Di ruang pengap bercampur dinginnya AC, aroma obat menyeruak melalui rongga hidung yang kembang kempis. Suasana di dalam ruangan, terasa sangat membosankan. Semua tampak mati tak bernyawa, membuat penghuninya tidak ada yang betah. Untuk mengusir rasa bosan, Ferdhy menatap jarum infus yang terpasang di pergelangan tangannya, sambil sesekali memainkan selang infus yang melilit di sana. Tiba-tiba, bayangan sosok Bintang menghantui pikiran Ferdhy. Senyum Bintang yang manis, wajah polosnya yang penuh keceriaan dan semua tentang Bintang, terekam jelas di otak Ferdhy. Tak kunjung menghilang pikirannya tentang Bintang, membuat Ferdhy menjadi gelisah. Sungguh! Kali ini, Ferdhy benar-benar merindukan gadis itu. Ferdhy memandang Rika yang sedari tadi memperhatikan dirinya. "Kenapa, Nak? Perlu

