Andrew berucap. Mengakhiri salam pamit sebelum ia pergi. Sret! Daun pintu kamar kembali bergeser. Tertutup rapat usai mengijinkan salah seorang pria keluar dari dalam ruangan. William menghampiri posisi ranjang Mauren. Wanita berbulu mata lentik itu sedang terlelap dalam tidur. Di sela Mauren memejamkan mata, William memberanikan diri mengusap puncak kepala Mauren. Membenahi posisi rambut yang sedikit terjatuh ke arah dahi. Lalu, berbisik lirih. “Mauren, haruskah aku berkata mencintaimu saat ini? Adilkah jika aku mengungkapkan perasaan di saat kau sedang kehilangan sebagian ingatan?” Tiba-tiba, Mauren menggeliyatkan kepala. William terperangah. Bola mata pria itu melebar. Memastikan jika Mauren tak mendengar apa yang ia ucapkan barusan. Syukurlah. Batin pria itu kemudian. ****** Malam berganti menjadi dini hari. Lagi-lagi, William takkan pergi dari sisi Mauren walau sedetik saja. Pria itu bahkan memilih tertidur dalam keadaan duduk di samping ranjang perawatan. Salah satu lengan atasnya menjadi tempat bersandar. Sedangkan, tangan pada sisi sebelah lagi, ia gunakan untuk menggenggam tangan Mauren. Tiba-tiba, suara petir bergemuruh hebat dari luar ruangan. Mauren hingga terbangun dari posisi tertidur. Bola mata wanita itu mendapati cahaya berpendar dari sela korden yang terbuka. Ia mengerjap. Melengkapi kerlingan bola mata yang semula tertutup rapat. Lalu, mengalihkan pandangan pada seorang pria; yang senantiasa berada di sisi kanan ia berada. Mauren mendecap bibir. Menggeleng pelan. Sesaat usai mendapati William tertidur pulas dalam keadaan kurang nyaman. Lalu, “Will? William?” Mauren membangunkan sang pria. William spontan mengerjap mata. Dan berkata, “Apa ada yang sedang kau butuhkan, Mauren?” pria itu bertanya penuh perhatian. Mauren menggeleng, “Tidak, Will. Aku hanya ingin memintamu berpindah ke sofa. Lihatlah, ada sofa empuk di sana,” wanita itu berucap. Mengalihkan pandangan pada sebuah sudut ruang. Namun, jawaban ‘tidak’ ia dapati dari seorang pria keras kepala. William takkan berpindah, meski Mauren yang meminta. Tuk! Mauren mengetuk kecil puncak kepala William. Mendecap bibir. Lalu mencibir, “Kau itu masih saja binal.” William menanggapi dengan kekehan. Tak peduli saat Mauren mengatai ia keras kepala. Lalu, pria itu meraih puncak kepala Mauren. Mengusap puncak kepala wanita itu dengan penuh kelembutan. “Tidurlah lagi. Ini masih dini hari,” William menasehati. Mauren menolak menuruti perintah William. Ia berkilah jika cacing di perut sedang kelaparan. Pria itu sontak gelagapan. Bingung. Tak tahu harus memberi Mauren asupan apa pada tengah malam. Spontan, ia meraih ganggang telepon rumah sakit. Berniat menekan tombol panggilan keluar. Sstt! Mauren berdesis. Menghentikan pergerakan tangan William. Pria itu mengembalikan ganggang telepon yang semula ia pegang. “Ada apa?” “Kita jangan meminta makanan pada perawat,” Mauren berbisik. Bola mata wanita itu mengisyaratkan suatu hal. William menautkan alis, “Jangan bilang, kau menyuruhku memesan makanan dari luar saja?” tebak pria itu setelahnya. Gurat sumringah semburat di wajah sang wanita. Pasien itu mengiyakan terkaan William yang tak salah. “Bagaimana jika kita memesan pizza saja?” Mauren menyarankan. Issh! “Dasar kau itu ya. Baru saja mengataiku binal. Tapi, kau sendiri juga badung seperti itu. Mana ada pasien rumah sakit, makanannya pizza?” William menyergah. “Sudahlah, pesan saja. Lagi pula, aku pasien pasca kecelakaan bukan pasien penyakit dalam yang tak boleh makan sembarangan kan, Will?” Mauren bersih keras. Mencoba merayu William dengan tatapan membiuskan. Pria itu menghembus napas panjang. Selalu kalah, jika Mauren mulai memandang ia dengan tatapan penuh harap seperti itu. “Baiklah, baiklah. Aku akan memesankan pizza untukmu,” William memutuskan. Meraih ponsel di dalam saku celana. Membuka aplikasi perpesanan makanan di dalam layar. Lalu, memesan menu yang Mauren inginkan. Di sela dua muda-mudi itu menunggu makanan yang mereka pesan tiba, ponsel William kembali bergetar. Pria itu meraih ponsel yang ia letakkan ke dalam saku. Sebuah pesan muncul pada layar telepon genggam. **Brian : “Will, apakah besok kau akan kembali menjenguk Mauren?” William mengerutkan dahi. Sesungguhnya, pria itu bahkan tak pulang ke rumah. Seharian penuh, ia senantiasa berada di samping kekasih sang sahabat. **William : “Benar, memang ada apa?” William membalas singkat pesan dari Brian. Lalu, “Apakah makanan yang kita pesan sudah tiba?” Mauren bersuara. Melirik sekilas pada ponsel yang menjadi titik sibuk William dini hari itu. Issh! “Kau itu, selalu saja tak bisa menahan perut laparmu. Baiklah, kau tunggulah sebentar. Aku akan mengambil pizza itu ke depan,” William menyahut. Berkilah. Padahal, belum ada tanda-tanda pesanan mereka akan tiba. “Bergegaslah,” Mauren menyarankan. William tersenyum. Menepuk singkat puncak kepala Mauren sembari beranjak dari tempat duduk. Lalu, pria itu berjalan keluar kamar. Menyisahkan wewangian maskulin ke dalam indera sang pasien wanita. ****** Di luar kamar perawatan. William memijat pelipis. Sudah pasti, Brian memiliki maksud akan pesan yang pria itu kirimkan baru saja. Kira-kira apa yang hendak ia bicarakan denganku? Tak mungkin, jika Brian membatalkan kesepakatan kami waktu itu, bukan? William menerka. Drrt drrt! Ponsel William berdering. Beruntung, pengantar makanan online sudah tiba. Pria itu bergegas menuju lobi rumah sakit. Hendak mengambil makanan yang sudah ia pesan. Ting! Lift berdenting. William baru saja menapakkan tungkai pada lantai lobi. Pria itu berjalan menghampiri seorang pengantar makanan. Meraih menu yang sudah ia pesan. Namun, seketika pandangannya bertatap dengan beberapa pengawal di kediaman Haryasa. “Apa yang sedang kalian lakukan?” William memekikkan suara. “Maafkan kami, Tuan Muda. Tuan Maxim meminta kami menjemput paksa Anda ke mari,” salah satu pria berbadan kekar menjawab pertanyaan sang majikan muda. Tanpa banyak bicara, beberapa pria tertubuh gempal itu membawa paksa William pulang ke rumah. Mereka menarik lengan William bak hendak melakukan penculik*n pada anak-anak. Lalu, menghempas tubuh William ke dalam sebuah mobil berwarna hitam. “Kalian berani-beraninya melakukan ini padaku?” William berucap dengan penuh amarah. Beberapa pengawal di dalam mobil terdiam. Mereka tak mampu berkata-kata. William memang kerap berbuat baik pada mereka. Namun, tetap saja para pengawal itu bekerja untuk Tuan Besar yang memberi upah pada mereka. Issh! “Kalian ini menyebalkan!” William berdecak kesal. Lalu, pria itu menghubungi Andrew. Berkata, jika ia sedang membutuhkan bantuan. Tut.. tut.. “Halo, Will?” suara serak seorang Andrew terdengar dari seberang. “Drew, aku terpaksa pulang. Papaku membawa para pengawal sialan ini untuk menjemputku dengan paksa. Aku minta tolong padamu. Kau datanglah ke rumah sakit sekarang juga. Dan, bawakan Mauren satu box pizza. Tadi, aku memesankan pizza itu secara online. Tapi, aku tak sempat memberinya pada Mauren. Jadi, tolong bawakan pizza baru yang masih hangat selagi kau menuju ke rumah sakit,” William memberi amanah dengan panjang lebar. Andrew bahkan kesulitan mencerna kata per kata yang William ucapkan. “Drew, apa kau mendengarku?” William berseru. “Baiklah, baiklah,” Andrew menyahut pasrah. Panggilan diantara dua pria itu pun usai. William meletakkan ponsel ke dalam saku celana. Lalu, merebahkan kepala pada dudukkan mobil berwarna hitam. Mendengus kesal. Sang ayah benar-benar otoriter dan kejam.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD