Di kediaman Haryasa.
“Kau hendak pergi ke mana lagi, William?” suara berat seorang pria terdengar.
Pemuda tampan yang baru saja menginjakkan tungkai di lantai bawah, spontan menghentikan langkah. Memutar tubuh. Mengarahkan pandangan pada sumber suara.
“William akan pergi ke rumah sakit,” pemuda itu menyahut. Tak ada sedikit pun gurat rasa takut.
Maxim beranjak dari duduk. Pria dewasa itu menghampiri sang putra semata wayang.
“Kau itu hanya bisa keluyuran. Papa sudah berkata padamu, berfokuslah pada perusahaan. Setidaknya, lakukan hal itu jika kau tak mau masuk sekolah kedokteran. Alih-alih menurut, kau justru membuang waktu untuk menjaga seorang wanita di rumah sakit. Memang, kau itu perawat? Hingga harus menjaga wanita itu dua puluh empat jam?”
“Pa, bagi William, Mauren bukan sekedar seorang wanita. Bagi William, Mauren adalah segalanya,” pemuda itu menyanggah.
“Omong kosong macam apa itu, William? Kau jangan mencintai wanita sebesar itu. Apa kau lupa, kau tak pernah mendapat kasih sayang dari seorang wanita mana pun? Maka dari itu, jangan berlaga menyebut wanita itu segalanya untukmu.”
Issh!
“Terserah Papa sajalah. William tak peduli dengan ocehan Papa,” pemuda itu melanjutkan langkah. Kembali membantah.
“Will? William?” Maxim berteriak.
“Jika kau tak mau menurut pada Papa, maka pergilah saja dari rumah ini,” Maxim berucap.
Jadi, pria itu mengusirku? Batin William. Menelengkan kepala. Tak peduli pada ancaman sang ayah. Dan, justru melanjutkan langkah.
Tak lama kemudian, deru kendaraan terdengar. Ban pada mobil sport berwarna biru gelap itu berdecit hebat. Sang pengemudi melajukan mobil dengan cepat.
Di dalam perjalanan.
Tut.. tut..
William menekan tombol panggilan keluar. Menujukan panggilan tersebut ke nomor Brian. Usai berkirim pesan singkat kemarin malam, dua pria tersebut memutuskan bertemu. Hanya saja, William takkan berkata, jika ia hendak menjumpai putra Jonathan Wijaya pada sang ayah. Bisa-bisa, Maxim akan kembali membanding-bandingkan ia dengan Brian Stevan Wijaya.
Setelah dering ketiga, panggilan terangkat dari seberang. Suara berat Brian terdengar.
“Halo, Will?”
“Brian, aku sedang berada di perjalanan menuju ke rumahmu. Apa kau masih berada di rumah?” William bertanya. Menatap dasbor mobil yang menunjukkan pukul setengah tujuh pagi di dalam layar.
“Tentu saja. Kau ke marilah. Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu.”
“Baiklah, sepuluh menit lagi aku akan tiba. Ah! Tidak, mungkin lima sampai tujuh menit saja,” William menginformasikan. Lalu, mengakhiri panggilan. Kembali menancap pedal gas melebihi kecepatan sedang.
Brum!
Cit!
Ban mobil kembali berdecit. Tepat lima menit usai panggilan berakhir. Yah! Selain jarak rumah mereka yang tak terlalu jauh, kecepatan mobil sport William, mendukung pria tersebut untuk segera sampai pada tujuan.
Usai memencet bel pada daun pintu rumah, seorang pelayan mempersilahkan William untuk masuk ke dalam.
Saat itu, keluarga Wijaya sedang makan bersama di meja makan. Sebuah aktivitas yang tak pernah William lakukan bersama kedua orang tua di rumah.
Bayangan Brian muncul dari balik tembok sebuah ruang. Pemuda itu mengarahkan sang sahabat untuk menuju ruang makan.
“Kau pasti belum sarapan, bukan? Makanlah bersama kami, selagi kau tiba di pagi hari,” Brian menyarankan.
William tak ada pilihan. Melanjutkan langkah mengikuti sosok Brian.
“Eh, ada nak William. Ke mari, nak. Kita sarapan pagi bersama,” Fransiska menyapa.
Jonathan dan Lucia memandang William yang baru saja tiba. Pria itu duduk tepat di samping sang sahabat. Lalu, memulai aktivitas sarapan pagi bersama.
Di tengah mereka menyantap makanan, Jonathan menanyakan keadaan perusahaan Haryasa pada William. Sontak, Brian mengisyaratkan mata pada sang ayah. Berharap Jonathan dapat memahami kode yang ia berikan.
“Tidak, Brian. Tak apa-apa. Papamu hanya bertanya,” William menyergah.
“Untuk persoalan perusahaan, William tak tahu menahu, Om. William sama sekali tak berniat bekerja di sana,” William melanjutkan ucapan. Memberi jawaban pada Jonathan.
Jonathan mengangguk mengerti. Merasa bersyukur, saat sang putra justru menawarkan diri untuk bekerja di perusahaan Wijaya. Pertanda, Jonathan tak perlu bingung mencari penerus perusahaan kelak. Sudah pasti, Brian akan melanjutkan posisi CEO-nya di perusahaan.
Tak terasa, sarapan pagi telah usai.
Brian dan William berpamitan pergi lebih dahulu dari dalam ruang makan.
“Apa yang hendak kau bicarakan denganku, Brian?” William bertanya. Sesaat usai mereka berada di ruang tengah.
“Aku tak sengaja melihat interaksimu dan Andrew pada Mauren. Dan, aku sudah memikirkan banyak hal. Aku ingin kita sama-sama berjuang dari awal. Aku tahu, ini akan menjadi persaingan yang ketat bagiku. Namun, kesehatan Mauren dan kebahagiaan Mauren jauh lebih berarti untukku. Aku tak ingin Mauren terpaksa mengingat sosokku. Jadi, biar saja semua mengalir seperti tak terjadi apa pun diantara kami.”
William melongo. Apa aku tak salah dengar? Aku kira, Brian akan membatalkan kesepakatan kami waktu itu. Tapi, justru tidak.
“Apa yang sedang kau pikirkan, Will? Apa kau tak setuju? Apa kau ingin aku berubah pikiran saja?” Brian bersuara. Memecah lamunan singkat seorang pria di hadapannya.
“Tidak! Tentu saja, aku setuju dengan hal itu. Tapi, apa kau benar baik-baik saja? Bukankah, posisimu sekarang akan jauh merugikan untukmu? Sosokmu tak diingat oleh Mauren. Bukankah, memberi tahu siapa kau yang sebenarnya, akan jauh lebih menguntungkan?” William melempar pertanyaan. Berniat memastikan keputusan Brian.
Brian menggeleng pelan. Lalu berucap, “Aku sudah bulat dalam memutuskan hal itu, Will. Setelah aku pikir-pikir, aku memang cukup egois. Seharusnya, aku tak meninggalkan Mauren pergi ke Inggris. Seharusnya, aku bisa menjadi dirimu yang apa adanya. Lagi pula, menjadi mapan itu tak melulu harus bekerja sebagai seorang Manajer Perusahaan. Aku merasa malu padamu, Will. Andrew bercerita, jika selama aku pergi, kau berhasil mewujudkan cita-cita dalam membuka studio band. Kau juga sudah menjadi pebisnis di dunia musik. Seharusnya, aku mencontohmu. Dengan begitu ini semua takkan terjadi. Dan, aku akan selalu berada di samping Mauren. Namun, nyatanya aku justru memilih pergi. Aku tak melakukan hal, sama halnya yang sudah kau lakukan itu.”
Hhh,
William menghembus napas panjang. Ia tak tahu harus berkata apa untuk menanggapi curhatan sang sahabat.
“Tapi, Will. Aku harus memastikan satu hal. Kau benar-benar mencintai Mauren, bukan?” Brian menambahkan.
“Tentu saja!” William menyahut cepat.
“Aku bahkan tak bisa menahan rasa sesak saat mendapati Mauren merindukanmu. Aku hampir ingin terbang ke Inggris dan memukulmu. Kau itu benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa, berkata mencintai seorang wanita, tapi kau bahkan tak memberi kabar meski satu kali saja dalam sehari, bagaimana bisa kau tega melakukan hal itu?” William melanjutkan ucapan.
Brian terdiam.
Di lubuk hati terdalam. Ia amat menyesal. Usai introspeksi diri, ternyata apa yang ia lakukan hanya sekedar obsesi pribadi. Sebuah obsesi untuk lulus dari perguruan tinggi di luar negeri. Lalu, melanjutkan jabatan sebagai seorang Manajer pada perusahaan terbesar nomor dua di dunia. Nyatanya, Brian tak sepenuhnya pergi untuk menepati janji pada sang kekasih. Dan, hal itu membuat Brian tersadar. Jika, apa yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan terbesar.