Setelah bercengkrama bersama keluarga, Bastian dan istrinya pamit pulang sedangkan Bima memilih keluar untuk nongkrong bersama teman-temannya. Dia tidak mau baper melihat pasangan pengantin baru yang terlihat malu-malu itu.
Fatimah masih setia dengan sinetron yang biasa ditontonnya, sedangkan Byanca dan Tristan memilih untuk ke kamar.
Biasanya Byanca membawa pekerjaannya pulang, namun kali ini dia ingin menikmati kebersamaannya dengan Tristan.
Byanca duduk menyandar di ranjang diikuti oleh Tristan, mereka ingin menghilangkan rasa canggung dengan menikmati kebersamaan.
Ternyata menikah dengan sahabat itu tidak semudah yang dibayangkan, lebih rumit dari menikah dengan orang yang tidak dikenal.
"Byan, aku mau bicara," ucap Tristan sambil memasang wajah serius.
Byanca mendengarkan apa yang akan dikatakan Tristan, dia sudah mulai tidak bisa mengontrol detak jantungnya.
"Sini mendekat." Tristan menepuk kasur agar Byanca mendekat.
"Ada apa?" tanya Byanca sudah dalam posisi siap untuk mendengarkan.
Tristan mendekat ke telinga Byanca lalu berbisik. " Kenapa pink semua, kamu suka warna pink ya?"
"Tristan!" pekik Byanca sambil menutupi mukanya dengan kedua tangannya.
Tristan tertawa melihat ekspresi wajah Byanca, lalu dengan masih canggung memeluk Byanca.
Tidak ada penolakan dari Byanca, debaran d**a mereka saling bertautan. Karena takut terdengar satu sama lain, akhirnya Byanca dan Tristan saling melepas pelukan dan tertawa menyadari kekonyolan mereka.
"Aku baru tahu kalau kamu suka warna pink."
"Tristan, jangan dibahas lagi," ucap Byanca sambil pura-pura cemberut.
"Maaf."
Sejenak mereka masih membisu, tidak tahu harus membahas apa.
"Byan, apa kamu tidak terpaksa menikah denganku?" tanya Tristan serius, hal ini memang mengganggu pikirannya.
Byanca diam berpikir harus menjawab apa karena tidak mungkin dia mengatakan perasaannya.
"Tidak," jawab Byanca singkat.
"Apa kamu tidak sedang dekat dengan siapapun?" tanya Tristan lagi untuk memastikan.
"Aku? Bukankah aku lagi dekat denganmu?"
"Byan, aku serius."
"Aku juga serius, Tristan."
Tristan tidak menemukan jawaban karena Byanca tidak mau mengatakan yang sebenarnya. Byanca malu kalau Tristan tahu yang sebenarnya tentang perasaannya.
Setelah pembicaraan yang serius itu akhirnya mereka merebahkan diri. Tristan masih grogi dengan keadaan itu, sedangkan Byanca masih mengharapkan lebih.
"Apaan sih Byan, jangan mikir yang aneh-aneh," ucap Byanca dalam hati.
Membayangkan pikiran kotornya Byanca tersenyum sendiri lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tidak ingin pikiran kotornya terlihat oleh Tristan.
Tristan melihat tingkah Byanca jadi geli sendiri, apalagi terlihat Byanca di dalam selimut bergerak-gerak.
"Kenapa lucu sekali sih kamu" ucap Tristan dalam hati.
Malam ini adalah malam ketiga pernikahan mereka dan Tristan berusaha menahan dirinya untuk tidak menyentuh Byanca meski dalam hatinya ingin sekali melakukannya.
Akhirnya mereka berdua tertidur dengan mimpi masing-masing.
***
Tristan sudah bangun sesaat sebelum subuh, menjadi kebiasaannya sekarang menikmati wajah ayu Byanca.
Rasa cinta tiba-tiba tumbuh begitu saja tanpa diminta, tiga malam mereka bersama menumbuhkan rasa yang tak biasa saat bersama.
Tristan merasa lebih nyaman saat bersama Byanca daripada bersama Adelia. Tristan merasa istrinya itu begitu manis.
Byanca terbangun saat Tristan mendekati wajahnya, dia terperanjat dan akhirnya kening mereka saling membentur.
"Sakit!" Byanca mengusap keningnya, begitupun Tristan.
"Kenapa tiba-tiba bangun?" tanya Tristan.
"Kamu kenapa dekat-dekat?" Byanca balik bertanya.
"Apa tidak boleh dekat-dekat istri sendiri?"
Byanca memalingkan wajahnya teringat kalau bangun tidur, mungkin saja Tristan melihatnya tidur sambil mangap. Memalukan sekali, pikirnya.
"Kamu cantik kalau tidur," ucap Tristan sambil berlalu meninggalkan Byanca untuk ke kamar mandi.
Mendengar pujian Tristan, Byanca langsung mematut dirinya di cermin. Memastikan apa yang dikatakan Tristan itu benar atau tidak. Konyol.
Memang cinta itu terkadang membuat orang menjadi konyol.
Selesai di kamar mandi Tristan bersiap untuk Shalat subuh, digelarnya dua sajadah dan menyiapkan mukena untuk Byanca.
Melihat Tristan sudah siap Byanca langsung masuk ke kamar mandi membersihkan diri.
Selesai Shalat, Tristan masih ingin menggoda Byanca, mengingat malam tadi ingin rasanya menanyakan apa yang sedang dipikirkan istrinya itu.
"Byan, semalam kamu memikirkan apa?"
Byanca yang sedang melipat mukena kaget dengan pertanyaan Tristan. Memangnya aku sedang memikirkan apa? pikir Byanca.
"Apa kamu tidak meminta hakmu sebagai istri?"
Byanca masih mencerna ucapan Tristan. Memang aku menginginkan apa? pikir Byanca lagi.
"Maaf ya, aku masih belum bisa melaksanakan kewajiban sebagai suami, tapi akan aku coba."
"Bicara apa sih kamu?" Byanca yang sudah paham arah pembicaraan Tristan tersipu malu, memang semua orang yang menikah pasti akan melakukannya namun bagi Tristan dan Byanca butuh waktu untuk melakukannya.
"Aku serius, Byan."
Sejenak mereka diam menguasai perasaannya. Tristan memang mulai mencintai Byanca tapi dia terjebak dengan janjinya sendiri. Namun, jika dia mengabaikan Byanca bukankah itu sangat jahat.
"O iya, nanti kita pindahan ke cluster ya, Mas Bas tadi kirim pesan kalau dia sudah pindahan," ucap Byanca mengalihkan topik pembicaraan.
"Masa aku numpang sama kamu, seharusnya aku yang memberi tempat tinggal untuk kamu, Byan."
"Ya nggak apa-apa daripada rumahku nggak ada yang menempati."
"Tapi aku nggak enak."
"Bukankah kita suami istri, milikku dan milikmu jadi milik kita," ucap Byanca.
"Kamu salah, Byan. Milikku jadi milikmu sedang milikmu tetap jadi milikmu," ucap Tristan meluruskan pandangan Byanca.
"Mau milikku atau milikmu yang jelas kita sudah bersama. Ayo siap-siap kita pindah ya," ucap Byanca sambil mengambil koper untuk memasukkan pakaiannya.
"Sudah izin Ibu?" tanya Tristan.
"Sudah."
Mereka mengemasi barang-barang mereka untuk pindah ke rumah Byanca. Sebenarnya Tristan merasa tidak enak karena harus tinggal di rumah Byanca namun tidak ada pilihan lain karena Tristan sendiri belum punya rumah.
Setelah mengemasi barang-barangnya, mereka berdua pamit pada ibunya. Sang ibu juga sudah rela membiarkan mereka hidup jauh darinya. Melihat Tristan yang sudah terlihat mulai menampakkan cintanya membuat Fatimah tidak khawatir dengan rumah tangga anaknya.
Tristan begitu takjub dengan pencapaian Byanca, padahal mereka bekerja dalam waktu yang sama, tapi Byanca sudah bisa membeli rumah, sedangkan dirinya tidak tahu uangnya dibuat apa saja oleh Adelia.
Tristan begitu malu karena dia sebagai kepala rumah tangga malah numpang di rumah istrinya. Dalam hatinya berjanji dia akan bekerja keras untuk membahagiakan Byanca.
***
Dengan petunjuk Byanca mobil Tristan menuju Cluster milik Byanca.
Tristan memang belum pernah ke cluster itu, karena waktu Byanca membeli Cluster, Tristan tidak ikut dirinya terlalu sibuk dengan Adelia.
"Tan, aku kabari Pram dulu ya kalau kita pindah rumah?"
Tristan kaget dengan ucapan Byanca, sebenarnya dia tidak mau Pramudya tahu kalau dia pindah ke cluster Byanca, perasaannya jadi tidak enak karena kalau Pramudya tahu mereka tinggal berdua pasti Pramudya bisa bebas mengawasi Tristan.
"Halo Pram, kamu ke cluster ya," sapa Byanca saat tersambung dengan ponsel Pramudya.
"Kalian tinggal di cluster? Lalu Mas Bas?" tanya Pram.
"Rumah Mas Bas sudah jadi, mereka sudah pindahan kemarin," jawab Byanca.
"Kapan-kapan ya, aku sekarang masih sibuk," jawab Pramudya.
"Oke, aku tunggu ya."
Memang Byanca selalu cerita apapun dengan Pramudya, dia merasa nyaman bercerita dengan Pramudya tanpa ada rasa apapun.
Pramudya senang mendengar kepindahan mereka, setidaknya Pramudya merasa lebih mudah mengintimidasi Tristan.
Pramudya tidak rela jika Tristan menyentuh Byanca, dia akan memastikan Tristan memenuhi janjinya untuk tidak menyentuh Byanca. Dia berencana besok pagi-pagi akan mengunjungi pengantin baru tersebut.
Pramudya punya rencana untuk mengetahui Tristan benar-benar bisa dipercaya atau tidak.
"Bagaimana?" tanya Tristan penasaran apakah Pramudya akan langsung mendatanginya atau tidak.
"Masih sibuk katanya."
Tristan berpikir kalau Pramudya sudah mau menerima pernikahannya dengan Byanca, dia lega akhirnya bisa tenang menjalani pernikahannya.
Byanca memilih membeli Cluster yang tergolong mewah ini karena disini keamanan terjamin, di pintu gerbang masuk ke Cluster ada security yang berjaga 24 jam, dan cctv di area perumahan, serta yang paling Byanca suka dia bisa berinteraksi dengan tetangga karena tidak ada batasan pagar yang memisahkan antara cluster.
Tristan melihat seluruh ruangan yang menurutnya memang tempat tinggal yang nyaman. Dia merasa malu pada diri sendiri kenapa dia tidak punya apa-apa padahal gajinya juga lumayan besar. Mengingat gajinya, Tristan hampir lupa untuk mengganti nomor rekening gajinya karena kartu ATMnya di bawa Adelia.
Menyadari kebodohannya, kalau tahu jadi begini dia akan menjalin hubungan dengan Byanca dari dulu, mungkin akan bisa beli rumah juga, Pikirnya.
Setelah menyadarinya, Tristan makin jatuh cinta dengan Byanca meskipun baru merasakan cinta namun dia yakin dengan cintanya.