PDKT

1523 Words
Segelas minuman berisi Mango Fushion Slushie baru saja diletakkan oleh pelayan cafe. Kemudian tangan berhiaskan gelang perak di pergelangan, dengan perlahan menggeser minumannya, dimainkannya sedotan itu. Sesekali dia melihat ponselnya untuk memeriksa sudah berapa menit ia duduk menunggu. Perasaan kikuk karena di meja lainnya diisi dengan beberapa pasangan anak muda sedang menikmati waktu santai mereka. Tante lucy menyentuh layar ponsel dan menekan aplikasi chatting yang sedang booming digunakan oleh anak muda saat ini. Jarinya yang lentik tanpa berhenti terus mengetik sesuatu. Belum selesai ia dengan ponselnya, tiba-tiba seorang pria memakai kacamata hitam datang menghampiri. “maaf terlambat” ucap Pria itu. Dia melepaskan kacamatanya dan menyampirkan tas di punggung kursi. “bertambahnya usia nggak bisa mengubah sebuah kebiasaan ya?” sindir Tante Lucy. Dia langsung melipat sikunya saat orang yang ditunggu itu datang. “kamu juga. Nggak berubah. Tetap cantik” Abi Santosa duduk sambil menyeret kursinya untuk mendekati Tante Lucy. “hah..aku ngga ada waktu buat digombalin. To the point saja ya, kamu sudah melanggar perjanjian kita” “perjanjian apa?” jawabnya. Abi Santosa kemudian duduk menjauh. Tante Lucy mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya. Dilemparkannya ke hadapan Abi Santosa. Hanya dilirik saja map itu. “hmm...yaa mungkin itu semua karena aku ingin kamu sadar dengan perilakumu. Aku sudah tau apa yang menyebabkan istri Vino meninggal” Abi Santosa menyambar map dan melemparkan di pangkuan Tante Lucy. “apa maksudmu? Sudah jelas kalau dia meninggal karena kecelakaan mobil!” “memang benar, tapi kamu dalangnya. Kamu dulu pernah tanya padaku tentang bengkel mobil. Untuk wanita yang tidak mengerti tentang otomotif, sangat aneh sekali kamu bertanya seperti itu” “Itu karena aku tau kamu pintar di bidang otomotif, dan kebetulan saat itu Vena ingin memodifikasi mobilnya. Hanya itu alibimu sehingga seenaknya kamu menuduhku sebagai pembunuhnya?” jawab Tante Lucy mengelak. “iya jelas. Terdapat kerusakan di mesin mobil. Sangat tidak mungkin sekali bengkel terbaik di kota ini melakukan hal yang bisa merugikan costumernya. Saat itu kamu yang mengantarnya kan?” “iya, dia minta aku untuk menemaninya, so?” “so, kamu ada kesempatan untuk merencanakan pembunuhan. Kamu membayar montir untuk mengutak-atik mesinnya. Apa yang kamu lakukan terhadap adik iparmu itu jahat. Hanya demi warisan kamu berubah jadi pembunuh. Tapi sayang sekali, Clara masih hidup” Tangan Tante Lucy gemetar saat mengambil minuman. Hampir tersedak dia karena minum terburu-buru. “kamu tidak punya bukti apa-apa Bi, tidak ada saksi mata kalau aku yang mendatangi montir” “mengaku sajalah padaku. Rahasiamu akan aku simpan baik-baik asal..kamu mau bekerja sama denganku” Abi Santosa mulai menjelaskan rencananya pada Tante Lucy. Dia sangat terkejut mendengar pengakuan Abi Santosa. Sebuah rencana besar yang bisa mengubah kehidupan mereka berdua menjadi orang terkaya dan bergelimangan harta. Raut wajah Tante Lucy berubah-ubah saat mendengar resiko dan keuntungan yang akan dia dapatkan. Bibirnya lihai sekali mengeluarkan kata-kata yang membuat Tante Lucy akhirnya setuju dengan rencananya. “Bi, apa yang kamu rencanakan itu jahat. Aku akui, kalau kamu lebih kejam daripada aku” “aku tau itu. Aku yang sekarang sangat berbeda dengan yang sekarang Lu” “tapi bukankah itu terlalu kejam. Aku takut ketahuan karena aku satu-satunya orang luar di keluarga ini. Aku pasti menjadi orang pertama yang dicurigai kalau terjadi apa-apa” “percayakan semua pada Bobby, dia anak penurut. Sama seperti ibunya, aku hanya perlu sedikit membujuknya, dan dia akan berpihak pada kita” “oke Bi, let’s do it”                                           --------------------- Fanny, adalah tetangga yang memang suka berkumpul dan mengobrol dengan tetangganya. Sehingga setiap ada kejadian sekecil apapun pasti beritanya langsung keluar dari mulutnya dan tersebar ke seluruh penghuni apartemen ini. setelah bertemu dengan Raymond di lift tadi, sungguh membuatnya malu. oleh karena itu dia ingin memastikan apakah benar yang dilihatnya bukan hantu.  Dia langsung pergi menuju kantor keamanan apartemen. Bukan kebetulan dia datang pagi-pagi ke kantor security. Dia melakukan itu karena tidak ingin ada orang yang tau rencananya. “morning” sapa Fanny pada dua security yang sedang bertugas melototi kamera cctv. “good morning Mam” balas Raj. Seorang pemuda keturunan blasteran India Singapura. Dia baru menjabat sebagai security di komplek itu selama 2 bulan. Pagi ini Raj bertugas dengan Khun, tapi dia sedang tidak ada di tempat. Otak Fanny berputar memikirkan cara agar dia bisa melihat rekaman cctv saat kejadian dia mengira Raymond adalah hantu. “emm..Raj apa kamu sudah betah kerja disini?” Fanny mendekati Raj, dia duduk di sebelah kursi Raj. Raj agak kaget melihat Fanny tiba-tiba duduk di sebelahnya. “lumayan, disini orangnya ramah, jadi mungkin saya bisa lama kerja disini. Ce Fanny ada perlu apa kesini?” “ya..aku penasaran aja kerjanya security itu kayak gimana. Kukira bakal sengsara harus berjaga melihat layar terus menerus, apa matamu tidak lelah?” “ung..memang sih, pergantian shift baru 20 menit lagi” “aku kesini juga mau periksa rekaman 3 hari yang lalu di lobi, aku kehilangan buku resep masakan. Apakah ketinggalan di meja lobi atau terjatuh dimana?” “saya bisa bantu Ce” tangan Raj dengan cekatan membuka file rekaman 3 hari yang lalu. Pointer bergerak menuju beberapa folder dan berhenti pada satu folder yang diinginkan. “jam berapa Ce Fanny ada di Lobi?” “saat itu aku lupa jam berapa, pokoknya pagi sepulang aku dari pasar” Tangan Raj kembali mengutak-atik komputer, tanpa sadar kalau sedang diperhatikan oleh Fanny. Dia menghafal bagaimana cara memajukan atau memundurkan rekaman. “apa Ce Fanny yakin masuk sambil bawa buku resep?”. Tanya Raj tanpa memandang wajah Fanny. “a..aku yakin kok, apa jatuh di parkiran mobil ya? Sini aku saja yang cari, aku jadi penasaran, aku jadi batal datang ke acara arisan keluarga gara-gara kehilangan buku ini. Buku import nih, kan jengkel benget kalau sampai benar-benar hilang” Fanny merebut mouse dari tangan Raj dan menggeser duduknya. Raj tergeser kesamping membiarkan Fanny yang penasaran. “kalau begitu saya mau keluar sebentar mengambil kopi, Ce Fanny cari saja sampai ketemu” Raj beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah ke luar ruangan membiarkan Fanny sendirian. “oke” Tangan Fanny dengan cekatan langsung mencari rekaman yang diinginkannya. Dan ternyata memang benar kalau yang ia lihat adalah Raymond masuk ke lobi dengan kepala yang ditutupi handuk kecil. Padahal dia sudah yakin sekali kalau itu adalah hantu, bagaimana nanti dia menghadapi tetangganya kalau yang mereka tau yang sebenarnya. Rekaman itu terus berputar sembari membiarkan Fanny yang sedang melamunkan perbuatannya. “hhh..sudahlah jujur aja apa susahnya sih? Tapi pasti bakalan malu banget, tapi biarin deh, tunggu ada tetangga yang bahas aja baru aku ngaku” ujar Fanny menenangkan dirinya sendiri. Fanny hendak menutup layar folder rekaman itu, tapi tangannya berhenti seketika. Matanya terbelalak melihat rekaman itu. Dia mengenali sosok yang ada dalam rekaman. Dia melihat Raymond masuk ke apartemennya Jenny.                            -------------------------------  Ruang rapat masih sepi saat Clara datang. Dia merebahkan diri mengambil posisi duduk berhadapan dengan meja para pejabat direksi. Dia membolak balik buku agenda berwarna khaki miliknya, sambil mengetikkan jarinya di keyboard laptop. Konsentrasinya terusik saat pintu ruangan terbuka, lalu masuklah Raymond yang sudah mengenakan pakaian kerjanya. “kamu disuruh datang juga?” Tanya Clara. Matanya terus mengikuti Raymond. “iya, barusan aku dipanggil langsung oleh kepala direksi. Apa kamu lihat ada karyawan baru?” “karyawan baru? Nggak tuh” Raymond memiringkan kepalanya. “kamu masih marah sama aku?” “nggak” jawabnya singkat. Clara mengeluarkan jurus ngambeknya yang pasti bakalan ampuh membuat Raymond merasa bersalah. “padahal tas buatan Ibu udah sampe loh” Raymond menggoda Clara sambil melirik menunggu reaksi dari tunangannya, sambil mengangkat tas tangan rajutan buatan ibunya. “iya!” Clara memekik kecil. Dia berlari mendekati Raymond yang duduk diseberang. “huray..tapi tunggu, bukan berarti aku udah nggak ngambek lagi sama kamu” jawab Clara ketus. “tadi bilangnya nggak ngambek?” Raymond menutupi mukanya menahan tawa karena kelakuan Clara membuatnya gemas. “tadi...ngambek sih, tapi sekarang sudah hilang ngambeknya. Makasih ya sayang” Clara hendak memeluk, tapi tertahan karena mendengar suara pintu diketuk. Mereka lalu kembali ke tempat semula. Para anggota dewan direksi mulai memasuki ruangan dan menduduki kursi masing-masing. Seperti biasa meeting pagi diawali dengan presentasi hasil kerja para karyawan di Hotel ini. Clara memaparkan materinya dengan sangat lancar, para anggota rapat dibuatnya mengangguk-angguk atas presentasi yang mengesankan itu, seperti biasaya. Clara merapihkan lembaran presentasi lalu kembali ke tempat duduknya. Dari jauh Raymond memandangnya tunangannya dengan rasa bangga, sekaligus khawatir. “oke, selanjutnya saya ingin memperkenalkan karyawan baru yang akan menggantikan sementara Mr. Shiro yang sedang perbantuan ke cabang Indonesia” Mendengar itu seorang pria dengan tubuh tegapnya maju menuju podium. “selamat pagi. Nama saya Bobby Santosa, saya ditugaskan untuk membantu disini sementara menggantikan Mr. Shiro. Saya harap para direksi dan yang lainnya berkenan menerima kedatangan saya. Dan saya juga akan bekerja keras untuk membantu perkembangan Hotel ini, terima kasih” Suara tepuk tangan yang bergemuruh mengakhiri pidato singkat dari Bobby. Ketua direksi lalu mengakhiri rapat, lalu keluar ruangan diikuti dengan anggota direksi yang lain. Clara masih membereskan meja rapatnya yang selalu berantakan dipenuhi oleh lembaran materi, agenda, tempat alat tulis dan laptop. Melihat itu Raymond mendatangi Clara. Tapi pria baru itu sudah terlebih dahulu mendekati Clara karena jarak duduk mereka tadi lebih dekat daripada Raymond yang berada di ujung meja. Raymond mengurungkan niatnya lalu pergi meninggalkan ruangan. “ada yang bisa saya bantu?” tanya Bobby sambil mengambil bolpoin yang jatuh di kolong meja. Dia menyodorkan bolpoin itu. “tidak perlu, saya bisa sendiri” jawab Clara sambil melihat Bobby sekilas. Bobby masih menunggu. “apa kita pernah bertemu?” tanya Bobby. Clara melihat Bobby sekali lagi. Matanya bergerak men-scan Bobby dari ujung kepala sampai ujung kaki. “sepertinya tidak” lembar terakhir sudah masuk kedalam tasnya. “maaf saya duluan ya” ucap Clara. “bagaimana keadaan mobil kamu?” tanya Bobby. Clara berhenti di ambang pintu. Mobil? Dia memahami wajah Bobby sekali lagi. “ooo..kamu yang nabrak aku tadi pagi!” tangannya mengancung ke arah Bobby. “akhirnya kamu ingat. Apa kita bisa ngobrol sebentar?” pinta Bobby.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD