1507

1571 Words
Raymond merasa ada yang mengusik tidurnya, tubuhnya menggeliat karena sodokan benda tumpul. Dia sudah cukup lelah untuk menanggapi hal itu, jadi dia membiarkan saja benda itu menyodok pinggangnya terus menerus. Tak berhenti disitu saja, kali ini ada hentakan yang lebih keras mendarat di bokongnya. Matanya masih belum mau untuk terbuka, seakan-akan ada lem alteco di garis matanya. “excuse me...sir?” Suara seorang wanita membuat mata Raymond otomatis terbuka. Dia seketika terjaga. Dari posisi tubuhnya yang sedang tengkurap, dia mencoba untuk menelaah situasi yang sedang ia hadapi sekarang. Kenapa ada seorang wanita di apartemennya. Meski agak terhalang oleh pundaknya, ia berusaha menyusuri ruangan apartemen. “wake up please..” ujar wanita itu sekali lagi, sekarang ditambah dengan goyangan di pundaknya. Raymond bangkit dari tidurnya, menurunkan kaki dari sofa dan duduk dengan sempurna. “what are you doing in my apartement?” tanya Raymond. “NO!, what are you doing in my apartment?” tanya wanita itu balik. Kedua alis yang terlukis sempurna itu menyatu karena terkejut mendengar pertanyaan Raymond. Raymond mengucek matanya dan mulai mengamati ke sekeliling ruangan dengan lebih seksama. Mukanya memerah sesaat dia tahu kalau ini bukan tempat tinggalnya. Dia salah masuk. dia langsung memeriksa pakaiannya. Masih sama seperti yang semalam ia pakai. “semalam kamu tiba-tiba datang dalam keadaan mabuk, lalu langsung tidur” ujar wanita itu. “maaf....maaf..kemarin saya nggak sadar..oh..” Raymond langsung buru-buru pergi dengan wajah malu meninggalkan wanita yang juga sedang kebingungan. Tanpa sempat memakai sepatunya, dia keluar dari apartemen cewek itu. Dia melihat nomor apartemennya, 1507 yang memang bukan tempat tinggalnya. “b**o bener dah, bisa salah sih?” Raymond bergeser ke pintu apartemen yang berada tepat di sebelahnya. Dia memencet password kunci dan berhasil membuka pintu apartemennya. Dia langsung menuju kamarnya, merebahkan tubuhnya dan memeriksa ponselnya yang ternyata banyak miscall dan pesan yang belum ia buka. Tangan kanannya dengan cekatan menyentuh layar menggeser ke atas dan ke bawah sambil tangan kirinya mulai melucuti kancing bajunya. Beberapa panggilan dari Gino dan Jefri, serta Ibunya. Dia memeriksa pesan dari Ibunya. Pesan yang berisi kabar tentang Ayahnya yang masuk rumah sakit lagi. Dia terduduk di ranjang. Penyakit Ayahnya kambuh lagi, dan itu pasti membutuhkan waktu lama untuk perawatannya. Selain karena sudah sepuh, badannya yang juga ringkih membuat berbagai penyakit menyerangnya. Raymond langsung menghubungi Ibunya. “Halo Bu?” “iya Nak” “Ayah gimana?” “sekarang sudah di rumah sakit, Ayah besok mau dioperasi. Kali ini ibu minta kamu pulang ya?” Agak lama Raymond berpikir. “nanti siang aku kabari lagi ya Bu, aku usahain bisa pulang Malang” Terdengar suara desahan Ibu. Seakan-akan sudah tahu kalau alasan itu alasan basi yang selalu dipakai Raymond untuk menolak secara halus. “ya sudah, tapi Ibu harap kali ini kamu bisa pulang ya Nak” “Ray usahakan ya Bu” “iya nak” Raymond mengakhiri pembicaraan dengan hati galau. Kondisi Ayahnya kali ini tampaknya lebih serius dari sebelumnya. Ijin cutinya tahun ini masih belum ia pakai sama sekali. Bukan itu kendalanya dia tidak mengambil cuti, melainkan jabatannya sebagai Head Chef menjadi pikulan beban baginya karena tidak ingin mempertaruhkan reputasi Hotel dan Restorannya. Dia melemparkan ponsel ke ranjang lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan bersiap-siap untuk bekerja. Sejenak melupakan masalahnya ia berangkat menuju tempat kerjanya. Sesampainya di dapur, posisinya sudah di gantikan oleh Ashton. “hei” Raymond berdiri di samping Ashton. “hei?” jawab Ashton heran. Bukan itu yang ingin dia dengar dari mulut Raymond. “I’m sorry, Ash” “ffhh.. that’s okay” jawab Ashton sambil memeriksa sajian dihadapannya. “waitress!” Ashton memberikan piring pada Waitress. “baru kali ini kamu terlambat, ada masalah?” “tidak ada” “hmm.. okay” jawab Ashton. Ashton berpura-pura mengelap meja menunggu tanggapan lebih dari Raymond. Dia sudah hafal gelagat Raymond yang memperlihatkan kalau ada masalah yang sedang dipikirannya. Raymond melirik Ashton yang masih belum meninggalkan mejanya. “oke oke... gantikan aku hari ini, please” pinta Raymond dengan wajah sedikit kesal karena Ashton pasti menunggu kata-kata itu keluar dari mulutnya. “kenapa?” Ashton melipat kedua tangannya di depan d**a. “hhhh...masalah keluarga..” “oke” jawab Ashton cepat. “thanks, I’ll treat you later” “can’t wait” Raymond melepaskan apronnya lalu pergi meninggalkan dapur. Dia pergi menuju ruang karyawan. Dia pergi menuju ruang karyawan. Dia duduk termenung sambil memandangi foto keluarganya. Ayah yang dia kagumi kini harus melemah karena gerusan penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Tidak ada yang bisa dia lakukan sekalipun dia kembali ke Indonesia. Penyakit kambuhan itu tidak ada bisa hilang begitu saja. beberapa kali operasi sudah dijalani. Pengobatan alternatif pun juga sudah dilakoni, tapi belum bisa menghilangkan penyakitnya. Sekembalinya dari menenangkan pikiran di ruang karyawan Raymond kembali menggantikan Ashton dan mulai bekerja hingga Restoran tutup. Meskipun tidak terlalu ramai tapi pekerjaan di bidang kuliner sangatlah melelahkan. Dia paham atas resiko itu tapi karena dia sudah berjuang demi pencapaiannya sekarang, dia tidak akan menyerah dengan keadaan.                                                                                ---------- --------------- Malam itu Jenny baru saja pulang dari kuliahnya. Perempuan Indonesia yang berwajah manis ini sedang melakukan penelitian untuk penelitian S2 Manajemennya. Meskipun sebenarnya dia sama sekali tidak menyukai bidang marketing, tapi karena keinginan orangtuanya untuk mencalonkan dia sebagai penerus pengurus perusahaan nanti, tentu saja dia harus menuruti permintaan mereka. Belajar dan melakukan penelitian ini itu hingga malam hari bukanlah hal yang baru bagi Jenny. Sejak kuliah S1 dia juga sudah menempuh perkuliahan hingga malam hari. Belum lagi beberapa kegiatan organisasi kampus yang ia masuki, juga butuh perhatian. Tapi apa daya keinginan untuk menjadi karateka nasional kandas karena permintaan Ayahnya, yang menginginkan Jenny menjadi pegawai kantoran. Dengan alasan khawatir atau nggak enak diliat tetangga, satu-satunya anak cewek tingkahnya kayak cowok suka berkelahi. Bahkan Jenny sudah berkali-kali memberi penjelasan bahwa dia tidak ikut Kumite-istilah untuk pertandingan fight 1 lawan 1- melainkan hanya Kata-istilah untuk pertandingan jurus secara individu atau kelompok-. Tapi yang orangtuanya tau hanyalah Karate adalah fight, jadi sesering apapun Jenny menjelaskan tidak akan mereka terima. Setelah selesai mandi dia bergegas pergi menuju dapur. Dia beruntung Ibunya baru saja 3 hari kemarin datang mengunjunginya. Itu artinya tidak usah susah payah dia untuk mengisi perutnya yang sudah kosong sejak tadi sore. Cheezy Meat Burger yang dia telan tidak cukup untuk mengisi lambungnya yang meskipun kecil tapi bisa mengembang seperti balon apabila diisi banyak makanan. Kali ini dia akan memasak yang sederhana saja, tumis daging, bawang bombay dan beberapa sayuran segar yang diiris tipis-tipis. Sayonara diet, begitu pikirnya. Genetik dari Neneknya tidak bisa hilang begitu saja hanya dengan diet. Aktifitas kuliahnya yang padat, begitu juga rapat organisasi official karate. Meskipun tidak bisa menjadi atlet tetapi dia tetap aktif dan menjabat sebagai official team karate di kampusnya. Pip..pip..pip..pip..pip..pip..piiiiiip Suara itu berulang hingga tiga kali. Jenny mematikan kompor yang sedang menumis daging. Dia berjalan menuju pintu dan mengintip dari lubang pintu. Di luar ada seorang pria yang sedang berusaha masuk, tapi tidak bisa membuka pintunya. Tentu saja dia mengenal pria itu, begitu juga seluruh penghuni gedung apartemen ini sangat mengenalnya dengan baik. Sungguh sebuah kehormatan bagi dirinya sendiri bisa bertetanggaan dengan seorang Chef terkenal se-Singapore. Tapi apa yang dia lakukan di depan apartemennya?. Suara kunci pintu kembali berbunyi, diakhiri dengan suara panjang yang menandakan bahwa password yang ia pencet tidak cocok. Jenny membuka pintu, Raymond lalu berhambur masuk. Tanpa sempat membuka sepatu dia merebahkan badannya di sofa. Jenny hanya bisa melongo melihat adegan ini. Tetangga yang selama setahun belakangan mencuri perhatiannya meluncur dengan lancar dan menyerahkan seluruh tubuhnya pada sebuah sofa. Sungguh beruntung sofa itu disentuh bahkan ditiduri oleh pria ini. Jenny mengedipkan matanya dan mengembalikan halunisasinya. Otaknya sudah kembali normal ke dunia nyata. “eee...maaf...halo..” Jenny menepuk pundak Raymon. Tidak ada reaksi balasan darinya. Yang keluar hanyalah suara erangan yang tidak jelas. Dari mulutnya sudah kentara sekali kalau sedang mabuk berat. Dia kembali menepuk pundaknya, kali ini tidak ada suara erangan. Jenny mendekatkan ujung telunjuknya ke bawah hidung Raymond, dan beruntung dia masih bernafas. Dia memandangi wajah pria yang sedang terlelap tidur itu. Diambilnya selimut baru dari lemari dan menyelimutkan ke badannya. Setelah puas memandangi terdengar suara erangan lagi. Kali ini bukan berasal dari Raymond, melainkan dari perutnya sendiri yang sempat terlupakan. Jenny kembali ke dapur dan menyalakan kompornya. Selang beberapa menit makanannya sudah jadi, dan dia mulai menyantapnya. Ponselnya berdering, nama sahabatnya muncul di layar. “hi.. lama banget sih nelfonnya?” tanya Jenny sambil tiduran di sofa, berseberangan dengan Raymond. “sorry, baru bangun tidur nih” jawab seseorang di seberang sana. “sudah kumpul semua keluarga Oma?” ”udah, yang dari Indonesia juga udah dateng semalem. Sekarang lagi siap-siap buat pergi ke acara pemakamannya. Kok belum tidur?” “Beb, aku lagi seneng banget nih, kayaknya nggak bisa tidur deh malem ini” “kamu nggak usah macem-macem ya! Jangan ikut..” “apaan ya? Aku belum selesai ngomong! Dengerin dulu” “heheehe iya iya sorry. gimana...gimana...” “kamu pernah aku ceritain tentang tetangga yang ganteng itu kan?” “iya..kamu udah jadian?! Ya ampuuunn..” “beloooom...dengerin dulu” Jenny memandangi lagi wajah Raymond yang sedang terpulas. “jadi ceritanya, dia salah masuk ke apartemen aku. Dia lagi kondisi mabuk, belum sempet aku bisa nanya nanya eh dia langsung ambruk aja ke ruang tamu dan sekarang di..a ti..dur di sofa aa..ku!” “yang bener! Gila lo, beruntung banget deh. Fotoin dong. Penasaran kayak gimana wajahnya” “oke, wait ya” Jenny meng-capture wajah Raymond, dan mengirimkannya pada sahabatnya melalui chat. Read. “halo Clara, kok mati? Hmm..”  Jenny mengirim pesan kepada sahabatna. J: Kok mati? C: Sorry Jen, aku buru-buru mau berangkat. Aku mau mandi dulu. J: oh oke, kalo lagi free kabarin lagi ya C: ya Jenny meletakkan ponselnya di meja kaca yang terletak diantara sofa. Ingin sekali dia menemani Raymond tidur di sofa. Tapi karena dirasa itu sangat berbahaya bagi kreatifitas imajinasinya, dia menyerahkan badannya pada kasur empuk yang ada di kamarnya. Rupanya makanan yang ia buat tadi sudah memberikan reaksinya. Matanya sudah mengantuk dan badannya sudah lelah. Biarkan dia mengimajinasikan Chef tampan itu lain kali, yang penting sekarang memberikan istirahat bagi otaknya yang sudah seharian ia pakai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD