Terpesona

1476 Words
Tristan merasa bersalah karena telah mengecewakan Byanca. Sebenarnya, sebagai seorang laki-laki tubuhnya tidak bisa menolak, namun Tristan selalu teringat janjinya pada Pramudya. Tristan merasa kesal sendiri dengan janjinya, sementara Byanca begitu mempesona setelah menjadi istrinya. Tristan memang baru menyadari kecantikan Byanca, memperhatikan wajah Byanca saat tidur menjadi kesenangan tersendiri buatnya. Ditatapnya lekat-lekat wajah Byanca, ada penyesalan kenapa selama ini dia tidak menyadari bahwa Byanca begitu menarik. Selain sifat lembut dan keibuan, Byanca juga sahabat yang baik. Byanca selalu mendengarkan kekesalan Tristan, dan selalu bisa menenangkannya. Namun Tristan tidak tahu perasaan Byanca seperti apa karena Byanca tidak pernah mengungkapkan isi hatinya. Dia memang sahabat yang buruk, tidak mau memahami sahabatnya tapi selalu minta di pahami. Karena semalam tidak bisa tidur demi menahan hasratnya, akhirnya Tristan bangun kesiangan. Byanca yang sedikit kecewa dengan Tristan tersenyum melihat suaminya masih tertidur dengan memeluk guling. Apa guling lebih menarik dari aku, pikir Byanca. Byanca segera menepis pikiran konyolnya, apalagi semalam dia sempat berpikir untuk memakai pakaian tidur yang sedikit terbuka. Karena malu akhirnya diurungkannya, kalau sampai dia memakainya dia akan sangat malu pada Tristan saat ini. Segera membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim, satu hal yang tidak pernah dia tinggalkan. Byanca tidak tega membangunkan Tristan, membiarkan Tristan bangun sendiri. Dia tahu semua umat muslim jika belum melaksanakan kewajiban akan bangun sendiri meski tanpa di bangunkan, itu sudah tersimpan dalam memorinya. Byanca ke dapur untuk membantu Ibunya memasak. Fatimah sudah berkutat di dapur, melihat putrinya tidak terlihat habis keramas membuat ibunya khawatir, apakah memang Tristan tidak mau menyentuh putrinya. Membayangkan hal itu membuat Fatimah sedih. "Nduk, apa kalian tidak melakukannya?" tanya sang ibu hati-hati takut putrinya malu. Byanca tersenyum malu karena ibunya menanyakan hal seperti itu. Tapi dia sadar akan kekhawatiran ibunya karena dia hanya sebagai pengganti. "Kamu yang sabar ya,Nduk mungkin Tristan butuh waktu untuk menerimamu," ucap Fatimah akhirnya karena sudah menduga apa yang terjadi. Bima yang baru bangun tidur langsung ke dapur, kebiasaannya selalu minum air hangat saat pagi bangun tidur. Mengamati adiknya, pikirannya sama dengan ibunya, apakah Tristan tidak menunaikan kewajiban sebagai seorang suami, pikirnya. Meskipun belum menikah, tapi Bima bukan laki-laki polos yang tidak tahu seperti apa seharusnya orang menikah itu. Dia menduga-duga bahwa Tristan telah mengecewakan adiknya. Hatinya seketika panas membayangkan perasaan sakit hati adiknya, dia akan membuat perhitungan jika Tristan mengabaikan adiknya. Sarapan sudah siap, Byanca menata makanan di meja makan. Bima seperti biasa selalu pertama kali berada di meja makan. Dia selalu lapar saat melihat ibu dan adiknya memasak. "Nduk, panggil suamimu," pinta Fatimah. Byanca langsung menuju kamarnya untuk memanggil suaminya, dibukanya pelan pintu kamar, melongokkan kepalanya. Byanca segera menarik lagi kepalanya karena ternyata Tristan sedang ganti baju, dia tersenyum sendiri melihat otot Tristan tanpa tertutup sehelai benang. Dadanya bergemuruh, tidak pernah sekalipun dia melihat tubuh laki-laki. Wajahnya memerah menahan malu karena pikiran kotornya sudah kemana-mana. Byanca masih berdiri di depan pintu meredam perasaannya, tidak menyadari tiba-tiba pintu kamar di buka Tristan. Karena dalam posisi menyandar akhirnya Byanca terjatuh ke belakang dan dengan cepat Tristan menangkap tubuh Byanca. Seperti tersengat listrik, tubuh mereka sama-sama merespon. Debaran d**a keduanya berpacu, ini adalah pertama kali mereka dalam posisi sedekat itu. Menyadari kekonyolan ini akhirnya Byanca segera menguasai tubuhnya, namun karena grogi akhirnya tubuhnya malah jatuh lagi dan kini posisi mereka berpelukan. Dalam posisi sedekat itu wajah Byanca begitu mempesona, Tristan tidak bisa menolak pesona Byanca akhirnya Tristan mendaratkan kecupan di bibir Byanca. "Maaf," ucap Tristan canggung. Wajah Byanca merona mendapatkan ciuman dari Tristan, dia menunduk karena takut jika Tristan melihat perubahan wajahnya. "Ayo sarapan dulu," ucap Byanca sambil berlalu dari hadapan Tristan. Tristan mengutuk kebodohannya karena begitu lancang mencium Byanca, dia takut kalau Byanca malah membencinya karena menciumnya tanpa izin. Byanca segera mendahului Tristan menuju meja makan dengan perasaan gugup, disentuhnya bibir yang telah ternoda. Mengingat kejadian tidak terduga itu membuat wajahnya masih memerah. Byanca menunduk menghadap makanan yang tersaji, Tristan duduk di samping Byanca dengan kikuk. Bima memperhatikan kedua pasangan yang terlihat malu-malu itu, ada rona bahagia terlihat di wajah adiknya, akhirnya keinginannya untuk membuat perhitungan pada Tristan diurungkan. "Ayo Tristan, di makan, jangan sungkan," ucap Fatimah sambil mengambilkan lauk untuk menantunya. Fatimah ingin membuat menantunya nyaman tinggal di rumahnya. "Assalamualaikum!" Terdengar suara salam dari luar, tanpa menunggu jawaban sang tamu langsung masuk rumah. Dia Bastian, sudah menjadi kebiasaannya selalu meminta sarapan masakan ibunya, padahal di rumah sudah dimasakkan oleh istrinya. Namun sebelum makan masakan ibunya dia belum merasa puas. "Waalaikumsalam." Byanca langsung mengambilkan nasi untuk kakaknya, kebiasaan itu tidak berubah. Byanca sangat menghormati dan menyayangi kedua kakaknya. Bastian mengacak rambut adiknya. "Terima kasih, Adikku sayang," ucap Bastian. "Mas, rambutku berantakan nih," protes Byanca dan langsung merapikan rambutnya. Kali ini Byanca menggerai rambut panjangnya dan tidak menggunakan kacamata, itu kenapa Tristan terpesona melihat Byanca. Setelah kedatangan Bastian, suasana sedikit mencair. Kedua kakak laki-laki Byanca tidak berhenti menggoda adiknya. Tristan merasakan kehangatan keluarga barunya itu. Setelah bercengkrama dengan keluarga, mereka akhirnya berangkat ke tempat kerja masing-masing. Byanca juga bersiap untuk berangkat kerja karena dia tidak mengambil cuti dan memang tidak ada rencana untuk cuti. Tristan juga akhirnya berangkat bekerja tidak jadi mengambil cuti. Byanca beberapa kali mengganti pakaiannya, ingin terlihat cantik di hadapan suaminya. Begitulah orang yang sedang jatuh cinta. Memang tidak biasanya Byanca memperhatikan penampilannya, pakaian yang dia punya juga tidak seberapa, kini dia merasa pakaiannya sudah tidak layak dipakai. Byanca ingat beberapa bulan yang lalu dibelikan baju oleh kakak iparnya, karena menurutnya baju itu terlalu bagus akhirnya baju itu hanya menjadi penghuni lemari saja. Kakak iparnya begitu perhatian dengan Byanca, dia hanya ingin adik iparnya terlihat cantik. Dia tahu sebenarnya Byanca sangat cantik, tapi karena Byanca tidak pernah peduli dengan penampilannya akhirnya dia terlihat biasa saja. Berkali-kali Byanca mematut dirinya di depan cermin untuk memastikan penampilannya terlalu norak atau tidak. Blus warna biru muda dan celana hitam terlihat pas di tubuhnya. Dengan menyapukan bedak tipis dan sedikit lipstik membuatnya semakin cantik, rambut panjangnya digerai dan tidak memakai kacamatanya, terlihat berbeda dari biasanya. Setelah memastikan penampilannya sudah sempurna, Byanca keluar kamar menemui Tristan untuk bekerja bersama. Tristan tertegun melihat Byanca, berkali-kali dia berdecak kagum dengan ciptaan Tuhan yang begitu sempurna itu. Hidung mancung, mata indah dan lesung pipi yang terlihat saat tersenyum membuat Byanca makin cantik. Pandangan matanya tidak beralih sedikitpun hingga membuat Byanca salah tingkah. Melihat Byanca dan Tristan saling pandang membuat Fatimah lega, Tristan terlihat kagum pada Byanca, begitulah yang terlihat. Dalam hatinya memuji putrinya yang memang cantik, gestur wajah yang didapatkan dari mendiang suaminya. Ya, suaminya memang laki-laki tampan dia sangat bersyukur telah dipilih padahal banyak perempuan cantik yang antri untuk di nikahi. Setelah beberapa detik saling mengagumi akhirnya mereka berangkat ke kantor. Dalam perjalanan yang canggung, sesekali Tristan mencuri-curi pandang. Mereka telah sampai di kantor, masih canggung mereka berjalan beriringan. Padahal sebelum menjadi pasangan suami istri mereka biasa berjalan beriringan, namun kali ini beda. Ada debaran di hati mereka hingga membuat mereka merasa malu jalan berdampingan. "Cie … pengantin baru sudah berangkat kerja saja!" seru Sultan rekan kerja paling rese. Mendengar seruan Sultan membuat seluruh mata tertuju pada mereka berdua. Semua rekan kerjanya langsung berdiri menyambut dan menggoda mereka. "Byanca, makin cantik saja," ucap Rini dan di iyakan oleh semuanya. Byanca memang selalu ramah dan suka membantu, itu kenapa Byanca sangat disukai oleh rekan kerjanya. Dan kabar yang mengejutkan tentang pernikahan antara Byanca dan Tristan malah mendapat dukungan dari teman-temannya. "Sudah, ayo kerja lagi," ucap Rizki menyudahi sambutan pada kedua temannya takut jika atasan mereka melihat. Namun, dukungan rekan kerjanya yang ikut bahagia atas pernikahan Tristan dan Byanca membuat sepasang mata melihat penuh iri. Pramudya tidak tertarik ikut mendekati pasangan pengantin baru itu, hatinya terlalu sakit melihat mereka berdua. Apalagi saat melihat Byanca terlihat bahagia. Byanca mencari berjambang yang biasa menyambutnya saat dirinya datang, senyuman yang selalu disunggingkan dan tepukan di pundaknya sekedar memberi semangat. Di hari pernikahannya dan sampai saat ini, Byanca belum mendapat ucapan selamat dari Pramudya. Dia akan menagih ucapan selamat dari sahabatnya itu. Memindai seluruh ruangan mencari sosok yang selalu menyambutnya hangat. Terlihat di dalam ruangan, orang yang dicarinya sedang sibuk menekuri laptopnya. Byanca langsung menuju ruangan Pramudya, mendekatinya seperti biasa. "Hei dicariin ternyata sudah kerja saja, tumben rajin," sapa Byanca sambil mendekat disamping Pramudya lalu melihat laptop yang sedang ditekuri Pramudya. "Kenapa kamu tidak mengucapkan selamat?" tanya Byanca. "Selamat ya," jawab Pramudya sambil terus matanya menatap layar laptop untuk menutupi debaran di hatinya. "Cuma gitu aja?" "Kemarin sudah memberi selamat pada Tristan, kurasa sama saja," jawab Pramudya lagi. Byanca masih tidak menyadari perubahan pada sahabatnya itu, hatinya terlalu bahagia bisa bersatu dengan orang yang dicintainya. "Sudah selesai belum?" tanya Byanca tentang pekerjaan yang sedang digarap Pramudya. Mereka memang jadi satu tim lagi untuk menggarap proyek pembangunan Mall. Byanca mengamati laptop Pramudya, rambutnya mengenai wajah Pramudya. Dinikmatinya sejenak wangi rambut wanita yang sangat dicintainya itu. Dalam posisi sedekat itu membuat jantungnya terasa ingin lepas. Sedangkan di ujung ruangan, Tristan menatap kedua sahabatnya itu dengan perasaan cemburu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD