Bab5

1046 Words
Elena berlari berputar-putar di area pusat perbelanjaan, dia benar-benar merasa sangat bebas siang ini. Bahkan anak buah sang ayah pun kewalahan mengejarnya. "Dukk" "Awhh… hidungku," Elena mengusap hidungnya yang memerah. "Aku nabrak mobil ya? Hidungku sakit.." Elena meraba sesuatu yang ia tabrak tadi. Meraba-raba dari bawah hingga ke atas. Dia terkejut saat mendengar suara geraman tertahan. "Kok keras kotak-kotak sih," Elena menaikkan pandangan dan terkejut, lalu tersenyum lebar. "Uncle tampan, kita bertemu lagi.." ucap Elena dengan senyum lebar. "Menyingkirkan, kau menghalangi jalanku." Ucap laki-laki itu dengan wajah datar. "Tidak, tidak. Elena tidak mau menyingkir," "Ck.." laki-laki itu berdecak kesal, dia bergeser ke kiri dan Elena ikut bergeser ke kiri. Begitu juga jika laki-laki itu bergeser ke kanan, Elena akan ikut bergeser ke kanan. Elena terkikik melihat wajah orang di depannya sudah terlihat sangat kesal. "Kenapa uncle sangat tampan, jadi kekasih Elena ya?" Laki-laki itu terkejut mendengar ucapan Elena, namun dia berusaha bersikap biasa saja. Menatap wajah Elena datar. "Kenapa uncle diam saja? Bagaimana jika uncle menjadi suami Elena?" "Tidak." Jawabnya singkat. "Memangnya kenapa? Elena cantik, uncle. Elena juga sexy, ayo.. jadikan Elena istrimu." "Tubuhmu sangat kecil, kau tidak akan kuat saat aku mengungkungmu." Elena memerjapkan matanya berkali-kali dengan wajah polos. Dia benar-benar tidak tahu apa yang di maksud oleh laki-laki di depannya. "Elena sangat kecil atau uncle yang terlalu besar?" "Suda … ahhh," tubuh Elena terhuyung, hampir saja terjatuh ke lantai bawah jika saja laki-laki itu tak menahan pinggang dan menariknya ke dalam dekapannya. "Copettt!!" Beberapa orang berlarian dan mengejar seorang pencuri dan salah satunya menabrak tubuh Elena. Elena merasakan kenyamanan di tubuh yang kini masih menahan tubuhnya. Elena mengusekkan kepalanya di d**a bidang laki-laki itu. "Tubuh uncle sangat harum, ini sangat enak dan menyegarkan. Elena nyaman disini." Ucapan Elena membuat darah laki-laki itu berdesir. Ada perasaan aneh yang mengalir dalam dirinya. "Uncle, Elena sangat lapar. Bisakah kau temani Elena makan, Elena benar-benar lapar." "Ck, kau benar-benar merepotkan. Aku bahkan tak mengenalmu." Ketus laki-laki itu. "Elena, panggil aku Elena. Siapa nama uncle?" Laki-laki itu terdiam sejenak dan menurunkan pandangan menatap wajah polos Elena, entah kenapa, melihat wajah polos Elena benar-benar membuatnya sedikit b*******h. "Efron.." jawabnya singkat. "Pantas uncle sangat tampan, namanya pun sudah sangat tampan." Jawab Elena dengan senyuman manis. "Sekarang menyingkirlah, aku akan pergi." "Tidak, tidak. Elena sangat lapar, ayo temani Elena makan." "Tid… arghh," Efron berusaha menolak hingga Elena menariknya paksa masuk ke dalam mini cafe yang ada di pusat perbelanjaan. Dengan malas Efron mengikuti langkah kaki gadis itu. Entah kenapa, Efron tidak memiliki kekuatan untuk menolak, bahkan marah sekalipun. Elena dan Efron duduk di bangku di pojokan, alasannya karena Elena ingin bersandar di dinding. "Uncle, apa kau tahu… hari ini aku angat bahagia." "Aku tidak menikah dengan bibimu, jangan panggil aku uncle." Ucap Efron dengan kesal. "Lalu, Elena harus memanggilmu dengan sebutan apa?" "Terserah.." Jawab Efron sekenanya. "Baiklah, Elena panggil kau sayang saja." Mata Efron melotot pada Elena. Apa-apaan gadis ini? Benar-benar sangat menyebalkan. "Sayang, kau tahu.. hari ini aku sudah diberi izin oleh kedua orang tuaku untuk pergi keluar." Efron menautkan kedua alisnya. Apa katanya? Sudah diberikan izin keluar? "Bukankah, kemarin kau sudah keluar rumah?" "Tidak, Elena kabur dari rumah. Elena tidak tahu, kenapa papi selalu melarang Elena untuk keluar rumah. Katanya dunia luar itu sangat berbahaya.." lirih Elena membuat Efron merasa sedikit iba padanya. "Tidak semua dunia luar itu berbahaya, itu semua tergantung diri kita sendiri, bagaimana cara kita menyesuaikan diri dan menjaga diri di luar rumah. Semua akan menyenangkan kalau kita menikmatinya." "Wahhh, ternyata kau sangat pintar bicara. Elena benar-benar sangat senang, sekarang kau mau berbicara panjang padaku." Ucap Elena jujur, Efron sendiri tak menyangka, kenapa dia bisa berbicara panjang dengan gadis di hadapannya itu. Tak lama kemudian makanan yang Elena pesan telah datang, berbeda dengan Efron yang hanya memesan minuman. Efron menatap Elena lekat, dia benar-benar gadis yang manis. Hanya saja dia sangat menyebalkan. Benar-benar gadis yang sangat aneh, dia makan dengan lahap, seperti tidak pernah makan di luar rumah. "Apa kau tidak pernah makan makanan seperti itu?" Elena menggeleng kecil, dan Efron menatapnya tak percaya. "Elena sering melihat makanan ini di YouTube, Elena tidak boleh memakan makanan sembarangan." Efron berdecak kesal, dia benar-benar tak mengerti dengan jalan pikir kedua orang Elena. Biasanya gadis seumuran Elena sangat menyukai dunia luar, dan sering keluar dengan teman-temannya. Menikmati masa sebelum dia berada dalam pengawasan seorang yang bertanggung jawab atas hidupnya. Efron terbelalak saat mendengar Elena bersendawa. "Erghhh…" Elena bersendawa. Efron menolehkan kepalanya menahan malu karena banyak pasang mata yang menatapnya jijik. Elena benar-benar sangat menyebalkan, tidak bisa bersikap anggun sedikit pun, dari cara makannya dan selesai makan pun seperti itu. "Elena sangat kenyang, sekarang uncle tolong bayar makanan ini, Elena tidak membawa uang." Mata Efron melotot lebar, apa-apaan dia? Sudah memaksa dan sekarang menyuruhnya untuk membayar semua makanan yang dia makan? Astaga, Efron tak habis pikir. Elena menundukkan kepalanya, memilin ujung roknya. "Maafkan Elena, dompet Elena terjatuh, entah dimana." Lirih Elena. "Kali ini aku akan membayarkan makanan untukmu, lain kali tidak. Meskipun uangku sangat banyak, aku malas membayarkan makanan untukmu." Jawab Efron dengan ketus. Elena tersenyum lebar, "Harta papi sangat banyak, Elena tidak masalah jika uncle tidak membayarkan makananku lagi, asal uncle ada di samping Elena." "Tidak, cukup kali ini saja." Jawab Efron ketus. "Uncle, El ---" "Sudah ku katakan, jangan panggil aku uncle. Aku tidak menikah dengan bibimu." Bentak Efron pada Elena. Mata Elena berkaca-kaca, dia benar-benar merasa sangat takut. Selama hidupnya, dia tak pernah sekalipun di bentak ataupun ada seseorang yang meninggikan suaranya padanya. Efron merasakan sesak dan merasa bersalah saat melihat air mata yang lolos membasahi wajah cantik Elena. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud membentakmu." Ucap Efron lembut, tangannya terulur menghapus air mata Elena. "Jangan menangis lagi, aku benar-benar minta maaf." Ucapnya lagi. Elena pun tersenyum lebar menatap Efron yang menatapnya dengan tatapan kebingungan. Bagaimana mungkin moodnya berubah secepat ini? "Ternyata kau memiliki hati yang lembut, apa kau mau menjadi teman Elena?" "Tidak. Terimakasih, kau menyusahkan." "Begitu ya? Jika kau merasa kesusahan karena membayarkan makanan ini, maka Elena akan membayarnya jika kita bertemu nanti. Elena tidak memiliki teman, Elena sangat kesepian. Hanya kupu-kupu yang menjadi teman Elena." Bersambung…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD