RARITY

1154 Words
Titt! Titt! Titt! Suara monitor terus berbunyi. Bersahut-sahutan tiada henti. Saat itu, Brian berada di samping ranjang perawatan Mauren. Wanita berparas elok tersebut masih terbaring lengkap dengan segenap alat penunjang hidup. Sesekali Brian mengusap puncak kepala dengan kasar. Pria itu menunduk sedih seraya menahan bulir kristal yang hendak keluar. Sementara itu, Lucia tak henti memperhatikan Brian dari kejauhan. Wanita yang baru saja masuk ke dalam ruang ICU itu, hanya bisa menghentikan langkah. Tangan kanannya sibuk menutup bibir yang ternganga. Lucia tak tahan melihat seorang wanita yang ia anggap seperti kakak perempuan tersebut terbaring koma. Sama halnya Brian, Lucia juga meratapi kesedihan. Wanita itu sesekali menyentuh lutut yang terasa lemas. Sembari bergumam, Bangunlah Kak Mauren, kembalilah. Jangan pernah tinggalkan kami. Kami menyayangimu, Kak. Batin Lucia terisak pilu. Lucia menghapus bulir air mata yang terjatuh. Menegarkan jiwa yang tersakiti oleh sedu. Melanjutkan langkah. Menghampiri posisi Brian dan Mauren di sana. “Kak?” Lucia menyapa. Menyentuh pundak sisi kanan Brian. Pria itu menoleh. Menyahut sapaan sang adik perempuan, “Kau ke mari, Lucia?” Hati Lucia mencelos. Sang kakak baru saja memandang ia dengan nanar. Manik mata Brian memerah. Suaranya serak karena menahan tangis dan sedih yang ia rasa. “I-iya, maaf Lucia baru sempat ke mari. Maaf tadi Lucia terlambat bangun,” Lucia menjawab bingung. Ia bak kelabakan usai tak bisa berkata-kata; menyaksikan sang kakak merana. Glek! Lucia menelan ludah dengan susah. Lalu, memberanikan diri bertanya perihal kondisi Mauren di sana. “Ba-bagaimana kondisi Kak Mauren, Kak?” Brian menggeleng. Pria tampan yang duduk di kursi roda itu hanya bisa menyahut tanpa suara. Lucia spontan memeluk tubuh Brian. Ia ingin menenangkan hati sang kakak yang kesepian. “Tenanglah, Kak. Kak Mauren pasti terbangun. Kita hanya perlu menunggu ia menuntaskan istirahat saja,” Lucia memasang senyum di wajah. Meski, ukiran indah itu sedikit ia paksa. “Kau benar, Lucia. Mauren sangat suka sekali belajar sewaktu sekolah dan kuliah. Dan, sewaktu dia bekerja; sudah pasti dia juga suka sekali dengan semua beban kerjanya. Ja-jadi, dia-di-dia benar-benar lelah, hingga ingin beristirahat di sini,” Brian berucap. Perkataan pria itu semakin lama semakin terdengar lirih. Brian menggeleng cepat sebagai tanda tak mengerti akan kesimpulan yang ingin Mauren lakukan. Aku tahu kau lelah, tapi aku mohon bangunlah sayang. Batin Brian mengajukan permohonan. Titt! Titt! Titt! Suara monitor kembali memekakkan gendang telinga. Bersamaan dengan seorang perawat yang datang menghampiri mereka. “Mohon maaf, jam besuk sudah selesai. Kami harap, keluarga pasien dapat memberi waktu pada pasien untuk beristirahat,” perawat itu berucap. Lucia mengangguk paham. Lalu, melajukan kursi roda Brian. Pria itu terpaksa melepas genggaman tangan. Sebuah jemari tangan yang dulunya tak henti bertaut mesra. Mauren, aku mohon bangunlah. Batin Brian untuk kali kedua. Setibanya Brian dan Lucia di depan ruang tunggu ICU, manik mata mereka mendapati dua orang pria yang senantiasa menunggu. Hhh! Brian menghela napas, sesaat usai Lucia melajukan kursi roda menuju posisi William dan Andrew di sana. “Kalian belum pulang?” Lucia bertanya. Andrew mengedikkan bahu, “Yah, seperti yang kau lihat. Kami masih berada di sini,” sahut pria pecicilan itu. Sedangkan, William? Ah, pria dingin tersebut sibuk memusatkan pandangan ke arah ruang ICU. Sedari tadi, ia tak henti memandang ruang perawatan yang dipenuhi kaca tembus pandang. “Mengapa kalian tidak masuk ke dalam?” Brian bertanya. Lucia melongo heran. Bukankah tadi Kak William berkata jika ia sudah masuk ke dalam? William terdiam. Sementara itu, Andrew mewakili jawaban William. “Kami menunggumu, Brian,” Andrew berkilah. Beberapa saat sebelum Brian datang, William dan Andrew sudah tiba terlebih dulu. Mereka berdua bahkan tiba tepat waktu. William seraya enggan melewatkan waktu untuk menjenguk wanita cantik yang sedang terbaring koma. Namun, Brian tak tahu hal itu. Mengingat, saat Brian datang, William dan Andrew sudah tak ada di dalam ruang perawatan. Lucia mendecap bibir. Ia merasa ada sebuah kejanggalan. Sorot mata William benar-benar mengisyaratkan banyak hal. “Baiklah, kita bisa pulang sekarang. Kami akan mengantarmu,” Andrew menawarkan. William spontan memukul lengan kiri Andrew. Lalu, pria itu berucap mengingatkan, “Apa kau tidak sadar jika kita ke mari menggunakan mobilku?” “Ah, iya! Kita ke mari menggunakan mobil sport, jadi..” Issh! “Kalian berdua ini memang tak bisa diandalkan,” Lucia mencibir geram. Wanita itu bergegas melajukan kursi roda Brian. Membawa sang kakak menuju lift. Mengarahkan Brian untuk pulang menaiki mobil hatchback miliknya. Ting! Lift berdenting. Mereka berempat masuk ke dalam lift yang terbuka. Suasana hening menyapa. Tak ada pembicaraan yang terjadi diantara keempat muda-mudi di sana. Hingga pada akhirnya, Andrew memecah keheningan diantara mereka. “Lucia, kita mampir ke rumahmu dulu ya?” Andrew meminta persetujuan. Pria itu sembari melirik ke arah William dan Brian bergantian. Lucia menarik sudut bibir. Lalu, menyahut singkat, “Itu terserah kalian saja.” Tak lama kemudian lift kembali terbuka. Brian teringat akan sesuatu hal yang ia lupakan begitu saja. Pria tampan itu merogoh ponsel di dalam saku celana. Menggulir layar. Lalu, melakukan panggilan keluar. Tut.. tut.. Panggilan tersambung. Bersamaan dengan Lucia yang mengarahkan Brian menuju parkiran. “Hallo, Prisc? Kau ada di mana? Mengapa kau menghilang tiba-tiba?” Brian bertanya. Sesaat usai panggilan keluarnya disahut Priscilla dari seberang. Cih! Lucia berdecak lirih. Ia amat tak suka jika Brian berhubungan dengan Priscilla. “Kak, sudahlah. Ayo kita masuk ke dalam mobil. Nanti keburu Kak William dan Kak Andrew sampai duluan di rumah,” Lucia menyergah. Melampiaskan rasa kesal usai Brian menelepon Priscilla. “Iya,” Brian menyahut. Kembali melajutkan ucapan pada lawan bicara yang ia telepon. Beberapa detik kemudian, Brian mengakhiri panggilan. Pria itu beralih masuk ke dalam mobil sang adik. Namun, Lucia tampak kesusahan saat membantu Brian. Tiba-tiba, William datang menghampiri. Kebetulan, mobil mereka terparkir dengan jarak tak begitu berjauhan. “Sini, biar aku bantu,” William menawarkan. Membopong tubuh Brian. Membungkukkan badan saat mendudukkan pria setinggi seratus delapan puluh empat centi ke dalam mobil yang memiliki badan mobil rendah. Duh! Seharusnya, tadi aku meminjam mobil Mama saja agar Kak Brian tak kesusahan. Lucia membatin merasa bersalah. Mobil berjenis MPV rata-rata memiliki badan mobil yang lebih tinggi dari mobil hatchback. Sehingga, akan memudahkan Brian untuk naik dan turun dengan aman. Mengingat, tungkai kanan yang terbalut gips, memaksa Brian untuk menghindari titik nyeri saat masuk ke dalam mobil. Jadi, pria berbadan tegap nan tinggi itu, harus menyeimbangkan tubuh saat hendak menaiki alat transportasi. “Thanks, Will,” Brian mengucap terima kasih. Pada saat bersamaan, mobil sport milik William melintas di depan mereka. Mobil mewah dengan harga fantastis itu tampak dikemudikan oleh seorang pria yang suka sekali menumpang. Tin! Sontak William menghampiri badan mobil sport berwarna biru gelap. Membuka pintu. Lalu, duduk di samping sang pengemudi. Ban mobil berdecit. Diikuti oleh Lucia yang juga menginjak pedal gas secara perlahan. Mobil yang dikendarai wanita itu mulai melaju konstan. Di dalam perjalanan, Lucia mengajukan pertanyaan pada Brian. Sebuah pertanyaan yang tak bisa Lucia tahan. “Kak, memangnya Kak Priscilla dan Kak William, juga saling mengenal?” Brian melongo. Dahi pria tampan itu berkerut heran.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD