Semua keluarga setuju dengan ucapan nenek. Mau tidak mau jika ingin pernikahan itu tetap terlaksana, keluarga harus mencarikan pengantin pengganti.
Tristan pasrah dengan rencana keluarganya, dia tidak lagi memikirkan perasaannya. Pikirannya masih tertuju pada kekecewaan hatinya. Dia masih berharap bahwa besok Adelia datang di hari pernikahannya dengan senyum manis yang selalu dia sunggingkan.
Keluarga masih berunding mencari calon untuk Tristan. Sang nenek malah terlihat tenang karena dia sudah punya pilihan. Ya, gadis manis berkacamata yang kini sedang menenangkan menantunya itu. Dia selalu senang dengan Byanca sejak mengenalnya lima tahun yang lalu.
"Lalu siapa yang bisa menggantikan Adelia?" ucap Sarah masih dalam keadaan bingung. Seharusnya hari ini dia mempersiapkan diri untuk besok menerima tamu undangan.
"Tristan, coba kamu pilih siapa kira-kira yang ingin kamu nikahi. Kami sudah menawarkan pada kerabat yang lain tapi anak mereka belum ada yang siap untuk menikah ," ucap Haris pamannya.
Tristan menggeleng. Sudah seperti barang rongsokan saja sampai harus di tawarkan, pikir Tristan.
Anggara mondar-mandir dengan pikiran mencari sosok perempuan yang pantas untuk anaknya. Tristan pantas mendapat wanita yang baik, pikirnya.
Seketika matanya tertuju pada gadis manis yang dari tadi selalu ada disamping istrinya itu.
"Byanca," gumam Anggara.
"Kenapa kalian bingung, calonnya sudah ada disini," ucap sang nenek dan langsung membuat semua orang di ruangan itu menoleh kearahnya. Termasuk Tristan yang saat ini jadi pusat perhatian.
"Byanca, kamu mau 'kan menggantikan Adelia?" tanya nenek pada Byanca.
Perempuan yang disebut namanya itu langsung menatap kearah nenek, tidak percaya dengan permintaan wanita yang selalu memanggilnya cucu menantu itu. Byanca tahu nenek hanya bercanda memanggilnya seperti itu, tapi kenapa nenek memintanya menggantikan Adelia.
"Iya, benar juga, mereka berdua 'kan sudah lama berteman," ucap Haris membenarkan ucapan ibunya.
"Saya setuju, Bu," ucap Anggara yang memang pikirannya tertuju pada gadis itu.
Sarah menyadari kebodohannya, kenapa tidak terpikirkan dari tadi. Sejak siang Byanca selalu bersamanya, dan ibu Byanca juga ada disini. Ya, karena persahabatan anaknya membuat kedua orang tua mereka juga berteman. Itu kenapa ibu Byanca juga ada di rumahnya saat ini.
Sarah langsung memegang tangan Byanca, dia memohon pada gadis itu tanpa menunggu persetujuan dari Tristan.
"Mau ya, Byan?" tanya Sarah.
Byanca, gadis manis yang sejak pertama masuk ke perguruan tinggi sudah jatuh hati pada Tristan.
Mereka berdua satu kampus tapi beda jurusan. Karena seringnya berpapasan saat di kampus akhirnya mereka berdua berteman. Sebelum berteman dengan Tristan, Byanca sudah berteman dengan Pramudya. Akhirnya mereka bertiga menjadi sahabat yang selalu bersama, sampai saat ini mereka bertiga sering menggarap proyek bersama.
Byanca yang sebagai arsitek, Tristan teknik sipil dan Pramudya sebagai pembuat rancangan infrastruktur.
Rasa cintanya dipendam karena dia tahu kalau Tristan mencintai Adelia. Dan karena ingin melihat orang yang dicintai bahagia akhir Byanca berusaha menjodohkan mereka berdua.
Byanca menatap Tristan, menunggu persetujuan dari laki-laki yang selama ini didambanya. Dia tahu kalau hanya sebagai pengganti, tapi jika itu memang yang terbaik untuk keluarga sahabatnya dia bersedia menjadi istri Tristan.
Byanca mengangguk memberi tanda bahwa dia mau menerima pernikahan itu.
Tristan menatap sahabatnya itu, dia sangat berterima kasih karena Byanca mau menolongnya untuk kesekian kalinya.
Pramudya yang mencintai Byanca, menatap kearah Tristan. Berharap Tristan menolak menikah dengan Byanca karena Tristan tahu perasaannya pada Byanca. Namun Tristan tidak menyadari tatapan tidak suka dari Pramudya.
Setelah semua sepakat dan Byanca juga mau menjadi pengantin pengganti, Anggara meminta istrinya menemui Fatimah ibunya Byanca.
Fatimah memang tidak tahu apa yang terjadi, dia hanya mendengar kalau Adelia tidak bisa dihubungi. Fatimah sudah beristirahat di kamar belakang karena tidak mau ikut campur urusan keluarga Tristan. Dia disitu hanya membantu memasak saja.
"Bu Fatimah, apa ibu sudah tidur?" panggil Sarah sambil mengetuk pintu kamar.
Fatimah yang hampir saja terbuai mimpi berusaha mengumpulkan nyawanya. Dia bangkit dari tidurnya, mengucek matanya berusaha membuka mata karena kantuk yang begitu mendera.
Dia berjalan menuju pintu sambil menguap, dibukanya pintu kamar.
Sarah yang berada di depan pintu meminta izin untuk berbicara.
"Bu Fatimah, boleh saya masuk?" tanya Sarah.
"Mari, Bu Sarah silahkan," Fatimah membiarkan sang pemilik rumah masuk ke kamar yang ditempatinya.
"Sebelumnya saya dan keluarga minta maaf."
Fatimah mendengarkan ucapan Sarah dengan perasaan menduga-duga, ada apa sebenarnya. Dilihatnya jam di dinding menunjukkan pukul dua belas malam.
"Iya, ada apa, Bu?" tanya Fatimah masih dengan perasaan penasaran.
"Begini, Bu." Sarah menjeda ucapannya. Sungguh ini bukan hal yang mudah baginya, dia takut kalau permintaannya menyinggung perasaan wanita di depannya itu.
Fatimah masih sabar menunggu Sarah menjeda ucapannya.
"Saya meminta izin untuk menikahkan Byanca dengan Tristan," ucap Sarah hati-hati.
"Apa maksudnya ini, Bu?" tanya Fatimah tidak mengerti dengan ucapan Sarah. Bagaimana bisa tiba-tiba meminta Byanca menikah dengan Tristan padahal besok adalah pernikahan Tristan dengan Adelia. Apa Tristan akan menikahi dua gadis sekaligus, pikirnya.
"Adelia membatalkan pernikahan ini."
"Kabur?"
Sarah mengangguk dan berkata:" Tolong kami, Bu. Pernikahan Tristan harus tetap berlangsung, karena besok adalah hari pernikahannya."
"Tapi, bagaimana dengan Byanca?"
"Byanca bersedia menikah dengan Tristan. Kami tinggal meminta izin dari Bu Fatimah," ucap Sarah penuh dengan permohonan.
"Saya akan bicara dengan Byanca dulu ya, Bu," pinta Fatimah. Dia tidak ingin pernikahan anaknya hanya pura-pura. Pernikahan itu suci, dia ingin pernikahan anaknya terjadi sekali seumur hidup.
"Iya, Bu. Saya panggilan Byanca dulu," ucap Sarah lalu keluar kamar menuju ruang keluarga untuk memanggil Byanca.
Byanca menemui ibunya di dalam kamar. Berjalan penuh keyakinan bahwa yang dilakukannya itu benar.
"Sini, Nduk," panggil Fatimah lembut pada putri bungsunya itu.
Byanca duduk di samping ibunya, bersiap mendengarkan ucapan ibunya.
"Apa yang dibicarakan Bu Sarah itu benar?" tanya Fatimah.
"Iya, Bu."
"Kamu sudah memikirkannya baik-baik, Nduk?"
"Insya Allah, Bu," jawab Byanca.
"Ya sudah kalau itu menjadi keputusanmu. Tapi ibu berharap ini adalah pernikahan pertama dan terakhirmu. Meskipun kamu menjadi pengganti, tapi ibu mohon jangan main-main dengan pernikahan," ujar Fatimah sungguh-sungguh.
"Byanca janji akan menjalankan pernikahan ini dengan baik dan akan berusaha menjadi istri yang baik," ucap Byanca.
"Kalau begitu kamu telpon Masmu, minta izin," pinta Fatimah.
Byanca mengambil ponselnya, menekan nama Bastian Kakak pertamanya.
Karena sudah larut malam, panggilan teleponnya tidak diangkat.
Akhirnya opsi kedua adalah menelepon Kakak keduanya, Bima.
Sang pemilik nomor langsung menerima panggilan dari adik kesayangannya itu.
"Iya, Dek." Suara ramah Bima menyapa Byanca.
"Mas, ini Ibu mau ngomong." Byanca memberikan ponselnya pada sang ibu.
"Ada apa, Bu. Ibu baik-baik saja 'kan?" tanya Bima khawatir.
"Ibu baik kok, Le. Begini, ibu mau izin untuk menikahkan Byanca."
"Memangnya sudah ada yang mau?" kelakar Bima.
"Ibu serius, Bima."
Bima menghentikan tawanya, sebenarnya dia tidak yakin kalau adiknya mau menikah. Yang dia tahu adiknya menyukai Tristan, dan saat ini seharusnya Tristan menikahi kekasihnya.
"Dengan siapa, Bu?"
"Dengan Tristan," jawab Fatimah.
Bima tidak percaya dengan apa yang didengar.
"Byanca tidak bercanda 'kan?"
"Iya, besok adalah hari pernikahan adikmu. Kamu harus datang," ujar Fatimah.
"Kenapa tiba-tiba begini, Bu? Byanca tidak sedang hamil 'kan?" tanya Bima khawatir.
"Hus, sembarangan. Adikmu menggantikan pengantin wanitanya," jelas ibu.
Mendengar ucapan ibunya, Bima malah semakin kaget. Apa seburuk itu adiknya hingga hanya dijadikan pengantin pengganti. Padahal menurutnya adiknya itu manis, bahkan saking manisnya Bisa selalu ingin menggoda adiknya.
"Ibu yakin merestui pernikahan itu?" tanya Bima ibunya.
"Iya, Ibu percaya kalau Tristan itu laki-laki yang baik," jawab ibu penuh keyakinan.
"Ya sudah kalau ibu memberi restu, besok Bima akan kesana bareng Kak Bas," ucap Bima akhirnya.
Setelah mendapatkan restu dari keluarganya, Byanca pamit pada ibunya untuk menemui keluarga Tristan.
Semua keluarga menyambut baik calon pengantin pengganti itu. Tidak ada yang buruk dari Byanca, dia gadis yang baik, pintar dan juga manis.
"Bi, kamu istirahat dulu biar besok pagi siap untuk acara pernikahan kalian," ucap Sarah pada calon menantunya itu.
Byanca kembali lagi ke kamar yang ditempati ibunya. Sang ibu sudah merebahkan tubuhnya di ranjang. Pikiran keduanya menerawang jauh. Karena ini memang terjadi sangat tiba-tiba.
***
Semua keluarga Tristan membubarkan diri karena malam telah larut, segera beristirahat untuk menyiapkan diri di acara pernikahan besok.
Tristan masih berada di tempatnya, menyandarkan tubuhnya. Memahami takdir hidupnya yang tidak terduga.
Pramudya yang masih tidak menerima keputusan bahwa Tristan dan Byanca akan menikah besok, berusaha mencari jawaban pada Tristan.
"Tristan, apa yang kamu lakukan? Kamu tahu 'kan kalau aku mencintai Byanca. Kenapa kamu mau menerima Byanca sebagian pengganti Adelia?" ucap Pramudya dengan tatapan tajam, tidak suka.
Tristan yang baru menyadari bahwa pernikahannya dengan Byanca akan menyakiti Pramudya, bahkan mungkin menyakiti Byanca. Selama ini dia tahu kalau Pramudya menyukai Byanca, tapi Tristan tidak tahu siapa laki-laki yang dicintai Byanca. Sungguh sahabat macam apa dia. Tapi ibarat nasi sudah menjadi bubur, keputusan sudah diambil tinggal beberapa jam saja pernikahan berlangsung.
"Maaf, Pram. Aku terpaksa," jawab Tristan.
Pramudya berdecak kesal, sudah lama dia pendam perasaannya, saat dia ingin mengatakan perasaannya usai pernikahan Tristan malah kenyataan pahit yang dia terima.
"Aku janji setelah enam bulan pernikahan, aku akan menceraikan Byanca dalam keadaan suci," jawab Tristan. Memang tujuan pernikahannya hanya untuk menutupi malu keluarganya.
"Bisa kamu pegang kata-katamu?" ucap Pramudya.
Tristan mengangguk meyakinkan Pramudya, dia tidak akan mengkhianati sahabatnya itu.
Setelah mendengar ucapan Tristan, Pramudya pamit dengan perasaan kalut. Dia tidak yakin dengan janji sahabatnya itu. Tapi Pramudya akan terus menagih janji Tristan pada saatnya nanti. Dia akan membuat perhitungan jika Tristan melanggar janjinya.
Setelah kepulangan Pramudya, Tristan menuju kamarnya untuk merebahkan tubuhnya. Meskipun malam ini dia yakin tidak bisa tidur, namun dia tetap berusaha memejamkan matanya.
Pikirannya kini tertuju pada kekecewaan Pramudya dan juga perasaan Byanca, dia takut pernikahan ini akan menyakiti hati kedua sahabatnya itu. Namun Tristan tidak punya pilihan selain tetap melanjutkan pernikahannya.