Wanita ku

1217 Words
Raymond kembali ke apartemen pribadinya yang berjarak hanya 6 kilometer dari hotel tempat kerjanya, Hotel A bintang tiga yang terletak di jantung perkotaan di Singapore. Pundaknya kaku setelah melayani costumer resto yang membludak pada saat weekend. Dia memutuskan untuk menyegarkan dirinya dengan berendam di bathtub, ditemani dengan musik jazz yang mengalun dari smartphone keluaran terbaru. Dia memijat lehernya yang kaku secara perlahan, dilanjutkan dengan pundak. Dia meraba raba bekas jahitan luka di lengan atasnya. Luka bekas yang timbul itu selalu mengingatkannya pada kecelakaan yang terjadi dua tahun lalu. Sebelumnya dia masih bekerja di Hotel A cabang Jakarta. Keinginannya merantau ke Jakarta meninggalkan kota kelahirannya di Malang sempat tidak mendapat restu dari orang tuanya, terutama ibunya. Sebagai anak tunggal dia pasti mendapatkan perhatian yang lebih, ditambah pula ibunya yang sangat khawatir bila berjauhan dengan anaknya. Raymond dengan pasti meyakinkan ibunya supaya tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya.  Lalu kekhawatiran ibunya terbukti, Raymond mengalami kecelakaan sepeda motor sepulang dari tempat kerjanya. Dia terserempet oleh truk tronton yang tiba-tiba kehilangan kendali. Dia terpental ke sebelah kanan, motornya terseret dibawah truk. Kecelakaan itu menyebabkan tulang belikatnya retak sedikit dan perlu istirahat total selama beberapa bulan. Raymond lalu dibawa pulang ke Malang selama masa istirahat, untuk pemulihan tubuhnya. Tak terasa matanya mulai terkatup-katup. Dia tidak bisa menahan rasa kantuk lebih lama lagi, matanya tertutup dengan sendirinya. Di saat Raymond baru saja tertidur suara musik berubah menjadi nada dering panggilan masuk. Untuk beberapa saat, dia tidak menyadarinya, tapi setelah panggilan kedua dia mulai sadar dan membuka matanya. Tangannya bergeser dari pinggiran bathtub, dia meraba-raba rak panjang yang tertempel di samping atas bagian bathtub. “halo?” “Ray. Katanya kamu mau telfon aku?” tanya seorang wanita di seberang sana. “oiya lupa..sorry kamu udah nunggu lama?” “yaa.. aku udah beresin apartemen dan cuci baju aku” “lama banget ya, maaf ya sayang. Aku ini lagi berendam di bathtub, terus ketiduran” “ooo sayang.. kamu pasti capek banget ya”  hening sesaat dari seberang telfon. “ya udah kamu istirahat aja, jangan kelamaan di bathtub” “lho kok udahan telfonnya ini aku udah mau selesai kok” Raymond beranjak dari bathtub, dia melangkah keluar dan mengambil handuk piyama yang tergantung di sebelahnya. “aku maunya lanjut tapi..hoaaam..kok aku jadi ngantuk ya hehehe.. besok lagi aja ya” “mmm...oke...oke” jawab Raymond dengan nada malas. Dia duduk di tepi ranjang sambil menghadap jendela. “yaaaah...ngambek deh” “nggak kok sayang..” dia merebahkan tubuhnya. “besok beneran telfon lagi ya, pokoknya aku tunggu” “iya sayang..” “oke.. kamu tutup duluan” Tidak ada sahutan dari Clara, Raymond masih belum beranjak dari posenya. Satu menit kemudian terdengar suara halus dari ponselnya, lebih mirip dengkuran dengan nada yang beraturan naik dan turun. Setelah mendengar itu Raymond mematikan panggilannya. Dia letakkan ponselnya sembarangan di ranjang. Malas untuk berganti baju tidur, akhirnya dia tertidur lengkap dengan piyama handuknya. Tak malu untuk diintip oleh bintang yang bertebaran di langit, dia pergi mendalami tidurnya menuju ke dunia mimpi. Pagi..pagi.. Klontang...cssss....serrrrr... chop...chop...chop....cthang..bip..bip.. Mata Raymond terbuka, dia menajamkan pendengarannya, otaknya menstimulasi bahwa ada aktifitas di luar kamar. Dia kemudian bangun dan mengambil cutter dari laci meja. Dia membuka engsel pintu pelan-pelan, nafasnya tertahan, dengan berani dia melangkahkan kaki mendekati arah suara. Tidak dipungkiri kalau memang ada beberapa rival koki yang sinis kepadanya. Hotel bintang tiga, serta restoran yang mendapat gelar Michellin sudah cukup bisa dijadikan alibi para pesaingnya untuk mencelakainya. Dari balik dinding dia mengintip. Seseorang sudah masuk ke dalam apartemennya. Dia tidak bisa melihatnya dengan jelas karena orang itu berdiri menghadap tembok menunduk sedang melakukan sesuatu dengan oven. “SIAPA KAMU?!!!” Raymond membekap dari belakang, tangannya langsung memberi kuncian agar dia tidak bisa melawan. “Ray! Ini aku!” Raymond membalik tubuh itu. “Clara?” “iya! Aku Clara, calon istrimu” “maaf..maaf aku kira orang jahat” Raymond lalu melemparkan cutter lalu memeriksa keadaan Clara. “ngapain juga orang jahat ada di dapur?” Clara memijat pergelangan tangannya yang memerah dan ada bekas genggaman tangan Raymond. “hahaha... salahnya sendiri kenapa nggak bilang-bilang? Sayang...” Raymond memeluk mesra kekasih hatinya. “ngg...kan aku pengen sekali-kali masak sarapan buat kamu, sekalian latihan buat nanti kalo sudah nikah. Masa kamu terus yang selalu masak buat aku?” “so sweet deh...emang masak apa sih?”  “mau bikin bubur ayam kesukaan kamu, resepnya asli dari Tante Lucy” Raymond mengambil sendok dan mencicipi bubur buatan Clara. Dia mengecap dan memiringkan kepalanya. Bukan rasa ini yang biasa ia makan. “gimana?” tanya Clara penasaran. “hhmm.. mau jujur atau nggak jujur?” “kelamaan..” Clara merebut sendok dari tangan Raymond, lalu menyendok sedikit bubur buatannya.  “hmm..kurang apa ya?” dia akhirnya paham, kenapa Raymond memberikan respon seperti tadi. Raymond lalu pergi meninggalkan Clara, menuju kamar. Clara yang masih bingung dengan buburnya berinisatif untuk menambahkan bumbu. “jangan kamu sentuh buburnya. Tunggu aku ganti baju dulu” teriak Ray dari arah kamar. “oo oke” Clara meletakkan kembali bumbu ke tempatnya. Dia menjauhi kompor dan menarik kursi di meja makan. Tak jadi ia menambahkan bumbu, dan itu lebih baik daripada rasanya menjadi kacau. Tak lama kemudian Raymond kembali ke dapur, dia langsung tertuju pada kompor. Dia membereskan masalah bubur ini dengan lihai, tangannya yang jenjang terlihat gagah saat mengambil MSG dari laci geser. Membuat penampakan dari belakang terlihat sungguh menakjubkan. Dentingan alarm dari oven berbunyi, dia mengeluarkan chicken breast panggang dari oven. Raymond mengambil nampan dan mengiris tipis untuk mencicipi rasanya. Not bad, dia lalu tersenyum ke arah Clara. Tiga menit kemudian buburnya sudah siap, dia meletakkan alas yang terbuat dari jalinan rotan di meja makan, dan menumpuk semangkuk bubur lengkap dengan topping di atasnya. “hmm.. baunya beda dari yang tadi” Clara tersenyum sambil membaui bubur buatan Raymond. “ini baru buburnya Tante” Raymond mengambil satu centong bubur ke mangkuk, ditambahkan dengan potongan chicken breast, irisan daun bawang, bawang, beserta topping yang lain. “uwaaauu...” Cuma itu saja yang bisa keluar dari mulutnya. Matanya terbelalak melihat semangkok bubur ayam yang cantik dan menggiurkan. Matanya bergantian melihat Raymond dan juga bubur ayam yang sudah ada di dihadapannya. “pelan-pelan makannya” “huwa...huf..huf...” meskipun rasa panas menjalar di bibir, namun Clara tak sabar untuk menghabiskan semuanya. Raymond mengambil mangkok dan menuangkan bubur untuk dirinya. “gimana sih, kok jadi aku yang bikin breakfast kamu?” kata Raymond menggoda. “ya nggak apalah, sekali kali..” “hmm..iya deh” Raymond  mencubit pipi Clara dengan mesra. Dalam sekejap mangkuk Clara sudah kosong, itu membuktikan bahwa memang Raymond memiliki tangan ajaib dalam mengolah masakan. Dia meletakkannya di tempat cuci piring lalu meminum air mineral dingin yang diambil dari kulkas. “Ray, besok aku mau ke Belanda menyusul Om dan Tante” “kok mendadak?” “iya setelah beberapa pertimbangan, aku mau lihat Oma untuk yang terakhir kalinya” “lalu siapa yang menghandle acara besok?” tanya Raymond. Dia berdiri mendekati Clara setelah menghabiskan sarapannya. “aku udah minta tolong Miss Wang buat gantiin aku sementara. Semuanya sudah beres tinggal dia ngawasin jalannya acara besok” “berapa lama disana?” “cuma tiga hari” “apa kamu tahan nggak ketemu aku selama tiga hari?” “waktu kamu pergi ke Hongkong sebulan aja aku bisa tahan kok, kenapa tiga hari aja aku nggak bisa” “kalo aku sih nggak bisa” Raymond memeluk kekasihnya dengan erat. Wangi parfum beraroma buah peach menyerbak dari rambutnya. “udah deh, kenapa jadi melow gini?” Clara melepaskan pelukan Raymond. “jadi nanti malem anterin aku ke bandara ya” “okey..okey..” “ya udah aku pulang dulu ya” Clara mencium pipi Raymond, lalu mengambil handbagnya. “aku belum packing baju, belum beli kelengkapan mandi aku” “aku anter ya” rayu Raymond. “nggak usah, aku bisa sendiri kok. Mending kamu beresin kamar kamu. Koper baju dari minggu lalu, belum kamu beresin juga bajunya? ” ucap Clara centil. “baik bos. Nanti sore bakal aku jemput nggak pake telat” ucap Raymond sambil memberi hormat pada Clara. “iya.. bye honey” Clara menyambar syal dan menggantungnya di leher, lalu pergi menuju pintu. Pintu apartemen sudah tertutup, tinggalah Raymond dan kekacauan dapur yang ditinggalkan oleh Clara. Panci penggorengan tergeletak di meja, dan alat masak bekas membuat bubur. Dengan malas dia mulai membersihkan dapurnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD