Jarum jam menunjuk tepat pukul sembilan malam. Masih di ruang inap Bintang, Rani sudah terlelap jauh di alam mimpinya. Sementara Bintang dan Adryan yang masih terjaga, tampak asyik mengobrol. "Mas, kok tumben ya, Mbak Feby nggak ke sini?" tanya Bintang dengan berbagai rasa hampa dalam benaknya. Ia melirik jam dinding yang terus berdering. Ia menatap tiap jarum yang bergerak dengan sedikit kecewa. Mana mungkin Feby akan datang di saat malam sudah hampir larut? Jam besuk pengunjung pun baru saja ditutup. Adryan tahu apa yang Bintang pikirkan. Adryan bisa melihat rasa kecewa di balik sorot mata Bintang yang sendu. Adryan meraih tangan Bintang, dan membawanya ke dalam genggaman. "Maaf ya, aku belum sempat kasih tahu kamu. Tadi, Mbak Feby WA, kalau dia belum bisa jenguk kamu ke rumah sakit.

