Setelah beberapa lama membalik puluhan pot, akhirnya Adryan berhasil menemukan kuncinya. Bagi Adryan, kunci yang ada di tangannya itu, lebih berharga dari sebuah harta karun. Adryan menunjukkan kunci itu pada Bintang dan Rani. "Udah ketemu," ujarnya riang. "Ya udah, buruan buka pintunya. Kasihan Kak Bintang dah mau istirahat," Rani tak sabaran. Ia menyuruh Adryan untuk segera membuka pintunya. Adryan memandang Bintang yang tampak asik dengan imajinasinya. Entah, apa yang ia pikirkan. "Jadi lamaran 'kan, Bin?" tanya Adryan memastikan sekali lagi. Semoga saja, Bintang tidak merubah keputusannya. Bintang mengangguk, "Jadi, kalau nggak kesiangan." Gurauan Bintang membuat Adryan memutar bola matanya jengah. Bisa-bisanya, si Bintang masih sempat bercanda, padahal Adryan sudah ketar-ketir me

