Usai berbincang, dua orang pria tampan itu saling berpamitan. Brian hendak pergi ke perusahaan, sedangkan William akan menjumpai sang pujaan.
Deru kendaraan terdengar bersamaan. Mobil yang dikemudikan oleh Jonathan, melaju meninggalkan halaman. Diikuti oleh mobil sport milik William.
Di dalam perjalanan, Brian tak henti memijat pelipis. Sesaat usai pria itu menggulir layar pada telepon genggam.
“Apa ada yang sedang mengganggu pikiranmu, Brian?” Jonathan bertanya. Membuyarkan keheningan.
“Brian hanya sedang memikirkan Mauren, Pa. Brian amat menyesal karena sudah meninggalkan ia seorang diri di Indonesia.”
“Omong kosong macam apa itu, Brian? Mauren tak seorang diri. Ia bahagia sekali berada di sini. Ia juga sering berkunjung ke rumah. Melakukan hobi yang sama dengan Mamamu. Sesekali, mereka juga pergi berbelanja bersama. Dan, Mauren juga memiliki banyak teman. Ada William dan Andrew yang selalu setia bak pengawal kekasihmu itu. Apa selama kau berada di Inggris, kau sengaja meminta mereka berjaga ketat di samping Mauren, Brian?” Jonathan menyahut panjang lebar. Merekahkan tawa. Mengingat, masa muda-mudi yang sedang dijalani oleh sang putra dan para sahabat pria.
Hhh!
Alih-alih menyahut ucapan sang ayah, Brian justru menghela napas. Helaan itu dipenuhi dengan gurat bercampur aduk di wajah.
Tak lama kemudian,
Drrt drrt!
Ponsel Brian bergetar. Memunculkan nama seorang wanita di dalam layar.
“Halo, Prisc. Ada apa?” Brian menyahut panggilan.
“Kau sedang berada di mana, Brian?”
“Aku sedang berada di perjalanan menuju perusahaan. Aku hendak berangkat bekerja. Sudahlah, kau jangan menghubungiku jika tak ada hal mendesak,” Brian berucap dingin. Beralih menekan tombol mengakhiri panggilan.
Priscilla sontak berdecak sebal di seberang.
******
Beberapa saat kemudian.
Jonathan menepikan mobil. Memarkir rapi mobil berjenis SUV pada halaman khusus para atasan perusahaan. Setelah itu, ia membantu sang putra keluar dari dalam mobil miliknya.
Dua pria berbeda usia itu memasuki lobi perusahaan bersama-sama. Namun, seketika langkah mereka terhenti. Sesaat usai mendapati seorang wanita muda menunggu pada sebuah sofa di sana.
“Brian?” Priscilla berseru lantang.
Jonathan spontan meninggalkan sang putra. Memberi waktu pada dua muda mudi yang hendak berbicara.
“Mengapa kau menghampiriku ke mari?” Brian bertanya. Nada pria itu dingin bak es balok di kutub utara.
“Ada hal serius yang hendak aku bicarakan padamu,” Priscilla berucap. Berekspresi seolah hal itu benar-benar tak bisa Brian lewatkan.
Brian memanggutkan kepala. Lalu, memberi kesempatan pada Priscilla untuk berbicara.
“Jadi, ada apa?”
“Jadi, begini. Mommyku memintaku melanjutkan S2 di Inggris. Aku mau kau kembali terbang bersamaku ke sana,” wanita itu berucap tanpa basa-basi.
Sedangkan Brian sontak mengerutkan dahi, “Apa kau bercanda? Untuk apa aku ikut terbang bersamamu? Lagi pula, aku belum berniat melanjutkan S2-ku di sana.”
Priscilla menampakkan wajah yang dipenuhi oleh gurat amarah.
“Apa kau memutuskan hal itu karena kondisimu? Kau tenang saja. Aku akan setia merawatmu selagi kita tinggal di Inggris,” Priscilla meyakinkan Brian.
“Ck, kau ini ada-ada saja. Aku takkan terbang ke Inggris karena aku ingin berada di sini. Selain untuk bekerja, aku juga akan setia menemani kekasihku,” Brian menyahut. Terkekeh geli dengan pernyataan Priscilla.
Lagi pula, kau kira, aku anak kecil yang harus dirawat dikala sakit seperti ini? Aku bisa mengurus diriku sendiri. Brian membatin. Mengejek Priscilla di dalam hati. Sungguh, Brian tetap mandiri. Meski, ia belum bisa bergerak bebas akibat tungkai yang masih terbalut gips berwarna putih.
“Tapi, Brian. Aku tak ingin jauh darimu,” Priscilla berucap. Berniat mengungkapkan perasaan pada Brian.
Alih-alih segera menjawab, Brian justru mendekatkan wajah pada Priscilla. Lalu berbisik, “Tapi, aku tak ingin dekat-dekat denganmu. Kau itu wanita licik yang sempat berniat menjauhkan aku dari Mauren.”
DEG!
Priscilla terkejut. Ia tak menyangka, jika William benar-benar ingkar janji. Mengingat, persekongkolan itu hanya diketahui oleh dirinya dan William saja.
Awas saja kau, Will. Priscilla membatin geram.
Setelahnya, Brian menggerakkan kursi roda dengan kedua tangan. Pria itu tak berpamitan. Bergegas menuju lift untuk menaiki lantai yang hendak ia tuju.
Tiba-tiba,
“BRIAN? Brian? Kau harus ikut bersamaku. Aku takkan bisa jauh darimu. Brian aku mencintaimu,” Priscilla berseru.
Wanita itu memekikkan suara. Ia bertindak seolah tak memiliki gurat malu di wajah.
“Brian?” Priscilla terus memanggil. Berlari menghampiri posisi Brian.
Ting!
Lift baru saja berdenting. Terbuka, membawa masuk seorang pria ke dalam ruang berbentuk persegi.
Spontan, Priscilla mencekal pergerakan lift yang hendak tertutup.
“Aku takkan melepaskanmu, Brian,” wanita itu berucap dengan penuh penekanan.
“Prisc, sekarang coba kau lihat ke arah belakang,” Brian menyahut. Melirik ke sisi belakang wanita yang menjadi lawan bicara.
“Mommy?” Priscilla berdecak. Mengalihkan perhatian yang semula tertuju pada Brian.
Lift tertutup. Sesaat usai Priscilla melepaskan cekalan tangan.
“Brian?” Priscilla berseru. Menoleh. Memandang lift yang telah bergerak ke arah atas.
“Ini semua gara-gara Mommy,” Priscilla membentak. Memandang sang ibunda dengan tatapan penuh amarah.
Tanpa banyak bicara, para pengawal pribadi yang dibawa oleh Karell, spontan membawa paksa putri semata wayang. Bergerak bersama-sama menuju keluar lobi perusahaan.
“Mom, mengapa Mommy tega melakukan ini padaku? Lihatlah, pria-pria ini mencengkram lenganku dengan kasar,” Priscilla tak henti berteriak. Terus membuat kegaduhan. Memunculkan gurat sungkan di wajah Karell. Tentu, ia merasa malu pada beberapa pasang mata yang menyaksikan.
“Cepatlah!” Karell memerintah. Sesaat usai beradu tatap dengan salah seorang pengawal.
Tanpa menunggu lama, para pengawal itu membawa tubuh Priscilla masuk ke dalam sebuah mobil berukuran besar. Mobil berwarna hitam itu segera melaju usai diduduki oleh beberapa penumpang.
“Mom? Mommy tak boleh menghalangi kisah cintaku bersama Brian. Aku benar-benar mencintainya,” Priscilla berujar. Mengepalkan tangan.
“Cinta?” Karell menyahut ketus.
“Kau itu masih terlalu muda untuk terjebak di dalam ikatan cinta, Priscilla. Pokoknya, mau tak mau setelah ini Daddy dan Mommy akan mengirimmu kembali ke Inggris,” Karell berdalih. Menyelipkan ancaman pada sang putri.
Cih!
Kirim saja aku. Sesampainya di sana, aku takkan melanjutkan kuliah. Aku akan diam-diam kembali ke Indonesia. Priscilla membatin. Memunculkan seringai licik di wajah.
“Apa yang sedang kau pikirkan, Priscilla?” Karell bertanya.
“Apa kau sedang berencana untuk kabur usai sampai di Inggris nanti?” sang ibu muda itu menerka.
“Jika Mommy sudah tahu, maka Mommy tak perlu melakukan hal itu. Semua akan menjadi sia-sia saja untuk Mommy,” Priscilla berbisik. Menyipitkan mata. Berisyarat akan terus membantah.
Hhh!
Karell mendengus. Menarik sudut bibir ke arah atas. Membentuk gurat tak akan mengalah.
“Kau coba saja untuk kabur. Lagi pula, Mommy akan membawa mereka bersamamu,” Karell melirik para pengawal di dalam mobil yang sama.
Priscilla membelalakkan mata. APA?
“Mommy akan memastikan jika kau tak bisa kabur ke mana pun, Prisc. Mommy akan membuatmu lulus S2 di Inggris. Jadi, kau jangan bertindak macam-macam. Jika, Daddymu mengambil alih keputusan Mommy, sudah pasti dampak yang akan terjadi padamu lebih besar dari resiko yang kau dapati atas tindakan Mommy,” Karell melanjutkan ucapan.
Priscilla memberenggut. Memasang wajah masam.
******
Tak terasa deru kendaraan terdengar lirih.
Kini, ibu dan anak tersebut telah sampai halaman rumah. Para pengawal melanjutkan pekerjaan mereka. Membawa masuk seorang anak perempuan yang suka membangkang ke dalam rumah.
“Lepaskan!” Priscilla memerintah.
Namun, Karell takkan membiarkan sang putri kabur begitu saja. Usai menapak ke dalam rumah, tandanya wanita muda itu akan terkurung di dalam sana.
Mommy tega sekali. Priscilla membatin. Sesaat usai menjumpai beberapa pengawal lain di dalam rumah. Pengawal itu sudah pasti akan Karell pekerjakan dua puluh empat jam. Bertugas menjaga seorang putri di sana. Tentu, agar Priscilla tak pergi keluar sebelum hari keberangkatan ia untuk berkuliah S2.
Sesampainya di dalam kamar.
Priscilla memijat pelipis yang terasa pening. Ia tak henti menggigit bibir. Berjalan mondar-mandir. Aku harus melakukan sesuatu.