Di ujung lorong, sudah ada seorang gadis berkacamata yang sedang duduk menghadap laptop. Rambut panjangnya yang hitam legam terikat keatas membentuk bentuk bun. Tangannya sibuk membolak-balik buku teori manajemen pemasaran. Matanya berganti pandangan dari arah laptop menuju buku teori.
Deadline penyerahan revisi tesisnya tinggal dua hari lagi, jadi Jenny semakin semangat untuk menyelesaikan tugasnya.
“belum selesai Jen?” tanya seorang gadis yang sudah berdiri dari tadi melihat
“eh, Lisa. Belum nih, masih belum masukin teorinya”
“sidangnya kapan?”
“tanggal 24, tapi sampe sekarang masih susah responden yang mau diwawancarai”
“kamu sudah coba ke Hotel A? Karena si Johan dulu pernah penelitian disitu”
“Johan, your boyfriend?
“iya”
“Hotel A? Itu kan Hotel tempat si chef keren kerja”
“Chef keren siapa?”
“aku baru ingat, kebetulan aku ada tetangga yang kerja di Hotel itu. Ah, tapi aku nggak punya nomor telfonnya”
“kenapa nggak langsung ke apartemennya aja? Bukannya dia tetangga kamu?”
“oiya ya” Jenny buru-buru menutup laptopnya dan membereskan buku-buku ke dalam tas.
“Jenny..Jenny kalau tulalit jangan keterusan dong” ujar Lisa sambil menjitak pelan kening Jenny.
“aku pulang dulu ya, mumpung masih belum terlalu malem”
“oke, hati-hati ya”
“bye”
Setelah membereskan bukunya dia buru-buru pergi menyusuri lorong menuju pintu keluar fakultas. Hari sudah malam tapi, jalanan Singapore masih padat mobil-mobil lalu lalang. Jenny pulang disaat rush hour, jadi dia baru berhasil mendapatkan taksi kosong setelah 15 menit dia melambai-lambai. Perjalanan yang seharus 30 menit sudah sampai, tapi taksi baru berhasil berhenti di lobi satu jam kemudian.
Setelah membayar taksi, dia berlari-lari kecil memasuki lobi apartemen. Rajesh sempat menyapanya namun tidak digubris olehnya. Dia buru-buru mencegah pintu lift yang hampir tertutup. Di dalam lift dia melepaskan ikatan rambutnya dan menyemprotkan parfum kesukaannya. Saking gugupnya dia hampir menumpahkan seluruh cairan parfum ke bajunya, menyebabkan orang disekitarnya mengernyitkan dahinya karena bau parfumnya yang menyengat.
Lift berhenti dan pintu terbuka, orang-orang keluar bergantian begitu juga Jenny. Kejadian yang lalu membuatnya agak canggung meskipun begitu dia harus bisa minta bantuan Raymond, demi tesisnya.
Tangannya sudah siap memencet bel, jantungnya berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Saat telunjuknya menyentuh tombol tiba-tiba...pintunya terbuka keluar. Jenny langsung merapat di dinding bersembunyi di balik pintu berharap Raymond tidak menemukannya.
“duh, kenapa nggak bilang dari tadi sih Clara?” ucap Raymond dari balik pintu.
“maaf Ray, aku kelupaan. Untung Tante Lucy hubungi aku. Ayo buruan, ntar Om Vino bawel kalo aku telat”
“iya sebentar”
Dari balik badannya, Jenny mendengar pembicaraan mereka. Raymond dan seorang wanita. Dia mengenali suara wanita itu. Suara langkah kaki terdengar menjauhinya, dengan takut-takut Jenny membalik badannya. Dia melihat punggung Raymond berjalan menuju lift.
Jenny kemudian merapat ke tembok balkon, membungkuk.. Dia mengangkat sedikit wajahnya untuk melihat ke arah luar bawah. Ternyata ada Clara disitu. Tak lama kemudian Raymond datang menghampirinya.
Pantas saja Clara tidak menerima panggilannya setelah kejadian beberapa hari lalu. Rasa penasarannya sudah terjawab. Clara dan Chef Raymond memang menjalin satu hubungan. Dan cincin itu, penanda bahwa mereka memiliki hubungan yang serius. Jenny merasa sedih bukan karena Raymond sudah memiliki seorang kekasih, tapi karena dia akan kehilangan sahabatnya sendiri apabila lebih mementingkan perasaannya.
--------di restoran--------
“Om, Tante maaf aku telat”
“ah kamu, pelupa kok keterusan?” goda Vino.
“hehe, maaf deh, lain kali nggak bakal telat lagi. Untung dianterin sama Raymond, jadinya cepet sampenya” Clara menarik Raymond ke depan.
“oh..kamu sama Raymond?” tanya Lucy. Mimik wajahnya berubah menjadi canggung saat melihat Raymond.
“selamat malam Om, Tante. Apa kabar?”
“baik Ray, bagaimana kabar orangtuamu” jawab Vino.
“baik-baik saja Om”
“karena ada Raymond juga, kenapa kamu tidak join dengan kita saja?” ajak Vino.
“sini duduk sebelah aku” Clara mengeser kursi untuk Ray.
“ehem.. Ray kamu pasti capek kan? Pekerjaan sebagai chef kan berat, jadi bukankah sebaiknya kamu istirahat saja?” sela Lucy. Dia berbicara dengan nada menyindir dan tidak senang dengan kehadiran Raymond.
“ehm..”
“maaf Om Vino saya terlambat, kena macet tadi” ucap seorang pria yang tiba-tiba datang ke meja mereka.
“akhirnya kamu datang Bobby, nggak apa-apa memang kalo malam daerah sini kan selalu macet. Ayo duduk Bob” suruh Lucy, suaranya meninggi. Dia menyuruh Bobby duduk di sebelah Clara, di tempat duduk yang tadi Clara sediakan untuk Raymond.
“oke Tante” Bobby langsung duduk di sebelah Clara.
“anda? Kenapa ada disini?” tanya Clara kaget.
“Ray, kamu masih mau berdiri terus?” tanya Vino.
“saya boleh join kan Om, rasa capek saya tiba-tiba hilang”
“dari tadi kan sudah Om tawari, ya sudah duduklah, kamu nggak capek berdiri terus?” ujar Vino.
Raymond mengambil tempat duduk di sebelah kiri Clara. Jadi dua pria itu mengapit Clara. Bersamaan dengan itu pelayan restoran mulai menyediakan hidangan kalkun panggang bersama dengan makanan pendamping lainnya. Pelayan memotong kalkun dan membagikan ke masing-masing piring. Lalu mereka mulai menikmati hidangannya.
“Om, kenapa karyawan baru ini ada disini juga? Bukannya ini acara keluarga ya?” tanya Clara sinis.
“Clara, Bobby ini anak teman Om, dia baru pindah ke Singapore dan tinggal sendiri, jadi Om ajak dia supaya bisa lebih akrab dengan teman kerjanya. Dan kebetulan juga ada Raymond, jadi kalian bertiga bisa mengakrabkan diri”
“hhh” Clara hanya bisa menghela nafas. Dia tidak bisa mencari alasan lagi.
“bagaimana hari pertama kamu kerja? Pasti berat ya?” tanya Lucy.
“nggak Tante, saya senang sekali bisa kerja di kantor Om. Walaupun tadi agak gugup saat di rapat perkenalan. Sebenarnya saya juga senang diajak berkeliling kantor oleh Michelle, tapi pasti saya akan tambah senang sekali kalau saja Clara yang mau membantu saya. Tapi tampaknya dia lebih mementingkan pekerjaannya” kata Bobby.
“oya, kenapa kamu tadi tidak membantu Bobby? Tanya Vino.
“ehm..itu..” Clara tak mampu mencari alasan untuk berbohong.
“Clara bertemu klien, Om. Kebetulan dua minggu lagi ada pasangan yang ingin merayakan resepsi pernikahan mereka di hotel kita” Raymond menyela pembicaraan mereka. Kakinya menyentuh kaki Clara dan memberi tanda untuk mengikuti sandiwaranya.
“eh iya Om, apalagi klien kita ini sangat perfeksionis, jadi mereka ingin mempersiapkannya jauh-jauh hari. Dan sebagai Manajer yang berdedikasi tinggi, aku harus menuruti keinginan klien”
“oh jadi begitu? Yaah.. maaf ya Bob, kalau Clara ini memang profesional, kinerjanya bagus. Harap maklum ya Bob” kata Vino.
“iya nggak apa Om, pasti bahagia banget, yang nanti jadi suaminya Clara” ujar Bobby sambil tersenyum ke arah Clara.
“kebetulan Bob, Tante kenalin nih tunangannya Clara, Raymond. Dia juga kerja di hotel” sela Lucy. Senyum sinis mengembang di bibirnya, menutupi rasa ketidak sukaannya pada Raymond.
“oya? Kerja di bagian apa?” tanyanya pada Bobby.
“dia Head Chef” timpal Lucy sebelum Raymond membuka mulutnya. “Ray ini anak yang berbakti lho, dia rela bekerja keras di luar negeri untuk membantu orangtuanya di kampung.”
“ooo” jawab Bobby sekenanya. Mukanya mengejek Raymond.
“Tante..” Clara menghentikan omongan Lucy yang tampaknya bertujuan untuk menghina Raymond.
“permisi Om, Tante, saya mau ke toilet dulu” izin Raymond.
“Ray...” Clara memegang tangan Raymond tapi ditepis olehnya. Raymond beranjak dari tempat duduknya.
“kayaknya saya juga mau ke toilet” ujar Bobby tak lama setelah Raymond pergi.
....
“Ma, kamu tadi ngomong apa sih? Kamu mempermalukan Raymond di depan karyawan baru!? Kata Vino dengan nada agak membentak.
“tapi memang seperti itu kan kenyataannya, Pa?”
“iya tapi kan nggak harus diomongin disini, Tan” ucap Clara sedikit memekik. Dia khawatir melihat Raymond yang sikapnya berubah sewaktu melihat ada Bobby ikut makan malam.