Pernikahan

1384 Words
Pagi ini semua keluarga sibuk untuk menyiapkan kedatangan tamu undangan siang nanti, dan acara ijab kabul akan dilaksanakan satu jam lagi. Sarah menghubungi keponakannya untuk sedikit mengecilkan kebaya pengantin yang di pesan untuk Adelia karena tubuh Byanca sedikit lebih kecil dari Adelia. Sementara itu sambil menunggu kebaya di antar, Byanca di rias. MUA yang datang melihat karakter wajah Byanca, karena sebelumnya mereka sudah melihat Adelia. Hanya sekedar menyamakan karakter orangnya saja agar riasan terlihat natural, itu permintaan Sarah saat mereka datang. Saat sedang di rias, Tristan mendatangi Byanca. Dia ingin memastikan kalau Byanca siap untuk pernikahannya tanpa terpaksa. "Kamu siap, Bi?" tanya Tristan khawatir. Byanca hanya mengangguk, dadanya bergemuruh. Entah kenapa saat ini Byanca merasa tidak baik-baik saja. Dia juga tidak tahu ada apa dengan hatinya. Setelah memastikan Byanca terlihat baik, Tristan merasa tenang untuk melanjutkan pernikahannya. Tristan merasa ada yang beda dari Byanca, entah apa, yang jelas Byanca terlihat lebih cantik padahal belum selesai di rias. Entah karena sekarang pikiran Tristan tertuju pada Byanca atau karena apa, dia tidak tahu kenapa Byanca beda dari biasanya. Tristan mematut dirinya di cermin, dia terlihat gagah dengan jas warna hitam dan kemeja warna putih. Dengan memakai peci hitam semakin menambah ketampanannya. Pintu kamar diketuk, suara ibu memanggilnya. "Tan, ada Kakaknya Byanca ingin ketemu kamu," ucap Sarah sambil memperhatikan penampilan putranya. Tristan langsung keluar dari kamar. Seketika sadar kalau dia belum meminta izin pada kedua kakak Byanca. Kedua kakak Byanca sudah duduk di ruang tamu, wajahnya terlihat kaku menatap tajam Tristan hingga membuat nyali Tristan menciut. Tristan menyalami calon kakak iparnya lalu duduk dengan kikuk karena tatapan tajam keduanya. "Tristan, terus terang kami kaget mendapat kabar ini. Byanca itu adik kesayangan kami, jangan sampai pernikahan ini kamu buat main-main," ucap Bima tanpa basa-basi. Tidak ada senyum sedikitpun dibibir Bima padahal yang Tristan tahu Bima itu orangnya humoris. "Kalau kamu berpikir pernikahan ini hanya sekedar menutupi malu keluargamu, lebih baik kamu batalkan," imbuh Bastian penuh ancaman. Memang dari dulu Tristan sangat segan dengan kakak tertua Byanca itu, lebih tepatnya takut. Mengingat waktu pertama Tristan dan Byanca berteman, Bastian tidak suka dengan Tristan. Dia tidak mau adiknya dekat dengan laki-laki meskipun hanya berteman. Itu kenapa setiap bertemu Bastian, Tristan takut apalagi tampang Bastian yang menakutkan dengan jambang yang tebalnya. Tristan menunduk, memang tujuan awalnya menikah dengan Byanca hanya untuk menutupi malu keluarga. Tristan bingung harus berkata apa, dan posisinya saat ini tidak ada pilihan kecuali tetap menikah. "Kami memberimu izin menikahi Byanca, tapi jangan harap kamu bisa main-main dengan pernikahan ini. Jangan sampai setelah pernikahan ini kamu menceraikan Byanca. Aku akan memberimu pelajaran," ucap Bima sambil mengepalkan tangannya. Setelah mengucapkan itu, kedua kakak Byanca meninggalkan Tristan yang masih meredam ketakutannya. Dia bingung, sementara tadi malam dia berjanji pada Pramudya akan menceraikan Byanca setelah enam bulan pernikahan. "Ayo kita berangkat." Anggara mengagetkan Tristan yang sedang merenungi perasaannya. "Kamu gugup?" tanya sang ayah. Tristan mengangguk, tidak mungkin juga dia menceritakan pada ayahnya tentang apa yang sedang dipikirkannya. "Kamu jalani saja, mungkin ini memang jalan hidupmu dan Byanca adalah jodohmu," ucap Anggara seperti tahu apa yang dipikirkan putranya. Mereka berdua akhirnya berjalan menuju masjid tempat acara ijab kabul, persiapannya juga dadakan. Mereka baru mengabari kantor urusan agama untuk mengganti mempelai perempuan. Karena surat-surat yang awal sudah jadi, akhirnya untuk pernikahan kali ini hanya pencatatan saja. Para kerabat sudah berkumpul, para tetangga yang tidak mengetahui masalahnya bertanya-tanya kenapa pernikahannya di adakan di rumah mempelai pria dan di masjid itu juga baru tadi pagi keluarga meminta izin untuk mengadakan pernikahan. Mereka hanya berbisik-bisik menduga apa yang sedang terjadi. Setelah petugas KUA datang, Tristan didampingi sang ayah duduk di depan meja yang sudah disiapkan dan sebagai wali nikahnya adalah Bastian kakak tertua Byanca. Melihat wajah Bastian membuat Tristan grogi, apalagi ancaman yang dia sampaikan tadi. Bastian benar-benar tidak memperlihatkan keramahan sedikitpun. Anggara menyadari ketakutan putranya, pikirnya semua mempelai pria akan mengalami perasaan takut, grogi dan malu, mungkin juga Tristan mengalami hal yang sama seperti saat dia menikah dulu. Anggara tidak tahu kalau perasaan Tristan lebih dari itu. "Bismillah, Insyaallah ini jalan terbaik buat kamu," bisik Anggara pada putranya. Setelah beberapa saat, pengantin perempuan datang dengan didampingi Sarah dan Fatimah. Semua mata tertuju pada gadis itu. Yang mereka tahu, Byanca itu gadis sederhana tidak ada yang istimewa darinya, mereka tak percaya kalau Byanca ternyata sangat cantik. Tristan bahkan tidak berkedip melihat Byanca yang terlihat cantik saat ini. Hatinya berdebar entah sejak kapan tiba-tiba dia grogi melihat sahabatnya itu. Anggara menyenggol Tristan agar segera fokus untuk ijab kabul yang akan segera dilaksanakan. Dia mengingatkan agar tidak salah mengucapkan nama mempelai wanitanya. Akhirnya ijab kabul pun dimulai. Dengan perasaan berdebar, Tristan mengucap ijab kabul dengan terbata. "Saya terima nikahnya Byanca Rahman Binti Rahman dengan Mas Kawin yang tersebut tunai." "Barakallahu Laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir" Ucapan doa menggema terdengar di seluruh ruangan. Perasaan haru dan lega dirasakan semua keluarga. Tristan mendekat ke arah Byanca, memberikan mas kawin pada sahabat yang kini berstatus istrinya. Byanca menyalami Tristan penuh takzim, dia masih tidak percaya dengan takdirnya. Sebuah harapan yang tidak pernah dia pikirkan akan terwujud, harapan menjadi istri Tristan kini benar-benar terwujud. Byanca menitikkan air mata karena haru. Tristan tidak bisa menggambarkan perasaannya, rasa takut, bingung, sedih dan bahagia menjadi satu membuatnya menarik nafas dalam-dalam karena perasaan itu menghimpit rongga dadanya. Setelah acara ijab kabul selesai, kini kedua mempelai beserta keluarga menuju gedung untuk acara resepsi, Adelia lah yang meminta acara resepsi pernikahan di gedung. Sebenarnya keluarga Tristan lebih suka acara sederhana saja. Namun demi memenuhi permintaan sang mempelai perempuan, akhirnya Tristan mengeluarkan budget yang tak sedikit untuk acara resepsi pernikahannya. Tristan menggandeng tangan Byanca menuju mobil yang sudah disiapkan oleh keluarga. Mobil yang dihias sedemikian rupa sebagai tanda bahwa mobil itu membawa sepasang pengantin. Masih terlihat nama pengantin perempuan yang baru diganti. Saat mereka berdua akan menuju mobil sambil bergandengan tangan, Pramudya datang menatap tajam ke arah Tristan lalu tatapannya mengarah ke tangan Tristan yang saling bertautan dengan tangan Byanca. Seketika Tristan melepas genggaman tangannya demi menjaga hati sahabatnya. Byanca merasa heran dengan kedua sahabatnya karena tidak tahu ada apa diantara keduanya. Dia bertanya-tanya dalam hati kenapa saat ada Pramudya, Tristan melepas genggamannya. Apa Tristan malu, pikirnya. Mereka berdua masuk ke dalam mobil menuju tempat resepsi pernikahan berlangsung. Di sebuah gedung mewah yang harga sewanya saja mencapai dua bulan gaji Tristan. Dia memang ingin memberikan yang terbaik untuk orang terkasihnya, siapa sangka sang kekasih meninggalkannya tanpa kejelasan. Para tamu undangan sudah mulai berdatangan, satu persatu mereka menyalami kedua mempelai. Tidak ada yang menyadari kalau mempelai perempuannya adalah pengganti kecuali keluarga dekat Tristan. Byanca sangat anggun dengan kebaya yang dipakainya, Pramudya tak bisa melepas pandangannya dari wanita yang dicintainya dalam diam selama lima tahun. Byanca tidak pernah menyadari cinta Pramudya, hati Byanca sudah terpaut pada sosok Tristan yang juga tidak menyadari kalau Byanca mencintainya. Acara resepsi pernikahan pun selesai, mereka berdua kembali ke rumah. Masih merasa canggung dengan perubahan status antara keduanya, akhirnya mereka saling membisu selama di perjalanan. Di rumah keluarga Tristan masih ramai kerabat, bahkan ada saja tamu yang datang di rumah mereka. Tristan dan Byanca segera membersihkan diri karena seharian menemui tamu undangan, untuk pertama kalinya mereka shalat berjamaah sebagai suami istri. Seusai shalat, Tristan mengucapkan doa ritual pengantin baru lalu mengecup kening Byanca. Perasaan gugup dan canggung diantara keduanya membuat mereka masih membisu, padahal biasanya mereka saling melempar guyonan jika bertemu. Tristan pamit ke luar karena beberapa kerabat mereka ingin bertemu, sedangkan Byanca memilih untuk kembali ke kamar yang ditempati ibunya karena merasa canggung jika berada di kamar Tristan. Fatimah masih membantu Sarah di dapur karena tamu masih saja ada yang datang. Karena ibunya tidak ada, Byanca langsung merebahkan tubuhnya dia sangat lelah karena seharian harus berdiri menyalami tamu undangan. Setelah para tamu pulang, Fatimah menuju kamar yang ditempatinya untuk mengistirahatkan tubuhnya. Saat masuk ke dalam kamar, Fatimah kaget karena putrinya malah tidur ke kamarnya. "Nduk, kenapa tidur di sini?" tanya Fatimah lembut pada putrinya. "Eh, Ibu. Byanca tidur di sini dulu ya, capek banget," pinta Byanca. "Kenapa kamu tidak tidur di kamar Tristan?" tanya sang ibu. "Byan masih canggung, Bu. Untuk malam ini biar Byan tidur di sini ya, Bu?" pinta Byanca. "Ya sudah kalau begitu biar ibu izin sama Tristan." Karena tidak tega melihat putrinya yang terlihat lelah akhirnya Fatimah menemui Tristan meminta izin agar Byanca malam ini tidur bersamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD