Beberapa menit kemudian, di dalam mobil mereka berdua kembali pada keadaaan semula, sepi, diam dalam perasaaan hati masing-masing, yah mereka, mereka berusaha untuk tetap bersikap netral, meskipun jantung sudah berdegup dua kali lebih cepat dari yang tadi.
Mobil berjalan dengan seadanya, jalanan lalu lintas yang tadinya padat, kali ini telah menyambut kedatangan dari mereka berdua, tidak ada tawa dan ekspresi manapun.
Sekarang mereka tengah berada di jalanan yang tidak jauh lagi dari posisi dan tempat rumah Elena, Efron yang melihat bahwa mata dari wanita yang membuta dia naik pitam, sekarang telah tertutup, otomatis pilihan ada di tangannya, entah membangunkan atau menunggu bangun.
Beberapa menit berlalu, Efron masih tidak melihat ada tanda-tanda bahwa wanita ini akan bangun, maka dari itu dia mulai berniat menautkan tangannya pada kening wanita itu.
“Hey, bangun kau sudah sampai, bangun gadis ceroboh,” gerutunya sembari membangunkan elena lewat kening yang dia diketuk-ketuk.
Elena terbangun, dia menatap mata Efron begitu juga sebaliknya Efron menatap mata dari Elena, untuk memutuskan pandangan itu Elena segera keluar dari mobil dan menuju pintu.
Di dalam rumah orang tua Elena telah menunggu kepulangan Elena, dengan rasa cemas yang kadang berlebihan, Efron bukan mafia yang tidak tahu diri, dia mengantar wanita itu sampai di depan rumah.
Dia sempat mendengus kesal, melihat sikap yang tidak tahu terimakasih oleh wanita itu.
...
Elena merebahkan tubuhnya, ia menatap langit-langit kamar. Rasanya ia sangat lelah sekali.
Tapi, berada di rumah Efron justru membuatnya sangat bahagia.
Disana banyak para asisten rumah tangga yang ramah dan ceria. Elena tak merasakan itu sebelumnya, ia selalu menyendiri di rumah dan selalu di kekang.
Kemanapun selalu di jaga ketat oleh Uncle Don.
Tapi, saat ini ia benar-benar mengagumi sosok Efron yang menurutnya sangat tampan dan rupawan.
Elena tersenyum, ia teringat saat tadi Efron terlihat kesal padanya karena ia tak mengucap kata terimakasih padanya.
“Sangat tampan, aku ingin dia menjadi suamiku,” gumam Elena dengan senyum lebar.
Elena masih berjalan mengelilingi tempat itu, dia sepertinya sangat suka tempat itu, di tambah saat ini dia bersama dengan lelaki yang dia cintai.
“Aww,” Elena mendapagkan d**a yang rasanya membuat matanya sungguh tidak bisa berpaling
“Kenapa kamu tidak bisa melihat dengan benar?” dia berucap dingin, Efron,”tidak,”ucapnya gugup menutup kedua matanya,”ada apa?” Efron bertanya kepada Elena saat melihat dia menutup matanya.
Beberapa pelayan yang melintasi mereka, hanya bisa menatap ke depan dengan tatapan malu-malu, pikiran mereka bahkan sudah jauh melarat, sungguh mereka adalah pembantu yang sangat elit,”apakah mereka akan menjadi sosok pasangan yang baik?” dia bertanya,”apakah kamu lihat, mereka sama?” tanya wanita itu dengan alis matanya yang bertaut-tautan.
“Yah, apakah kamu juga tidak melihat bahwa mereka sangatlah berlawanan?” Dia mencoba untuk membela diri,”jelas, maka dari itu saya mengatakan bahwa mereka bahkan tidak pernah bisa untuk bersama,” dia mengatakan hal itu tanpa mengedipkan mata sama sekali.
Pelayan itu menggaruk tengkuknya yang sama sekali.tidak gatal, dia mencoba untuk membenarkan apa yang ada di dalam hatinya,”anda salah, tidak mungkin di dunia ini yang sempurna menikah dengan sempurna, apakah kamu pernah melihat itu?” dia bertanya dengan nada suara yang khas.
Mereka tertawa karena kebodohan yang natural mereka punya,”ayolah, mari kita pergi dari sini, saya rasa anda salah fokus,” pelayan yang kalah bersaing tadi mengatakan hal itu.
Mata Efron dan juga Elena masih bertaut-tautan, mereka bahkan sangat enggan untuk membuangnya pandangan, hingga akhirnya sekarang mereka harus memisahkan pandangan ketika supir datang.
“Hallo, Tuan ada yang menghubungi Tuan,”dia menunduk datang dan menghancurkan suasana.
“Apakah dia adalah orang yang penting?” Pertanyaan itu seolah mengarah untuk Efron yang tidak ingin membahas hal-hal yang tidak penting.
“Sepertinya saya kurang mengetahui hal tersebut, karena dia hanya berbicara melalui sambungan ponsel ini,”dia menunjukkan ponselnya yang berwarna hitam.
Panggilan itu segera tersambung kembali, tidak tahu mengapa, suara itu sepertinya sangat khas di dengar oleh Efron,”apakah ada alasan mengapa kamu ingin mendengarkan suara saya?” dia bertanya, sembari meninggalkan Elena yang masih terpaku di depan sana.
“Ya, astaga, apakah dia kira aku ini adalah barang, yang selalu di tinggal-tinggalkan,”dia mengelus, sepertinya Elena akan pergi ke tempat yang lebih mewah lagi.
“Biadap kamu, siapakah kamu, jangan harap kamu bisa tidur nyenyak, setelah menganggu saya,”itu umpatan yang dia keluarkan tanpa pikir panjang kepada orang yang sedang menghubungi dirinya.
“Baiklah, jangan berharap kita akan tetap tinggal diam, kalau kamu masih terus seperti ini,”seseorang yang berada di sana, semakin menjadi-jadi.
“Apakah ini mansion yang sesungguhnya?”
Dia bergumam, kaki panjang yang putih serta kuku putih miliknya, kali ini telah berada di belakang mansion Efron.
“Waw, bunga ini, bunga ini kenapa cantik sekali, warna-warni,”dia mencopot satu bunga itu dan segera memasangkan pada daun kupingnya,”sepertinya ini akan menjadi tempat yang selau aku kunjungi,”dia berjalan dengan langkah kaki yang melompat-lompat sedikit karena rasa girang yang sungguh membuatnya merasa istimewa.
“Apakah yang kamu lakukan di situ?” suara dari belakang datang dan membuat seketika wajah dari Elena menentang,”apakah, siapakah itu?” Elena mencoba untuk memutar badannya pelan, dia bahkan tidak tahu mengapa ada orang seperti itu.
“Apakah kamu adalah pencuri?” pertanyaan itu membuat elena harus segera berlari, ingin sekali dirinya mendapati sosok Efron.
Namun, sebelum dia berlari ternyata orang penjaga mansion itu telah mengengam erat pergelangan tangan dari Elena, sehingga membuat Elena bahkan tidak bisa lagi untuk mengatakan apa-apa.
“Lepaskan aku, aku mengenal Tuan Efron, aku adalah tunangannya,”dengan suara yang besar dia mengatakan hal itu, dengan pergelangan tangan yang berusaha dia lepaskan dari tangan lelaki itu.
“Hahahah,” tawa lelaki itu seakan dia tidak mempercayai apa yang di katakan oleh Elena.
“Tidak mungkin, apakah aku adalah lelaki bodoh, yang dengan mudahnya melepaskan kamu, dan membiarkan kamu di sini mencuri segalanya?” lelaki itu semakin mengencangkan genganmannya, dia membawa Elena ke hadapan Efron.
Efron yang berada di seberang sana, menatap ke depan dengan tatapan ganas, bagaimana mungkin wanita yang dia bawa ke mansionnya, di perlakukan seperti seorang pencuri?
“Ada apa, kenapa kamu membawa dia ke hadapan ku seperti ini, dia adalah tamu,” dugg... jantung lelaki itu berdebat dengan kencang, dia bahkan takut kalau nanti mendapatkan hukuman dari Tuannya sendiri.
“Maaf, jangan salahkan dia,”ucap mereka berdua bersamaan membuat Efron bingung mengapa Elena mengatakan seperti itu.
“Saya yang salah Tuan, saya yang mengira bahwa dia adalah pencuri," ucapnya menunduk.
Mata Elena terbuka, ia mendengus kesal. Ternyata semua itu adalah mimpi.