Tristan merasakan hatinya panas melihat kedekatan Byanca dan Pramudya, padahal mereka berdua memang dari dulu sedekat itu. Karena sekarang statusnya berbeda, jadi Tristan merasa tidak suka dengan kedekatan mereka berdua.
Semua teman kantor mereka mengetahui hubungan ketiga sahabat itu. Mereka bertiga selalu kompak, bahkan dalam setiap pekerjaan mereka bertiga selalu menjadi satu tim.
Semua orang sudah menduga bahwa persahabatan mereka suatu saat akan ternoda oleh cinta. Terlihat jelas bahwa Pramudya begitu mencintai Byanca, namun kini Byanca menikah dengan Tristan.
Sejak hari pernikahan Tristan dan Byanca, Pramudya seperti tidak bersemangat, sangat kentara sekali dari perilakunya.
Selesai melihat pekerjaan Pramudya yang masih 30% itu, Byanca menuju meja kerjanya yang tidak jauh dari tempat Pramudya.
Tristan masih terus saja memperhatikan Byanca dari jarak enam meter, setelah melihat Byanca di meja kerjanya hatinya lega.
Ditatapnya lekat wajah Byanca yang secerah mentari pagi ini, membayangkan kejadian tadi pagi saat dia tidak bisa menahan untuk tidak mencium Byanca, Tristan sampai tersenyum sendiri mengingatnya.
"Senyum-senyum aja pengantin baru ini, ingat belah duren ya?" ucapan Sandi yang berada di depannya mengagetkan lamunannya.
"Gimana rasanya?"
Tristan memukul Sandi dengan map yang ada di depannya, akhirnya membuat semua orang tertawa dengan keusilan Sandi.
Byanca yang mendengar ucapan Sandi langsung menunduk malu, bisa-bisanya Sandi menanyakan hal itu sebagai bahan candaan, pikir Byanca.
Sedangkan hati Pramudya panas mendengar guyonan yang dilontarkan Sandi, pikirannya melayang jauh membayangkan Tristan menyentuh Byanca. Dia tidak rela jika Byanca sudah disentuh oleh Tristan.
Setelah berkutat dengan pekerjaan akhirnya jam waktu pulang sudah tiba dimana semua orang sudah merindukan keluarga mereka untuk menghilangkan rasa lelah, karena senyuman keluarga sebagai pengobat rasa lelah.
Tristan hampir saja melupakan Byanca, dia masuk ke mobil dan saat akan melajukan mobilnya dia melihat Byanca berlari menuju mobilnya.
Seketika Tristan tersadar telah meninggalkan Byanca karena biasanya Byanca pulang dan berangkat kerja bersama Pramudya.
Tristan mengutuk kebodohannya karena beberapa rekan kerjanya melihat kejadian itu. Byanca menunduk menunjukkan kalau dia sedang malu, tapi dia juga berusaha memahami keadaan Tristan yang mungkin saja memang masih belum terbiasa dengan hubungan mereka.
Tristan segera turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Byanca kemudian meminta maaf.
"Maaf ya, aku belum terbiasa," ucapnya sungkan takut menyakiti hati Byanca.
Byanca tersenyum, "Nggak apa-apa," ucap Byanca.
Byanca masuk ke mobil dengan perasaan yang, entahlah. Dia sadar kalau dia hanya pengganti, sebagai pengganti pasti sering dilupakan, itu yang ada dipikirannya.
"Aku akan membiasakan diri, maaf ya," ucap Tristan sekali lagi meminta maaf.
Melihat kejadian itu Pramudya sebenarnya ingin sekali mengantar Byanca, namun dia masih berusaha menahan diri.
Sampai di rumah, ternyata sudah berkumpul semua anggota keluarga Byanca termasuk Bastian bersama istrinya juga sudah ada.
Byanca langsung memeluk kakak iparnya, ingin sekali dia bercerita bahwa dia bahagia karena bisa bersama dengan orang yang dia cintai.
Semua keluarganya memang mengetahui bahwa Byanca mencintai Tristan, mereka ikut bahagia karena impian Byanca terwujud meski hanya sebagai pengganti.
"Kamu bahagia?" tanya sang kakak ipar lirih.
Byanca mengangguk dan tersenyum lalu memeluk kakak iparnya lagi.
"Selamat ya, mudah-mudahan kalian bahagia dan berjodoh selamanya."
"Aamiin."
Setelah menemui keluarganya Tristan dan Byanca ke kamarnya untuk membersihkan diri dan menunaikan Shalat ashar.
Byanca mandi setelah Tristan selesai mandi, karena Tristan hanya memakai handuk saat keluar kamar mandi, Byanca langsung masuk ke kamar mandi tanpa melihat ke arah Tristan. Terlalu malu jika melihat Tristan berpakaian di depannya.
Selesai mandi, ternyata Byanca lupa membawa handuk dan baju ganti. Byanca melongokkan kepalanya di pintu mencari keberadaan Tristan.
"Tristan, tolong ambilkan handukku," pinta Byanca.
Tristan mengambilkan handuk dan memberikan pada Byanca, sejenak melihat wajah Byanca saat setelah mandi.
'Kenapa makin cantik saat basah gini' pikir Tristan. Jakunnya naik turun melihat Byanca dalam keadaan seperti itu.
Setelah memakai handuk, Byanca ragu untuk keluar kamar mandi dia merasa malu jika keluar hanya memakai handuk lalu memanggil Tristan lagi yang sudah siap menunggunya untuk Shalat.
"Tristan, tolong ambilkan bajuku," pinta Byanca lagi.
Tristan membuka lemari, mencari pakaian Byanca. Seketika Byanca ingat, bagaimana kalau Tristan melihat celana dalamnya yang ada di lemari pasti memalukan sekali, pikirnya.
"Tristan, jangan!" pekik Byanca.
Tristan bingung dengan Byanca lalu berbalik ke arah Byanca.
"Kamu keluar ya, aku ganti baju dulu," pinta Byanca. Tristan paham dengan maksud Byanca, dia tersenyum karena melihat celana dalam milik Byanca.
"kenapa warna pink semua," pikir Tristan.
Tristan keluar kamar memberi ruang agar Byanca mengganti baju.
"kenapa lucu sekali sih kamu" ucap Tristan dalam hati sambil tersenyum sendiri, tak pernah terpikirkan bahwa Byanca begitu menggemaskan.
Setelah beberapa menit, Tristan mengetuk pintu menanyakan apakah Byanca sudah selesai mengganti bajunya.
Kedua kakak Byanca tertawa melihat adegan yang menurut mereka lucu. Byanca usianya memang sudah matang namun untuk urusan cinta dia masih lugu.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Byanca membukakan pintu, sudah terlihat dia memakai mukena.
Mereka berdua melaksanakan Shalat ashar berjamaah. Selesai melaksanakan Shalat dan berdoa, Tristan menghadap ke arah Byanca lalu menyalaminya.
Tristan menatap lekat istrinya, dia sudah mulai terbiasa melihat wajah manis Byanca. Memang mereka telah akrab selama lima tahun, namun Tristan merasa Byanca seperti orang yang baru dia kenal. Byanca sangat berbeda dari yang selama ini dia kenal, ada sisi lain yang membuat Tristan mulai merasakan perasaan beda dari biasanya.
Selesai Shalat, Tristan segera keluar kamar, dia ingin segera berbaur dengan keluarga Byanca.
Byanca masih melipat mukena, tiba-tiba Tristan mengatakan sesuatu yang sukses membuatnya malu.
"Kenapa pink semua?" ucap Tristan sambil tersenyum usil ke arah Byanca.
Byanca tersentak dan mukanya langsung memerah karena malu.
Saat Tristan keluar dari kamar, Byanca langsung mengambil semua celana dalam dan bra yang berwarna pink itu dan menyembunyikan di bawah pakaian yang lain.
"Pink 'kan lucu, kenapa aku jadi malu melihatnya sekarang" pikir Byanca.
Tristan sudah berkumpul dengan keluarga Byanca, kedua kakak iparnya sudah menerimanya bahkan mereka sudah bercanda bersama. Menertawakan kebiasaan Byanca yang tidak di ketahui oleh Tristan.
Entah apa karena dia terlalu fokus dengan Adelia hingga dia tidak memperhatikan secara detail tentang Byanca.
Byanca ikut bergabung dengan keluarganya, dia duduk di dekat kakak iparnya. Hubungan Byanca dan Sari kakak iparnya memang dekat, Sari tidak pernah iri meski Bastian sangat menyayangi adiknya karena Sari juga tulus menyayangi adik iparnya itu.
Sari mengusap rambut adiknya yang menyandar di bahunya, ikut bahagia melihat adiknya bahagia. Dia tahu selama lima tahun Byanca menahan rasa cinta dan menahan rasa cemburu melihat Tristan bersama Adelia.
"Byan, ini Mas kembalikan," ucap Bastian sambil mengulurkan kunci rumah.
Selama ini Bastian menempati rumah Byanca karena rumahnya masih belum selesai di bangun.
"Kenapa, Kak," tanya Byanca heran.
"Rumah Kakak sudah selesai, kami mau pindahan besok," ucap Bastian.
"Beneran sudah selesai, Kak?"
"Iya. Makanya ini Kakak balikin, biar bisa kamu tempati dengan Tristan. Kalau di rumah sendiri 'kan nggak ada yang ganggu. Apalagi ada jomblo di sini, bisa pengen dia," kelakar Bastian menggoda kedua adiknya.
Bima yang mendengar kelakar kakaknya melempar bantal kursi ke arah Bastian.
"Makanya cepet kawin. Truk aja gandengan masa kamu nggak," kelakar Bastian lagi dengan menirukan iklan di tivi.
Akhirnya Bima meninggalkan tempat itu karena tidak kuat digoda kakaknya.
"pengen juga kawin, tapi sama siapa?" sungutnya kesal.
Dan semua menertawakan satu-satunya jomblo di situ.
Tristan tertawa melihat tingkah keluarga Byanca, dia bersyukur karena bisa menjadi bagian dari keluarga ini.
"Terima kasih ya, Sayang sudah pinjami kami tempat tinggal. O,iya perabot rumah nggak Kakak bawa, Kakak sudah beli yang baru," ucap Sari sambil masih mengelus rambut adiknya.
"Beneran, Kak?" tanya Byanca.
"Iya, Adikku yang cantik," jawab Sari sambil mencubit hidung mancung Byanca.
Sang ibu keluar dari dapur, karena anak-anaknya sedang berkumpul Fatimah membuatkan makanan untuk anak-anaknya. Dia memang senang sekali membuat makanan untuk anak-anaknya, pekerjaan itu memang menyenangkan baginya.
Melihat sang ibu membawa kue mereka langsung menyerbu, Tristan pun tidak sungkan ikut menyerbu kue yang dibawa Fatimah, sebelumnya juga Tristan sudah sering dibuatkan kue oleh ibunya Byanca.
Hal yang membuat Fatimah senang adalah melihat anak-anaknya rukun, dia memang tidak pernah membedakan anak-anaknya, itu sebabnya anak-anaknya selalu rukun.