Dini hari itu, kedatangan William telah digantikan oleh sosok Andrew. Namun, sang pasien yang semula berdalih jika cacing di perut mulai kelaparan, nyatanya kembali terlelap dalam tidur. Seraya, ia telah lelah menunggu seorang pria yang tak kunjung tiba; usai berpamitan keluar untuk mengambil pesanan makanan.
Issh!
Dia justru tidur. Batin Andrew, sesaat usai memasuki kamar perawatan yang ia tuju. Pria itu beralih meletakkan satu box pizza pada sebuah meja di sisi sofa. Lalu, merebahkan punggung pada sandaran empuk di sana.
Tiba-tiba,
“Will? Apa kau sudah datang?” Mauren mengeluarkan suara. Bebauan khas dari makanan tersebut membangunkan sang pasien wanita.
“Ini aku, Mauren,” Andrew menyahut. Sesaat sebelum terlelap dalam tidur.
Mauren melongo, “William ke mana, Drew?” wanita itu bertanya. Mengedarkan pandangan.
Sementara itu, Andrew beranjak dari sofa. Membawa satu box pizza ke tepi ranjang.
“Ini, kau makanlah saja dulu,” pria itu berucap. Menarik ganggang kursi. Lalu, terduduk di samping ranjang perawatan.
Mauren segera meraih box pizza yang Andrew bawa. Lalu, melayangkan satu slice ke dalam mulut.
“Mengapa kau tak menjawab pertanyaanku, Drew? William pergi ke mana?” Mauren mengulang pertanyaan. Bibir wanita itu masih mengatup. Mengunyah makanan.
Issh!
“Kau itu tak bisa jauh sedikit saja ya dari William?” Andrew bergumam.
“Huh?” Mauren mendongakkan dagu. Seraya ingin mengkonfirmasi gumaman Andrew saat itu.
“Ti-tidak, aku tidak berkata apa-apa. William hanya berpesan padaku, untuk membawakan pizza ini untukmu. Dia harus pulang ke rumah.”
Mauren mengerutkan dahi. Memandang jam dinding berbentuk bundar di dalam ruang.
“Mengapa tiba-tiba ia pulang saat tengah malam begini, Drew?” Mauren bertanya polos. Masih dengan mulut yang dipenuhi oleh makanan.
“Seperti yang kau tahu, Om Maxim itu bisa bertindak apa saja,” Andrew menyahut santai. Memberi informasi.
Mauren melebarkan bola mata, “Maksudmu, William baru saja dipaksa pulang oleh Om Maxim?”
Andrew memicingkan mata, “Mauren, apa kau mengingat Om Maxim?” pria itu bertanya memastikan.
Mauren mengangguk cepat, “Tentu, tentu saja aku ingat padanya. Dia itu seorang ayah yang kejam. Bagaimana bisa ia menghalangi cita-cita dan keinginan anak semata wayangnya?”
Andrew menarik sudut bibir. Menganggukkan kepala berulang kali. Merasa heran karena Mauren mengingat sosok Maxim saat itu.
Demi menghilangkan rasa penasaran, Andrew kembali melontarkan pertanyaan.
“Mauren?”
“Hhm?”
“Apa kau benar tak mengingat Brian? Brian Stevan Wijaya?”
Mauren menghentikan kunyahan. Lalu, menatap manik mana Andrew. Dan berkata, “Apa pria itu adalah seorang aktor di dalam drama atau film, Drew?”
Spontan, Andrew menepuk jidat. Mauren bak sedang bergurau dengan raut datar. Membuat Andrew sadar, jika Mauren benar-benar tak mengingat sosok Brian.
Setelahnya, Andrew memilih memanggutkan kepala. Tak ingin membuat sang pasien kembali mengeruk memori lama. Mengingat, dokter berkata, jika pasien wanita itu tak boleh terbebani oleh ingatan yang terlalu dipaksa.
Beberapa saat kemudian.
Usai merasa kenyang, Mauren menutup box pizza yang menyisahkan setengah slice di dalamnya. Andrew menggeleng tak heran. Kekasih Brian itu memang hobi sekali makan. Beruntung, tubuh Mauren tetap proporsional. Mendukung aktivitas kuliner yang sangat ia sukai pada beberapa tahun belakangan.
******
Tak terasa, mentari mulai menampakkan diri.
Mauren membangunkan Andrew yang semalaman merebahkan tubuh di sofa.
“Drew? Andrew?” Mauren berseru.
Hhm!
Andrew berdehem berat. Kelopak pada mata masih enggan terbuka.
“Drew, bisakah kau membuka korden itu untukku?” Mauren meminta.
Dengan gerak terpaksa, Andrew melangkah menuju sebuah kaca tembus pandang di sana. Membuka sebagian korden di dalam ruang. Mengijinkan sinar matahari merasuk ke dalam netra seorang pasien di sana.
“Drew?” Mauren kembali berseru.
Andrew menoleh, “Ada apa? Apa kau perlu sesuatu? Atau, perutmu itu sudah mulai lapar lagi?”
Mauren mendecap bibir.
“Bukan itu,” wanita itu menyahut.
“Lalu?”
“Sedari kemarin, aku lupa menanyakan ponselku pada William. Apa kau bisa memberi tahuku, di mana ia meletakkan ponsel milikku itu?”
Andrew melengos. Lalu, memberi penjelasan, “Mauren, apa kau lupa? Kau itu pasien pasca kecelakaan mobil. Sudah pasti, ponselmu turut rusak saat kau mengalami kecelakaan.”
“Lagi pula, kau hendak menghubungi siapa? Ini, sementara gunakan saja ponsel milikku,” Andrew menyarankan. Menyodorkan ponsel berukuran sedang.
Mauren spontan menggeleng cepat. Andrew mengerutkan dahi sebagai tanda tak mengerti.
“Aku tak tahu hendak menghubungi siapa. Aku bahkan tak ingat siapa keluargaku,” pasien itu berucap.
“Hah?” Andrew memekikkan suara.
Usai dipikir-pikir, cukup logis jika Mauren melupakan Martin dan Jessy. Mengingat, sepasang suami istri itu tak pernah ada di samping Mauren. Sama sekali tak pernah. Baik di masa lalu, mau pun masa kini. Masa sebelum kecelakaan nahas itu terjadi.
“Drew?” Mauren berseru untuk kali kedua. Memecahkan lamunan Andrew.
“Ada apa lagi?”
“Apa kau tahu perihal bekas luka di belakang kepalaku? Memang, kecelakaan itu mengharuskanku menjalani operasi di kepala?” Mauren bertanya. Sesaat usai ia mengingat hal aneh sewaktu menyentuh sisi belakang kepalanya.
Andrew menangkupkan dahi pada kepalan tangan. Apa William tak menjelaskan apa pun pada Mauren perihal kondisinya itu? Issh! Pria itu benar-benar menambahi beban pikiranku saja.
“Drew?” Mauren kembali berseru.
“Kecelakaan yang kau alami itu benar-benar parah, Mauren. Kau harus dioperasi dua kali. Dan, bahkan kau sempat mengalami koma.”
“APA?” Mauren memekikkan suara.
Andrew mengangguk pelan. Menatap wajah sang pasien wanita yang sedang tercengang.
Tak lama kemudian, seorang perawat masuk ke dalam ruang. Mengecek kondisi vital pasien. Lalu, mengarahkan pengantar makanan untuk meletakkan nampan.
“Terima kasih ya, Sus,” Andrew berucap.
Mauren masih terdiam.
Melihat raut bingung di wajah Mauren, Andrew spontan berkata, “Sebaiknya, biar William saja yang menjelaskan kondisimu. Aku tak bisa memberi banyak penjelasan. Sudah pasti, kau akan mencercaku dengan beragam pertanyaan. Dan, kau tahu sendiri, aku paling tak tahan dihujam pertanyaan seperti itu.”
Mauren mengerutkan seluruh garis di wajah. Memasang muka masam. Lalu, menyahut pasrah, “Baiklah, nanti aku akan bertanya pada William.”
“Ya sudah, kalau begitu kau sarapan pagi dulu saja. Setelah kau selesai makan, aku akan berpamitan pulang. Kau tak apa kan, jika kutinggalkan sendirian?” Andrew memutuskan. Meraih nampan berisi makanan. Lalu, menyiapkan makanan itu ke atas meja lipat yang ada di ranjang perawatan.
“Tak apa, Drew. Aku tahu, aku pasti telah banyak merepotkan kalian. Tak seharusnya, aku melakukan hal itu,” Mauren berujar pelan. Menunduk sedih. Namun, ia tak tahu apa yang membuat ia merenung seperti itu.
Sesungguhnya, Mauren tak mengingat masa-masa menyedihkan yang pernah ia alami. Yakni, masa ketika ia seorang diri usai ditinggalkan oleh Martin dan juga Jessy.
******
Lima belas menit kemudian.
Daun pintu kamar terbuka. Seorang wanita cantik menampakkan diri. Membuat Andrew melebarkan bola mata. Mengembalikan semangat di dalam d**a.
“Lucia, apa kau datang ke mari untuk menjumpaiku?” Andrew bertanya sumringah.
Issh!
“Enak saja. Tentu tidak! Aku ke mari untuk menjumpai Kak Mauren. Kak Brian menyuruhku untuk menemani Kak Mauren selagi ia berangkat bekerja.”
Andrew mendecik lirih. Berpura-pura sebal pada tanggapan Lucia. Lalu, berpamitan pergi dengan langkah gontai. Berjalan keluar ruangan. Menghirup napas lega usai semalaman merasa bosan berada di dalam kamar perawatan.
Sementara itu, Lucia mendekat ke arah Mauren. Namun, pasien wanita itu justru memandang kikuk pada sosok wanita muda yang tak ia kenal.
“Tenanglah, Kak. Ini aku Lucia Stevani Wijaya. Aku ini wanita baik-baik. Takkan mencampur obat-obatanmu seperti di dalam adegan drama,” Lucia berucap. Menambahkan gurauan.
Spontan, Mauren merekahkan senyuman.
“Tapi, sebenarnya kau itu siapa? Apa kau adikku? Atau, kau temanku?” Mauren bertanya polos. Sesekali, menelengkan kepala. Berusaha menerka.
Lucia terkekeh. Meski, batin wanita itu merasa sedih. Bagaimana bisa, Kak Mauren kehilangan sebagian memorinya seperti itu? Lantas, bagaimana nasib kakakku nanti?
“Ehm, atau kau adalah kekasih Andrew?” Mauren kembali berceletuk. Sesaat usai tak mendapati tanggapan dari lawan bicara.
“Ck, kau itu bisa saja, Kak. Mana mungkin aku berpacaran dengan Kak Andrew. Bisa-bisa kami akan menjadi sering bertengkar,” Lucia menyahut geli.
“Sebenarnya, aku ini penggemarmu, Kak,” Lucia menambahkan.
Mauren terbahak, “Mana mungkin aku memiliki penggemar? Seingatku, aku hanya wanita kantoran biasa. Bukan aktris atau pun selebgram.”
Lucia mendecap bibir. Lalu, menyahut tak terduga.
“Aku benar-benar penggemarmu, Kak. Semenjak kau menjadi kekasih Kak Brian, kakakku yang dingin itu perlahan bisa tersenyum. Dan, saat kutahu kekasihnya itu adalah kau. Aku menjadi paham mengenai alasan Kak Brian begitu mencintaimu. Kau itu, wanita yang tangguh, baik hati, mandiri dan amat ceria. Aku pun jadi menyukaimu. Menggemarimu.”
Mendengar ucapan Lucia baru saja, Mauren spontan menyipitkan mata. Sebuah tanggapan keki yang ia beri pada sosok wanita yang menjadi lawan bicara.
“Apa yang sedang kau katakan? Aku ini tak memiliki kekasih,” Mauren menyahut. Alis wanita itu bertaut tiada henti.