A BITTERNESS

1385 Words
Mobil sport yang dikendarai oleh Andrew baru saja tiba di halaman depan kediaman Wijaya. Dua orang pria tampan terlihat bersandar pada badan mobil milik William. Pria dingin bernama lengkap William Rengga Haryasa itu memang memiliki ketampanan luar biasa. Bahkan, paras sempurna tersebut menandingi wajah Brian yang memesona. Ditambah dengan gerak tubuh bersindekap; pria bertinggi seratus delapan puluh delapan centi itu terlihat keren nan gagah. “Will, pokoknya kau harus membicarakan perihal rahasia yang kau sembunyikan dari Brian,” Andrew mengingatkan. Pria serampangan itu menatap tajam manik mata William. Hhh! William menghela napas panjang. Selama empat tahun, ia selalu berada di samping Mauren; saat Brian tak ada. Selama itu pula, William-lah yang senantiasa melepas sepi nan sedih yang Mauren rasa. Namun, kedatangan Brian usai menuntaskan kuliah di negeri sebelah, membuat William tak dapat berbuat apa-apa. Pria itu harus mengikhlaskan wanita yang berhasil merasuki relung di hati. Yah! Selama itu, William memiliki rasa pada Mauren. Wanita berbulu mata lentik tersebut sudah mengisi hari-hari William yang kerap tak berwarna. Hanya saja, selama empat tahun, William tak pernah mengungkap perasaan itu pada Mauren. Jika mengingat memori perihal sosok Mauren? Ah! Wanita itu terlalu naif. Bagaimana bisa ia amat setia pada Brian yang jarang berkirim kabar dengannya? William sungguh merasa tak adil. Sesekali pria itu geram dan marah. Namun, lagi-lagi William hanya bisa terdiam. Mauren tak pernah tahu mengenai apa yang William rasa. Hanya Andrew-lah yang senantiasa mengerti perasaan pria dingin bernama William. Tak lama kemudian, mobil mini hatchback milik Lucia menampakkan badan mobil di sana. William dan Andrew menyudahi obrolan mereka. Beranjak dari posisi bersandar. Lalu, menyambut kedatangan Brian. Lagi-lagi, Brian membutuhkan bantuan. Dan, William-lah yang kembali membantu sosok pria itu. “Thanks, Will,” Brian berucap terima kasih untuk kali kedua. Setelahnya, mereka beranjak masuk ke dalam rumah. Namun, William sontak menghentikan langkah. Sebuah panggilan masuk merayap ke dalam ponsel miliknya. “Kau masuklah dulu,” William berkata pada Andrew. Mengisyaratkan agar sahabatnya itu beralih masuk bersama Brian dan Lucia. Lalu, William menggulir tombol menjawab panggilan pada layar yang menyala. Sebuah layar yang menampilkan nama Priscilla di sana. “Hallo, Prisc? Ada apa? Mengapa kau meneleponku?” William bertanya. “Aku dengar, kalian sedang berkunjung ke rumah Brian?” Priscilla mengkonfirmasi kebenaran. “Jika iya, lantas mengapa? Lagi pula, kau tahu dari mana jika aku dan Andrew datang ke mari?” “Tadi, Brian sempat meneleponku. Dia bilang, kalian akan berkunjung. Sudahlah, itu tak penting. Yang terpenting, kedatanganmu ke rumah Brian bukan untuk membicarakan perihal rahasia kita, kan?” Priscilla menyelidik tajam melalui pantulan suara. William terdiam. Pria itu tak memberi jawaban. “Sudahlah, itu semua terserah padaku.” Tut! Tut! Tut! Panggilan terputus. William sengaja mengakhiri telepon secara sepihak. Pria itu tak tahan dengan semua desakan yang Priscilla beri. Dahulu, lebih tepatnya empat tahun lalu. Bertepatan dengan Brian dan Priscilla yang baru masuk kuliah, Priscilla mengetahui fakta, jika teman kampusnya itu merupakan sahabat dari putra salah satu kolega sang ayah. Yah! Ayah Priscilla dan William merupakan kolega kerja. Mereka berdua sudah lama bermitra di dalam dunia bisnis yang sama. Mengingat, Priscilla cukup dekat dengan William, pada akhirnya wanita itu memberanikan diri untuk mengajak William bersekongkol. Yakni, untuk memisahkan Brian dan Mauren. Bagaimana tidak, sejak awal berjumpa, Priscilla sudah memendam perasaan pada Brian. Dan, seperti kata Lucia, Priscilla Keana Marioline merupakan seorang wanita yang hobi sekali merebut kekasih wanita lain. Sehingga, bagaimana pun caranya, wanita itu harus mendapati hati seorang Brian. Detik itu juga William menerima tawaran Priscilla. Entah mengapa, William berpikir ia dapat memanfaatkan tawaran itu untuk membalas dendam pada Brian. Meski bersahabat, nyatanya hubungan dua pria itu sempat tak akur untuk beberapa saat. Sebuah masalah pribadi, membuat William menyematkan dendam. Tiba-tiba, Bruk! Suara benda terjatuh terdengar, sesaat usai William memasukkan ponsel ke dalam saku celana. Pria itu bercelingukan. Memastikan tak ada orang lain yang mendengar pembicaraan ia dengan penelepon di seberang. William melanjutkan langkah yang semula terjeda. Manik mata pria itu melihat Brian dan Andrew sedang duduk bersama di sofa. William menghampiri mereka berdua. “Ngomong-ngomong, kalian tahu dari mana jika aku dan Mauren mengalami kecelakaan?” Brian berceletuk tiba-tiba, sesaat usai melihat William menjejalkan p****t di sofa. Andrew menggaruk tengkuk yang tak gatal. Menggerak-gerakkan tungkai yang ia lipat dengan gusar. “Kami tahu dari Mama dan Papa-mu,” William menyahut. Pria itu mewakili Andrew yang tergagap. Andrew bernapas lega. Mengapa aku tak terpikirkan akan jawaban itu? Andrew bergumam. Brian mengangguk. Sebenarnya, usai Lucia bertanya perihal hubungan William dan Priscilla, pria itu menjadi penasaran. Mengingat, Priscilla adalah seorang teman yang ia jumpai sewaktu berkuliah di Inggris. Sedangkan, William dan Andrew sudah jelas menetap di Indonesia. Namun, masa kini yang sudah disertai dengan teknologi canggih, membuat hubungan William dan Priscilla menjadi tak aneh. Mereka bisa saja berkenalan melalui sosial media. Atau, mereka memang saling mengenal sebelumnya. Atau? Ah! Sudahlah, Brian pada akhirnya mengakhiri terkaan. “Kalian ingin minum apa?” Brian bertanya. Mengalihkan isi pertanyaan di kepala. Tak mau tahu dengan hubungan William dan Priscilla. “Latte dingin,” Andrew menyahut. Pada saat bersamaan, Lucia muncul bersama seorang pelayan. Pelayan itu membawa nampan. Dua cappucino dingin dan satu latte yang juga berisi bongkahan es menjadi pelengkap. Lucia sengaja meminta pelayan membawa minuman kesukaan tiga orang pria di sana. “Wah, kau memang calon istri idaman, Lucia,” Andrew berceletuk. Brian spontan mengarahkan tongkat jalan ke arah Andrew. Mengetuk pria pecicilan itu dengan batang tongkat yang menjulang panjang. Issh! Andrew berdesis, “Biasa aja kali, bro! Kau itu masih saja posesif pada Lucia dan Mauren,” Andrew mencibir. Teringat pada sosok Brian yang amat over protektif pada dua orang wanita di sisinya. William mendengus. Mendengar hal itu, ia kembali geram. Merasa tak dapat berbuat apa-apa pada rasa terpendam yang ia punya. Brian tak mungkin melepaskan Mauren. Pria itu bersimpul kemudian. “Sekali pun Kak Brian tak protektif padaku, aku juga takkan mau menjadi kekasihmu,” Lucia menyahut. Meledek Andrew dari seberang tempat duduk. Sementara Lucia dan Andrew saling bersahut-sahutan. Brian dan William tampak terdiam. Dua pria dingin itu memilih untuk menenggelamkan pikiran. Yah, mereka sedang kompak memikirkan Mauren yang kesepian di atas ranjang perawatan. Issh! Mereka berdua ini, pasti sedang memikirkan satu wanita yang sama. Batin Andrew menerka. Plok! Tiba-tiba, Andrew menepuk tangan dengan keras. Hentakan itu ia sengaja. Berniat untuk memecah lamunan dua orang sahabatnya. “Bagaimana kalau kita ke rumah Mauren? Aku dengar dari perawat di rumah sakit, semenjak Mauren terbaring koma, tak ada sanak keluarga yang menjenguk,” Andrew berucap tanpa pikir panjang. Hal itu sontak membuat Brian dan William menoleh bersamaan. Menatap manik mata Andrew yang kerap berucap tanpa dosa. “Apa yang kau katakan?” William berbisik lirih. Bibir pria itu berkomat-kamit sebal pada sang sahabat. Sementara itu, Brian mendengus kesal. Ia hafal betul, jika Andrew suka sekali berbicara sembarangan. Melihat kecanggungan yang terjadi, Lucia spontan mengeluarkan suara. Mengusir halus dua makhluk yang ia anggap astral. “Sudahlah, lebih baik kalian pulang saja, agar Kak Brian bisa beristirahat. Kakakku ini sudah pasti akan kembali ke rumah sakit untuk menjenguk Kak Mauren nanti malam. Jadi, sekarang biarkan ia tidur siang,” Lucia meminta. William dan Andrew segera berpamitan. Dua pria itu melayangkan bogem kecil, diiringi dengan gurat saling sebal. “Lain kali jika kau berbicara itu hati-hati,” William berucap geram. Bibir itu tak henti memarahi sang sahabat saat berjalan bersamaan. “Memang apa salahku? Apa ada kalimatku yang salah?” Andrew bertanya polos. William menggeleng heran. Membuka pintu mobil. Beralih masuk. Lalu, menggunakan sabuk pengaman. Diikuti oleh Andrew yang saat itu sedang duduk di jok penumpang. Membiarkan William menduduki kursi kemudi mobil. Ban mobil sport kembali berdecit. William melajukan mobil keluar dari halaman rumah keluarga Wijaya. “Will? Apa salahku?” Andrew mengulang pertanyaan. Ia masih tak mengerti pada kesalahan yang ia buat. William mengusap puncak rambut dengan kasar. Lalu, ia menjawab, “Om Martin dan Tante Jessy itu sudah lama berada di luar negeri. Mereka belum kembali ke Indonesia. Mereka itu orang tua yang tak peduli pada putri semata wayangnya. Apa kau tidak tahu?” Andrew melongo, “Sorry, Will. Aku benar-benar tak tahu akan fakta pahit itu.” Haish! “Maka dari itu selama Brian tidak ada, aku berjuang mati-matian untuk berada di sisi Mauren. Nyatanya, hal itu membuatku merasakan apa yang Brian rasa. Yakni, aku tak bisa membiarkan Mauren seorang diri; berbaur dengan kesepian di sini,” William melanjutkan ucapan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD