Saat malam pun tiba, Efron dan Neo kini berada di mansion milik Efron.
"Hei, Efron… kau kemana kan gadis cantik yang tadi siang?" Tanya Leon yang tiba-tiba datang dan duduk di sampingnya.
Efron hanya menggidikkan kedua bahunya.
"Ku kira kau sudah menidurinya.." sambung Neo terkekeh.
"Diamlah, aku bukan orang yang suka memaksa."
"Ya, ya, ya, kau adalah orang yang kejam." Ujar Leon.
Efron hanya memutar bola mata jengah.
"Tapi, bagaimana jika dia itu adalah jodohmu?"
"Tidak akan.."
"Tapi, dia begitu lucu dan menggemaskan. Tubuhnya memang terlihat mungil, tapi kau tahu, dia begitu sexy."
"Tuk!!" Efron melempar kacang ke kepala Neo.
"Otakmu hanya berisi s**********n saja," Neo hanya terkekeh menanggapinya.
"Kau lebih parah dariku, Efron.."
"Tapi bukan aku yang memulai, mereka sendiri yang datang padaku."
Neo terkekeh kembali.
"Apa kau tidak ingin menikah?"
"Lalu, bagaimana denganmu?"
Neo tergelak, benar saja, dia tak ada bedanya dengan Efron.
"Maka berpikirlah sebelum bertanya, bodoh!" Desis Efron membuat Neo semakin terbahak.
"Aku tak menyangka jika Leon sudah tak sanggup dengan status lajangnya.."
"Bukan urusanku dan bukan urusanmu."
Neo memutar bola mata jengah.
"Neo, aku harus pulang. Entahlah, Daddy mengatakan ada hal yang ingin dia katakan."
"Baiklah, hubungi aku jika terjadi sesuatu."
"Memangnya apa? Kau pikir Richard akan membunuhku?"
Neo terkekeh,
"Tidak, tidak. Aku tahu, dia adalah ayah-mu. Simpanlah sedikit, jangan memanggil namanya dengan sebutan nama saja.
"Baiklah, aku pergi."
"Kau berhati-hatilah, bung.." ucap Neo dengan sedikit berteriak.
Neo menghela napas berat.
"Semoga kalian tidak bercekcok lagi.." gumam Neo.
Sementara itu, Efron sudah sampai di penthouse milik kedua orang tua-nya.
"TINNNN.." Efron memencet tombol klakson, lalu terbukalah gerbang penthousenya.
Terlihat seorang penjaga rumahnya mendekati mobil Efron.
"Selamat malam, tuan muda…"
"Hmm, apa Daddy di rumah?"
"Ya, tuan muda. Tuan besar sudah di rumah sejak tadi sore."
Efron mengangguk lalu melajukan mobilnya masuk ke dalam area parkir rumah mewah itu.
Efron menggulung lengan kemejanya, dengan menyangking jas di lengan kirinya.
Dia berjalan masuk dengan gagahnya, Efron benar-benar terlihat sangat mempesona. Rahang yang tegas, tubuh yang tegap dan atletis, menambah kesan ke-sexy-an dalam dirinya.
Efron disambut hangat oleh Iriana - ibunya.
"Mom," sapa Efron memeluk sambutan hangat dari ibunya.
"Kau sudah pulang, mom pikir kau tidak akan datang." Ucap wanita itu lembut, wanita yang benar-benar sangat Efron cintai di dunia ini.
"Dimana Daddy, mom?"
"Dia sedang menunggumu di ruang kerjanya, kau masuklah."
"Baiklah, mom. Aku pergi menemui dad dulu."
Iriana mengangguk kecil, lalu menghela napas pelan dengan menatap bahu kokoh putra semata wayangnya.
"Entah apa yang ada di pikiran suamiku, dia selalu tidak puas dengan semua hasil yang ia lakukan, terutama dendamnya." Gumam Iriana.
Efron mengetuk pintu ruang kerja ayahnya, lalu masuk setelah mendengar perintah masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Kau sudah datang, nak?"
"Ya, seperti yang kau lihat. Ada apa dad memanggilku?"
"Santai lah, son.. Daddy hanya ingin berbincang sedikit."
"Hm," Efron hanya bergumam lalu duduk di sofa kecil di ruang kerja sang ayah
Dan, Richard pun duduk di seberang putranya.
"Efron, kau tahu bukan, kalau Daddy masih menyimpan dendam pada seseorang."
"Dendam?"
Richard menghela napas berat.
"Dendam yang benar-benar sulit dad hilangkan hingga sekarang. Dad ingin kau membalas semua misi yang telah dad susun."
"Apa maksudmu? Kau ingin aku melakukan dendam mu?"
"Ya, begitulah… kau tidak boleh membantah, atau kau akan tahu akibatnya." Ancam Richard pada putranya.
"Kau mengancamku, dad?"
"Ckckc, kau adalah keturunan tunggal di keluarga kita. Kau adalah pewaris utama di keluarga Orlando Jackson. Kau sudah menyetujui itu, ini adalah konsekuensi yang harus kau jalankan."
"Lalu, bagaimana caranya aku melakukan semua itu."
"Nanti dad akan memberitahumu, dad masih sangat banyak pekerjaan. Kau, menginapkan di sini. Sudah lama bukan kita tidak berkumpul?"
"Baiklah, aku akan menginap disini."
***
Di sisi lain, Elena tengah merengek pada kedua orangtuanya.
Dia ingin keluar rumah, dia ingin bebas.
"Mami, Tolong bujuk papi. Elena mau keluar rumah, Elena tidak mau seperti ini. Yang hidup seperti dalam penjara." Rengek Elena pada ibunya.
"Sayang, kau tahu kan, semua ini papi lakukan untuk kebaikanmu. Papi sama mami sangat menyayangimu, terlebih kau adalah putri tunggal kami. Kami tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu."
"Tidak, mam.. aku akan keluar dengan uncle Don, tapi dengan syarat dia jauh dariku. Dia boleh mengawasi ku dari jauh." Rayu Ellena yang ternyata di dengar oleh Eros.
"Tidak, sayang. Kau tidak boleh kemanapun," ucap Eros santai.
Elena dan Elina menatap Eros yang sedang menuruni anak tangga.
"Pi, apa papi mau Elena kabur lagi? Kalau begitu mau papi, lihat saja, papi akan menyesal." Ancam Elena pada kedua orangtuanya.
Eros membelalakkan matanya, dia tak percaya jika putrinya sudah tahu caranya mengancam.
"Kau mengancam mami dan papi?"
"Iya, itu karena papi selalu mengancam Elena." Cibir Elena.
Eros menghela napas berat, dia pun menatap putrinya lembut.
"Baiklah, tapi kau harus janji pada papi, kau akan pulang dalam keadaan baik-baik saja. Dan uncle Don akan terus menemanimu."
Elena tersenyum lebar dan mengangguk yakin. Dia benar-benar sangat senang, selama ini dia selalu hidup seperti dalam penjara.
Tidak pernah bebas keluar rumah jika tidak dengan pengawal ataupun kedua orangtuanya.
"Elena sayang dengan papi dan mami, Elena akan baik-baik saja." Elena mengecup pipi kedua orang tuanya.
Lalu dia berlari dan menari berputar-putar, dia benar-benar sangat bahagia.
Elina dan Eros tersenyum menatap putri mereka dengan bangga.
"Putri kita sudah dewasa, Eros.. aku yakin, dia bisa jaga diri."
"Kau tahu, sayang.. di mataku, Elena selalu menjadi putri kecil kita."
"Ya, aku tahu itu. Hanya saja tumbuh kembangnya semakin hari semakin berbeda, biarkan dia mengetahui dunia luar, biarkan dia mencari teman sebayanya."
"Aku tidak pernah mempercayakan Putri kita berteman dengan dunia luar, ketakutan ku sangat besar. Aku sangat takut kehilanganmu dan putri kita."
"Aku yakin, Elena akan selalu baik-baik saja. Tuhan akan mengirimkan orang yang benar-benar bisa melindungi putri kita." Ucap Elina mengusap lembut lengan suaminya.
Di kamar, Elena tertawa bahagia.
Melempar-lempar bantal ke atas dan juga melompat-lompat di atas ranjang.
"Aku sangat senang, aku akan keluar, aku akan bebas."
"Aku akan mencari teman dan aku akan mencarimu, uncle tampan. Aku pastikan, kita akan bertemu lagi, ckckckck…"
Gumam Elena.
"Papi dan mami, percayakan semua pada Elena. Elena akan baik-baik saja. Elena tidak akan kabur dan menghilang lagi," lanjutnya dengan senyum lebar.
Lalu Elena berdiri membentangkan kedua tangannya menghirup udara malam dari balkon kamarnya.
Dia benar-benar merasa sangat senang, setelah sekian lama hidup dalam bagaikan di dalam penjara yang tidak ia mengerti, akhirnya ia di perbolehkan untuk keluar, meskipun dengan syarat.
Bersambung...