The Begining

1512 Words
“Chef?” seorang anak berseragam memanggilnya. “hai Xin” “baru kali ini aku melihat kepribadian Chef yang sebenarnya kekekek” Xin tertawa kecil melihat pakaian Raymond. “a..pergi sekolah sana” suruh Raymond pada Xin. Dia tidak bisa membalas ejekan anak kecil itu. Xin lalu bergabung dengan temannya yang juga sedang tertawa-tawa karena melihat Raymond. Begitu juga saat di lift, dia tidak bisa menghindari tatapan aneh dari para tetangga yang menyerangnya dari berbagai sisi. Dia memilih berdiri di pojokan berharap tidak menarik perhatian. Tapi ternyata tidak bisa, tubuhnya yang tinggi besar tentu saja tidak bisa membuatnya tertutup oleh kerumunan di depannya. Dia menyapa tetangganya dengan senyumannya, dan bertemulah dia dengan Ce Fanny di lantai 6 hendak pergi menuju lantai 17. “Nek, apa pernah mendengar gosip tentang hantu wanita yang gentayangan itu?” tanya Raymond pada Nenek Sani yang berdiri disampingnya. Dia berusaha mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Ce Fanny. “iya aku sempat mendengarnya. Entah siapa yang memulainya, tapi itu cukup membuatku ketakutan” jawab Nenek Sani. Lima orang yang ada di lift semuanya langsung berkasak-kusuk termasuk Ce Fanny. “Ce, kita pernah ketemu beberapa hari yang lalu kan?” tanya Raymond pada Ce Fanny. “kapan? Aku tidak ingat” jawabnya. “waktu itu, yang malam hujan deras sekali. Saat di lobi. Aku yang memakai coat putih panjang serta handuk putih untuk melindungi kepalaku. Aku berlari supaya bisa masuk lift. Ce Fanny sempat melihatku tapi langsung buru-buru menutup pintu lift” “oo itu kamu? O...a.. aku kira..hantu..ternyata..aku salah” “jadi benar tidak ada hantu kan Ce?” tanya Raymond menegaskan. Para tetangga berkasak-kusuk lagi, mereka lega mendengar kabar itu. “tapi semalam aku mengalami kejadian yang lebih aneh” sambung Raymond. “kejadian apa itu?” tanya Bu Rose. “kemarin aku pulang larut malam. Sendirian aku naik lift, dan memencet angka lantai apartemenku. Lalu pintu terbuka di lantai 13, aku pikir ada orang yang masuk, tapi ternyata tidak ada siapapun di depan lift” “uuu... bulu kudukku merinding. Yang benar saja kamu Ray” sanggah Ce Fanny. “iya Ce, sumpah. Aku langsung buru-buru menutup pintu” “ough.. apa kita perlu memeriksa CCTV?” tanya Nenek Sani. “aa.. biar aku saja nanti yang menanyakan pada penjaga malam” sahut Ce Fanny. Ting.. pintu lift terbuka. “saya duluan ya ibu-ibu, semoga harimu menyenangkan” pamit Raymond sambil sedikit melambaikan tangan kepada pengguna lift. Raymond berjalan menyusuri lorong. Dari kejauhan dia melihat Jenny sedang berdiri menyandar dipagar tembok menghadap pintu apartemennya. Dia merasa tidak pernah melihat Jenny sebelumnya. Kesibukannya sebagai Chef bisa dijadikan kambing hitam kalau dia tidak terlalu akrab dengan para tetangganya. Jenny mendengar langkah kaki dari sebelah kanannya. “maaf ya Chef” Jenny menyusul Raymond. “panggil Ray saja. Saya nggak biasa dipanggil Chef kalo nggak sedang kerja” “Ray. Maaf ya” “semuanya cuma salah paham. Tapi kenapa kalian bisa saling kenal?” “sebenarnya kita berdua sahabat dari kuliah, sempat berpisah karena dia pindah ke sini dan kebetulan saya ambil S2 disini jadi kita bertemu lagi” “ooo.. tapi dia nggak pernah cerita kalau sahabatnya ternyata tetanggaku” “entahlah. By the way, semuanya baik-baik saja kan?” “hhh..saya beruntung sekali menjadi tunangannya. Meskipun kadang cerewetnya minta ampun, tapi dia perhatian dan open minded” Senyum Raymond mengembang bagai  sinar matahari pagi yang menghangatkan tubuhnya, membuat Jenny salah tingkah. Senyuman itu belum pernah ia lihat sebelumnya. Wajahnya lalu mendadak panas karena malu. “e..baguslah kalau begitu saya masuk dulu, Ray” ijin Jenny. “oke oke..saya juga harus bersiap-siap berangkat kerja” Mereka berdua berpisah di lorong itu. Raymond masuk dengan mantapnya meninggalkan Jenny yang masih berdiri di depan pintunya, memandang pundaknya yang bidang dan tegap. Pundak yang tidak mungkin bisa Jenny jadikan sebagai sandaran dikala sedih. Cincin yang melingkar di jari manisnya baru terlihat jelas saat memegang gagang pintu. Statusnya adalah penghalang terbesar bagi Jenny untuk melanjutkan rasa cintanya pada Raymond. Terbesit untuk menyerah saja. Lalu dia kembali ke dalam keheningan apartemennya. Kembali seperti semula. Setelah keluar dari komplek apartemen yang ditinggali Raymond, Clara melaju bersama mobil berwarna silver miliknya menuju kantor. Matanya kosong menatap lurus jalanan utama. “hhhh!!” Clara membentur-benturkan kepalanya ke kaca mobil. Tangannya merapat menggenggam setir mobil hingga terdengar suara decitan karena sentuhan kulit. Nafasnya menderu mengingat kejadian tadi. Hampir saja dia hilang fokus saat di trafic light. BRUAAKK.. Mobil itu bergerak maju sedikit karena terdorong secara mendadak. Kening Clara sempat membentur setir karena dia tidak menggunakan sabuk pengaman. Kali ini dia lupa memasangnya karena amarah yang membelenggunya. Kaca mobilnya diketuk. Clara menurunkan kaca sambil memegangi dahinya. “kamu tidak apa-apa?” tanya pria itu dengan bahasa Inggris berlogat British. “kenapa kamu menabrak saya?!” “maaf, itu karena kamu berhenti mendadak” jawabnya. Clara terdiam dan melototi matanya pria itu. Dia memeriksa dahinya di spion lalu turun dari mobil untuk meriksa body bagian belakang mobilnya. Hanya segaris lecet yang tidak terlalu kentara apabila dilihat sekilas. “saya bisa antar ke bengkel kalau kamu mau” “tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri” jawab Clara. Amarahnya sudah mereda, karena dia sadar kalau itu akibat dirinya yang tidak fokus dengan trafic light. Dia kembali ke dalam mobilnya. “oke kalau begitu, ini kartu nama saya” dia mengulurkan kartu nama berwarna hitam. Clara menerimanya begitu saja tanpa memeriksa nama pria itu. Dia mengangguk lalu kembali ke mobilnya. Dia memasang sabuk pengamannya dan membiarkan pria itu pergi kembali ke mobilnya. “hhuuff..dua masalah terjadi bersamaan di pagi yang...cerah ini” kata Clara sarkas. “thanks, God” imbuhnya. Lampu kuning berkedip. Clara menginjak pedal gasnya setelah lampu hijau menyala. Seakan ingin meninggalkan masalah tabrakan barusan di belakang. Dia melaju dan menyatu dengan pengguna jalan yang lainnya. Kemampuannya menyetir mobil tidak buruk, dia mendapatkan nilai baik dari ujian menyetirnya. Hanya saja hari ini dia sedang sial saja. Dia melirik kartu nama yang ada di dashboard. Disitu tertulis dengan jelas BOBBY SANTOSA. Hentakan rem terakhir menghentikan mobilnya yang sudah diparkir dengan rapi. Sisi perfeksionis membuatnya terbiasa dengan cara memarkir mobil yang baik dan benar. Mobil harus sejajar lurus dengan garis pembatas antar mobil. Tak lupa mengunci mobilnya lalu ia melangkah dengan pasti melepaskan penat yang sedari tadi dipikirannya. “selamat pagi Bu” sapa Lodi, satpam yang sudah bekerja sebagai satpam di perusahaan ini selama 10 tahun. Karena kesetiannya dan kerjanya yang rapih dia masih bertahan di tempat itu. “pagi Pak, ada berita apa hari ini?” “hari ini beritanya masih sama seperti yang kemarin tidak ada yang spesial” jawabnya. “yaa” Clara menanggapinya seperti itu. Dilihatnya koran pagi yang terbentang di meja lobi. Pemberitaan tentang salah satu pejabat yang terbukti korupsi dana perusahaan ekspor-impor masih menjadi headline. Apabila tidak ada berita kriminal lainnya yang menjadi pengalihan, bisa jadi warga negara ini akan terus disuguhi wajah koruptor itu selama seminggu penuh. “pagi Pak Vino” sapa Lodi sambil membukakan pintu kaca hotel. Clara menoleh kearah suara, dan tersenyum melihat Om Vino. Dia membalas Lodi dengan anggukan lalu menghampiri Clara. “tumben kamu sudah datang?” tanya Om Vino. “memangnya nggak boleh Om? Kan sebagai MVP Employee of the year kan harus memberikan contoh yang baik” “iyaa deeh..” jawab Om Vino sambil menutup mulut dengan genggaman tangannya, menyembunyikan senyuman shock saat mendengar alasan Clara datang lebih awal dari biasanya. “bener Om” “iya iya.. ya sudah kamu masih mau disini?” “nggak, aku sudah selesai baca korannya” Om Vino dan Clara berjalan beriringan menuju lift. Disusul oleh Miss Chen, asistennya Om Vino dan beberapa karyawan hotel. “Chen, tolong kosongkan jadwal saya di jam 11, saya ada pertemuan dengan seseorang” Miss Chen memeriksa agendanya. “baik Pak, kebetulan memang tidak ada schedule untuk jam itu” “seseorang siapa?” tanya Clara. “dia anaknya teman Om” Clara memicingkan matanya memikirkan sesuatu. Om Vino tau Clara penasaran dengan pertemuan itu, dan membuka mulutnya. “ookey.. kita liat saja kerjanya dia kayak gimana” jawab Clara sambil terus memicingkan matanya. Om Vino menutup kembali mulutnya. Dia lega Clara sudah tau tujuannya bertemu dengan seseorang itu. Akan tetapi dia juga khawatir apabila Clara tidak menyetujui keberadaan Bobby di Hotel ini. Itu artinya mereka harus mengadakan rapat bersama Ketua yang lainnya. Mereka berdua berpisah menuju kantornya masing-masing. Di Restoran hanya ada para cook helper yang sedang mengepel lantai dibantu dengan pelayan yang sedang menata meja. Clara tidak langsung pergi ke ruangannya, tapi kakinya berbelok arah pantry. Tangannya langsung menyentuh coffe maker hasil jerih payahnya dalam membujuk Divisi Keuangan. Memang selalu tidak mudah untuk mendapatkan barang-barang yang tidak diperlukan untuk urusan Hotel, terlebih lagi Miss Rommy yang memang terkenal jutek dan pelit. Dia harus mengumpulkan beberapa karyawannya untuk menandatangani semacam petisi tentang pengadaan Coffe Maker. Aroma kopi luwak asli Indonesia menyeruak ke hidungnya. Dengan asap yang masih mengepul Clara mengecup pinggiran cangkir. Ahh.. nikmatnya. Pikiran tentang Raymond, Jenny, dan trafic light sementara pergi tergantikan oleh minuman kopi hasil olahan dari feses luwak. “sedap betul kayaknya?” ucap Ashton. “oh hai, Ash. Kamu mau?” tanya Clara menawari. “aku tidak terbiasa minum kopi di pagi hari, asam lambungku akan langsung kambuh” “oiya? Aku tidak tau kalau kamu punya penyakit asam lambung?” “yeaah.. baru beberapa minggu ini, apalagi kalau aku sedang stress” jawabnya. Ashton mengambil secangkir air putih dari dispenser. Pria bule ini merupakan assistent chef pengganti yang direkomendasikan oleh pemilik Hotel. Clara sempat tidak setuju karena menurutnya Assisten Chef yang lama masih kompeten untuk bekerja. Tapi setelah diadakannya rapat besar, akhirnya diputuskan untuk memasukkan Ashton. Dia dianggap lebih berkualitas karena diambil dari Hotel yang ada di Belgia. “stress karena apa? bukankah memang seperti itu pekerjaan seorang chef?” “ya aku tau itu, dan aku paham resikonya, tapi akhir-akhir ini aku selalu mendapatkan kritikan dari Chief. Ya aku masih bisa menolerirnya, kalau saja bukan suruhan Pak Vino aku mungkin sudah mengundurkan diri” ujar Ashton keceplosan. “maksudmu?” Raut wajah Ashton berubah, dia juga tidak berani menatap mata Clara. “nothing...aku harus balik ke dapur..” Ashton mencuci bekas cangkir yang ia gunakan lalu menggantungkannya di lemari penyimpanan. “have a nice day” Ashton langsung keluar. Gelagatnya aneh. Membuat Clara curiga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD