Raymond buru-buru pergi setelah menguping pembicaraan antara Clara dan Bobby di ruang rapat. Dia curiga dengan keberadaan Bobby yang ditugaskan untuk menggantikan Mr. Shiro, padahal di bagian itu ada yang kompeten, tapi kenapa ketua direksi memilih memasukkan orang dari luar. Kalau bukan karena ada hubungan dengan ketua pasti tidak bisa sembarang orang bisa langsung bekerja dan menjabat sebagai kepala bagian.
“Ray” Ashton membuyarkan lamunannya. Ashton melihat gelagat Raymond yang aneh sejak kembali dari rapat.
“what?” jawabnya polos.
“dari tadi saya perhatikan kamu melamun saja, kamu tidak apa-apa?”
“i’m okay Ash”
“apa ada masalah di rapat tadi?”
“tidak, cuma presentasi laporan keuangan biasa, dan perkenalan karyawan baru yang menggantikan Mr. Shiro” jawab Raymond. “I need One beef, two salmon, and one special dessert!” teriaknya setelah menerima kertas orderan.
Para koki dengan cekatan membuat pesanan itu, suara panci yang beradu dengan kompor serta suara desisan daging yang tersentuh panggangan, membentuk satu kesatuan melodi yang indah. Ashton melanjutkan pekerjaannya, begitu juga Raymond. Menu spesial hari ini sangat laris diorder para pengunjung Hotel.
Satu persatu lembaran order keluar dari mesin cetak. Raymond kembali meneriakkan menu yang diorder oleh para pengunjung yang mungkin sudah kelaparan.
“beef, chef!” teriak koki sambil memberikan piring. Raymond memeriksa makanan itu, dia membersihkan sedikit bercak saos yang ada di pinggiran piring.
“where is the salmon?!”
“salmon ready” jawab koki yang lain.
Raymond kembali memeriksa pesanan itu. Setelah dirasa sudah aman, dia memberikannya pada pelayan.
“one beef, two salmon, table 24” dua pelayan datang bergantian membawakan pesanan meja nomor 24. Menu special ini merupakan inovasi terbarunya, oleh karena itu ia penasaran dengan respon pengunjung pertama yang menikmati masakan itu. Raymond mengintip di lubang kaca dari balik pintu dapur. Disana pelayan baru saja selesai meletakkan pesanan meja nomor 24. Costumer memasukkan suapan pertama, dari wajahnya muncul reaksi yang menyenangkan, matanya terbelalak memberitahukan temannya sambil mengangkat jempolnya.
Raymond lega, menu spesialnya dapat diterima oleh pengunjung. Kini dia bisa melanjutkan kerjanya dengan pikiran tenang dan bahagia. Dia kembali mendapatkan orderan.
“ one salmon, one dessert! One beef, one original, two salmon and 1 dessert!
“yes chef!”
--------------------------------------------------------
“ini kopinya”
“thanks” Clara menerima kopi pemberian Bobby yang diambil dari vending machine.
“aku mau minta maaf atas kejadian tadi pagi, seperti yang sudah aku jelaskan tadi, karena kamu berhenti mendadak aku jadi telat injak remnya”
Clara masih kesal dengan kejadian itu, kalau saja Bobby tidak kerja disini mungkin dia sudah lupa dengan tabrakan tadi.
“oke” jawab Clara enteng. “makasih kopinya ya” Clara mengambil kopinya lalu beranjak dari kursinya.
“tunggu” cegah Bobby. “karena aku karyawan baru disini, maukah kamu bantu aku untuk mengenal hotel ini lebih detail lagi” pinta Bobby.
Clara terdiam sejenak. “oke, saya mau ke kantor dulu, 5 menit lagi saya ke ruangan anda”
“okey, saya tunggu” jawab Bobby sambil memberikan senyuman yang mematikan, yang bisa membuat hati para wanita berdebar-debar, giginya berderet rapih ditambah dengan lesung pipit yng menghiasi kedua pipinya.
Tapi tidak dengan Clara. Dia merasa aneh menerima senyuman itu, dia menyengir lalu pergi dari Bobby.
“o..ke” senyuman Bobby tidak berhasil pada Clara, tetapi berhasil membuat karyawan wanita yang kebetulan juga berada di kantin itu menjadi lumer. Mereka lalu berbisik-bisik sambil tersenyum kearahnya.
“saya pergi duluan ya” pamit Bobby dengan suaranya yang berat.
“ii..iya” jawab mereka yang terkejut karena disapa oleh Bobby.
Dengan langkah penuh percaya diri Bobby melenggang pergi menuju ruangannya. Dia sempat melihat kearah restoran. Celingukan dia memasuki restoran dan hendak pergi mendekati dapur.
“good morning, sir? May I help you?” tanya salah satu waitress wanita.
“No, saya hanya mencari teman saya, dia Head Chef disini”
“o, Mr. Raymond sedang sibuk tidak bisa diganggu”
“ya, Raymond.. my bestfriend.. oke kalau begitu nanti saja saya hubungi dia. Tapi kamu jangan bilang apa-apa kalau saya datang mencarinya ya”
“baik, Pak”
Bobby melihat lagi ke arah dapur, dari pintu dapur yang terbuka dia sempat melihat sosok Raymond mondar-mandir di dalam.
------------------------------------------------------------
Thok...thok..thok..
“iya”
“permisi, Pak”
“iya, silahkan masuk”
“ saya Michelle yang akan membantu Bapak keliling hotel”
“Bu Clara nya?”
“oh.. kebetulan dia sedang ada tugas diluar Hotel, jadi beliau meminta saya untuk menggantikannya”
“oo..oke baiklah, sebentar” wajah Bobby seketika kecewa. Dia mengambil jas dan memakainya sambil keluar dari ruangan.
Panjang lebar asisten Clara menjelaskan tentang seluk beluk hotel, tapi Bobby hanya menanggapinya biasa saja. Mereka berjalan mengelilingi penjuru hotel sembari berkenalan dengan karyawan yang lain saat berpapasan.
“bagaimana Pak, apa ada yang bisa saya bantu lagi?” tanya Michelle setelah selesai berkeliling.
“tidak ada, terima kasih, kamu bisa kembali ke ruangan”
“baik Pak, permisi”
“oh, tunggu. Apa kamu kenal dengan Chef Raymond?” tanya Bobby.