Entah seperti apa awalnya, kini Efron membawa Elena pulang ke mansionnya.
Elena tak ada henti-hentinya berdecak kagum. Mansion Efron benar-benar sangat mewah, Elena berlarian kesana kemari.
"Ternyata ini sangat mewah, bahkan ada kolam renangnya di samping mansion ini. Elena sangat menyukai interiornya."
"Lena, jangan buat kekacauan. Aku akan pergi ke ruang kerjaku, tolong jaga sikapmu."
Elena pun mengangguk, menuruti perintah Efron.
Elena berjalan menuju dapur, dia melihat beberapa maid sedang membersihkan meja dan juga beberapa alat dapur.
Para maid terlihat terkejut saat melihat Elena. Elena tersenyum manis pada mereka, membuat mereka tersenyum kikuk.
"Apa Elena boleh ikut memasak?"
"Maaf, nona.. anda tidak boleh kemari, kami takut tuan marah."
"Tidak, tidak. Ayo kita membuat kue, Elena sangat suka membuat kue. Jangan takut pada Efron,"
"Tapi, nona.."
"Sst, tenanglah.. jika kalian di pecat Efron, maka kalian bekerjalah denganku."
Para maid pun mengangguk patuh.
Elena tersenyum lebar, dia memakai celemek yang ada disana.
Dia pun mulai membuka kulkas dan mencari bahan bahan yang ia perlukan.
Elena berniat untuk membuat vanilla cake, dia pun mulai bergulat dengan peralatan membuat kue.
Tak lupa di iringi canda tawa saat dia mulai melemparkan tepung kering ke wajah para maid.
"Apa yang kau lakukan di dapurku!!!" Suara bariton tegas menggelegar, membuat para maid meringis takut.
Berbeda dengan Elena yang tersenyum lebar menatap Efron.
"Uncle --- "
"Aku tidak menikah dengan bibimu!" Jawab Efron dengan cepat.
"Baiklah. Sayang, Elena membuat kue. Sekarang sayang coba ya?"
Para maid terlihat menahan tawanya, lalu berubah datar saat melihat Efron menatap mereka tajam.
Efron benar-benar tak habis pikir, kenapa dia mau mengajak gadis ini pulang ke mansionnya.
Dia benar-benar kesal saat mengingat kejadian beberapa jam lalu.
Flashback
Setelah membayar makanan di mini cafe, Efron berjalan melengos tanpa peduli Elena.
Efron berjalan menuju basement, dia mencari mobilnya dan dia berhasil masuk ke dalam mobilnya.
Namun dia terlonjak kaget saat tiba-tiba melihat Elena sudah terduduk di kursi sampingnya.
"Astaga, apa yang kau lakukan, Elena!!" Ucap Efron dengan kesal.
"Elena, tidak tahu mau kemana. Elena tidak punya uang dan tidak punya teman."
Karena terburu-buru, Efron pun segera melajukan mobilnya menuju mansion.
Flashback off.
***
"Bagaimana? Apa cake buatan Elena, enak?"
"Hm.." Efron hanya menjawabnya dengan gumaman.
Elena benar-benar memaksa Efron untuk mencoba cake buatannya dengan cara menjejalkan paksa di mulut Efron.
Efron sangat tidak menyukai makanan manis, tapi dia menerima kue buatan Elena yang menurutnya rasanya tidak terlalu buruk --- enak, maksudnya.
Neo dan Leon memandang Efron dengan tatapan penuh tanya.
"Efron, bukankah kau tidak menyukai makanan manis dan jenis kue seperti in" cetus Leon menyadarkan Efron.
Neo pun mengangguk menyetujui ucapan Leon.
Elena memerjapkan matanya berkali-kali, menatap polos mereka bertiga.
"Hei, Elena.. selain kau cantik, ternyata kau pandai membuat kue. Kue ini sangat enak," puji Neo pada Elena.
Elena tersenyum manis mendengar pujian dari Neo.
"Terimakasih, kak Neo. Kau boleh memakannya lagi."
Mata Efron melotot lebar, mendengar ucapan Elena.
"Kau bisa memanggil Neo dengan sebutan kakak? Dan kau menyebutku uncle?" Protes dan sewot Efron pada Elena.
"Elena memanggilmu sayang, yang kau katakan benar. Elena tidak boleh memanggilmu uncle, karena kau tidak menikah dengan bibi Elena. Dan beruntungnya, Elena tidak memiliki seorang bibi."
Leon dan Neo hanya menahan tawa, baru kali ini Efron kalah telak oleh gadis yang baru-baru ini di temuinya.
"Terserah kau saja, aku tak peduli."
"Kalau kau tak peduli, kenapa kau sewot?" Sambung Leon dengan senyum mengejek pada Efron.
"Ck, sudahlah. Elena, cepat kau bersihkan dirimu, aku akan menyuruh supir untuk mengantarkanmu pulang."
"Elena tidak mau pulang jika bukan dirimu yang mengantarkan Elena pulang."
Efron memijit pelipisnya yang sudah mulai pegal. Dia tak habis pikir, kenapa dia bertemu dengan gadis menyebalkan ini.
"Sudahlah, Efron.. kau antarkan saja, kau akan kesulitan jika tak mau mengantarkan dia pulang."
"Fine, aku kalah telak!!" Ucap Efron ketus yang membuat dua sahabatnya itu tergelak.
Elena tersenyum manis, lalu berjalan menuju kamar mandi di dekat dapur.
"Kau tidak memberikan baju untuknya? Tidakkah kau sadar, bajunya sangat kotor karena banyak tepung dan adonan kue yang menempel."
"Sial!! Merepotkanku saja." Cibir Efron membuat dua sahabatnya terkekeh.
Lalu Efron mengambil benda pipih di mejanya, lalu menghubungi seseorang.
"Kau Carikan dress wanita, ukurannya kecil."
Ucap Efron pada seseorang yang berada di seberang sana melalui ponselnya.
Efron langsung mematikan panggilannya tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya.
Mengingat tubuh Elena yang mungil, Efron teringat ketika Elena makan dengan rakus di mini cafe tadi.
"Apa mungkin dia tidak pernah makan, sehingga membuat tubuhnya sangat mungil?" Gumam Efron namun masih bisa didengar oleh dua orang dihadapannya.
"Apa kau berniat untuk membuatnya menjadi lebih berisi?" Sambung Neo yang membuat Efron terlonjak kaget.
"K-kalian? Sejak kapan kalian berada di sini?" Gugup Efron salah tingkah takut jika dua sahabatnya mendengar gumaman dirinya.
"Sudahlah, jangan berpura-pura bodoh, aku tahu kau adalah salah satu anak orang terkenal yang masih memiliki sedikit hati." Ucap Leon yang di angguki Neo.
Efron memutar bola mata jengah.
"Aaaaaaaa…. Prankkkkk.."
Efron, Neo dan Leon terlonjak kaget saat mendengar teriakan dan benda pecah.
"Ularrrrr!!!" Teriak Elena lagi dan membuat mereka bertiga berlarian menuju dapur.
Mereka melihat para maid dan penjaga terlihat panik melihat Elena yang histeris.
"Mana ular? Mana ular?" Tanya Efron berkali-kali.
"Itu ular, sayang… cepat buang!!!" Ucap Elena dengan menunjuk arah atas.
Speechless…
Efron, Neo dan Leon menatap itu tak percaya.
"Itu hanya cicak, Elena!!!" Ucap Efron dengan geram.
"Cicak??" Gumam Elena dengan menaikkan pandangan ke arah atas, lalu nyengir tanpa rasa bersalah.
"Kau mau membuat kekacauan di rumahku, huh?" Tanya Efron tajam.
"I-itu… maafkan Elena, Elena pikir itu tadi ular. Elena hanya melihat bagian buntutnya saja." Jawab Elena polos.
"Kau!!!" Geram Efron, lalu seorang laki-laki datang dengan membawa paper bag.
"Permisi, tuan.. ini pesanan anda." Efron mendengus tapi tetap menerimanya.
"Ini, kau gantilah. Setelah ini kau pulang."
Ucap Efron dengan memberikan paper bag pada Elena.
"Apa kau mengantarku?" Tanya Elena dengan menerima paper bag.
"Tidak."
"Aku tidak akan pulang kalau kau tak mengantarku."
"Terserah..!!"
"Elena tidak punya teman, sayang. Para maid disini sangat menyenangkan." Gumam Elena namun masih terdengar.
"Efron, sepertinya kalian cocok menjadi pasangan." Ucap Neo menepuk bahu Efron.
"Ya, sepertinya dia bisa membuatmu jinak." Sambung Leon.
"Kau pikir aku binatang huh?" Sewot Efron pada dua sahabatnya dan membuat mereka terkikik.
Bersambung..