Beberapa jam sebelum acara dimulai, beberapa karyawan restoran beserta chef sudah sibuk di dapur. Mereka mempersiapkan untuk acara jamuan di Hotel A yang kedatangan tamu seorang pengusaha dari Dubai. Kedatangan tamu besar ini untuk memperbincangkan masalah pembukaan hotel A cabang Dubai. Semua harus sempurna. Termasuk pelayanan hidangan dari restoran.
Raymond sudah sibuk di dapur, membawa sendok sambil mengelilingi station untuk mencicipi hidangan yang sedang diproses satu persatu. Wakil Manajer Restoran datang menghampiri Raymond, memberitahu bahwa tamu sudah mulai berdatangan.
“speed up guys!” perintah Raymond kepada Chef bawahannya.
“yes Chef!” jawab mereka.
Hidangan pembuka yang pertama sudah selesai, Raymond memeriksa piring jangan sampai ada noda atau kesalahan lainnya.
“waitress!” Raymond memberikan hidangan pertama pada waitress.
Hidangan satu persatu memenuhi meja Raymond. Dia memeriksa dengan sangat teliti detail dari sajian itu. Secara estafet waitress terus berdatangan ke dapur mengambil hidangan. Semuanya lancar hingga penyajian makanan utama, para waitress harus bolak-balik dari dapur menuju ruang makan untuk mengantarkan hidangan.
Kemudian salah satu waitress datang menghampiri Raymond dan membisiki sesuatu. Raymond mengangguk lalu berjalan di belakang waitress mengikutinya menuju ruang makan.
Waitress berhenti di salah satu meja yang diduduki oleh pengusaha, disana juga ada Wakil Manajer Hotel dan juga Wakil Manajer Restoran.
“this is very delicious” kata pengusaha itu dengan logat Timur Tengahnya.
“thank you sir, my pleasure to serve you the best food in here”
“hahaa.. I will visit here again next time”
“thank you sir, then please enjoy our last serve for dessert”
“oke oke, can’t wait it, it’s better you serve it quickly hahahaha”
Raymond langsung pamit dari meja dan pergi menuju dapur. Hidangan untuk makanan utama sudah selesai, dan para Chef sudah mulai untuk menyiapkan makanan penutup. Dengan bahan dasar buah kurma yang diimport langsung dari Arab, dia membuat resep sederhana namun memiliki rasa yang kompleks dan menggairahkan. Para chef mengikuti panduan dari Raymond dengan baik, sehingga mereka bisa menyajikan dessert itu dan berhasil memukau para tamu undangan.
Persiapan selama 3 jam dan proses penyajian selama 2 jam membuahkan hasil yang baik. Pengusaha Dubai itu menandatangani kontrak persetujuan kerjasama untuk pembukaan Hotel A cabang Dubai. Para chef dan waitress berkumpul di dapur untuk merayakan kesuksesan penyajian hari ini.
“Bos, bagaimana kalau kita lanjutkan pesta ini di Club C nanti malam?” ajak Gino.
“apa kalian semua pasti datang?” tanya Raymond
“yeeees”
“oke kalo gitu, saya ikut dan kalian akan saya traktir” balas Raymond sambil menepuk kantong celananya.
“yeea.. whooo..nice” para chef dan waitress menyoraki Raymond.
Mereka jadi kembali bersemangat untuk membereskan dapur. Raymond memang sering mengadakan kegiatan diluar bersama karyawan dapur, jadi mereka sudah paham kepribadian masing-masing. Waitress membawa piring terakhir ke tempat pencucian piring, dilanjutkan oleh cook helper yang terus menerus melakukan tugasnya untuk membersihkan piring-piring beserta peralatan dapur yang sudah terpakai.
Raymond berpindah menuju ruang staff. Dia membuka loker miliknya dan mendapati ada kotak dengan ukuran yang tidak terlalu besar dari lebar loker itu. berwarna peach dan di lingkari dengan pita sebagai pengikatnya. Di atas penutup kotak terdapat sebuah memo dengan tulisan tangan. Raymond membacanya cepat lalu tersenyum seperti anak kecil yang kegirangan karena diberi hadiah kesukaannya.
Dia mengurungkan niatnya untuk berganti pakaian. Dia lebih memilih untuk membuka kotak hadiah itu terlebih dahulu, daripada dia mati penasaran. Di dalamnya ternyata ada selimut buatan tangan ibunya. Selimut yang terbuat dari kain perca itu sama seperti selimut favoritnya saat masih kecil. Dia mengambil ponsel dari saku celananya. Dengan tombol cepat dia tidak perlu susah payah untuk mencari satu nama di kontak list. Kesunyian ruang karyawan diisi dengan nada sambung milik Raymond.
Dia menunggu dan menunggu, tapi operator sudah memberinya informasi bahwa Ibunya sedang tidak dapat menerima panggilan ini.
“tumben. Biasanya juga jam segini masih belum tidur” Raymond menyentuh nomor itu lagi. Tapi lagi-lagi tidak ada jawaban. Dia menyerah, dan berakhir dengan meninggalkan pesan untuk Ibunya. Dia mengantongi lagi ponselnya, dan mulai mencopoti seragamnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, itu pasti dari Ibunya. Dia membungkuk untuk melepaskan seragam yang masih tersangkut di lehernya. Dengan cepat dia merogoh saku celananya.
“halo..” dia baru melihat layar setelah mendengar bahwa itu bukan suara Ibunya. “iya ya sebentar lagi” dia mematikan panggilan dan dengan setengah membanting dia meletakkan ponselnya di bangku panjang yang ada di tengah-tengah ruangan ini. Setelah selesai mengganti seragamnya dengan pakaian yang lebih casual, dia segera pergi meninggalkan ruang karyawan.
Di parkiran hotel khusus karyawan, sudah menunggu rekan kerjanya sambil berdiri di samping mobilnya.
“kamu lama sekali Ray. Yang lain sudah pergi dari tadi” ujar Beni.
“I’m sorry. Lalu kenapa kalian masih disini juga, kenapa nggak ikut sama yang lain?”
“kita menunggumu karena, kita pingin ngerasain mobil barunya nih” Gino menanggapi pertanyaan Raymond.
“iyalah, berbagi kesenangan sama teman lah sekali-kali” celetuk Jefri yang ternyata sudah menempati bangku depan di sebelah pengemudi sesaat Raymond membuka auto-lock nya.
“hei, sejak kapan kamu disitu?” tunjuk Raymond pada Jefri. Dia membuka pintu pengemudi dan memasukkan badannya, disusul dengan temannya yang lain. mereka bereempat lalu pergi meninggalkan parkiran hotel menuju Club tempat mereka akan berpesta.
Club C merupakan salah satu destinasi baru yang wajib dikunjungi bagi para penggemar pesta. Design bangunannya artistik membuat Club C menjadi menarik. Raymond dan teman-teman lainnya mulai menikmati musik yang sudah terdengar dari depan. Beberapa teman yang pergi duluan sudah asyik berjoget di dance hall. Raymond memilih duduk saja di sofa tempat yang sudah mereka booking. Meskipun dia sudah sering mendatangi beberapa Club malam di Singapore tapi tetap saja dia tidak terbiasa dengan gemerlap dunia malam. Tapi karena itu penting demi pergaulannya bersama relasi yang lain, jadi dia terpaksa harus mengikuti arus trend.
“kenapa disini aja? Nggak turun?” tanya Jefri.
“you know lah”
“oke oke, kalo haus, order sendiri aja ya”
“sip” Raymond mengangguk kecil. Dia mengambil sebatang rokok yang ada di meja dan mulai menyulutnya. Dia meraba kantong celananya, dan baru sadar kalau ponselnya tertinggal di mobil. Penyakit pikun menyerangnya kali ini, tapi karena sudah terlalu malas untuk kembali ke parkiran, jadi dia membiarkannya.
Dari dalam mobil Ray, ponselnya nya terus bergetar dan berkedip-kedip. Di layar tertera 23 miscall dari Ibunya. Yang terakhir muncul pop-up message.
Ayahmu masuk rumah sakit lagi, ibu harap kamu bisa pulang kali ini
Pesan itu mengambang di udara, tanpa sepengetahuan Raymond.
---------------------------------------------------------------------------------
Gino terhuyung-huyung saat keluar dari taksi saat membantu Raymond berdiri dan membopongnya menuju apartemen tempat tinggal Raymond. Diantara mereka hanya Raymond yang bisa mengendarai mobil, karena itu mereka menitipkan mobil di parkiran club dan menggunakan taksi untuk sampai ke apartemen.
“makanya Bos kalo memang nggak kuat minum ya jangan sok kuat” ujar Gino. “selalu seperti ini, mereka juga ugh ..tega banget nyuruh saya yang antar kamu pulang”
“kamu itu kok cerewet sih No”
“bukan cerewet Bos, tapi males juga kalo tiap habis pesta nganterin pulang. Fee taksi dari sini ke rumah saya itu mahal”
“tenaaaang..hiks.. nih uang taksinya”
Raymond mengambil beberapa lembar uang dollar dari dompetnya dan memberikannya pada Gino. Pintu lift sudah terbuka, mereka lemudian masuk dan Gino memencet tombol menuju lantai apartemen milik Raymond.
“kamu langsung pulang saja, No” suruh Raymond setelah pintu lift terbuka di lantai yang ia pencet tadi.
“tapi kan belum sampe di apartemennya Bos?”
“aku bisa sendiri, kamu langsung pulang saja. makasih ya sudah nganterin saya” dengan badan yang limbung karena pengaruh alkohol dia berjalan keluar lift melewati lorong apartemen.
Gino menahan pintu lift sambil memandangi bosnya yang berjalan dengan limbung. Setelah dirasa Raymond sudah sampai di depan pintu, gino menutup pintu liftnya.
Raymond memencet password pintunya. Piiiip...piiiip kode yang ia pencet salah. Dia mengucek-ucek matanya, sambil memegangi kepalanya yang pusing. Dia mengulangi sekali lagi, dan kali ini berhasil. Pintu terbuka, dia langsung meringsek masuk dan merebahkan tubuhnya pada sofa. Otaknya sudah terlalu lelah untuk menyuruhnya berganti pakaian jadi dia membiarkannya dan langsung terlelap di sofa hingga keesokan paginya.
Keesokan paginya...