Ramandaka tampak termangu di kamarnya. Ia yang biasanya selalu ikut makan malam bersama dengan keluarganya, hari ini tak berselera. Jangankan untuk makan, memandang makanan saja ia sudah tak bersemangat. Perkataan Sazana terus mengusiknya sejak kemarin. Ia belum pernah merasa begitu terpatri dengan seorang gadis yang bahkan dalam ingatannya saat ini tak ada sama sekali kenangan tentangnya. Dadanya sakit saat Sazana mengatakan bahwa mungkin tak akan ada kesempatan kedua. Mengapa ia merasakan perasaan itu? Padahal ia tidak mengingat seberapa besar perasaannya terhadap Sazana. “Ram, kamu kenapa gak ikut makan malam?” tanya Tara yang tiba-tiba masuk ke kamar Ramandaka tanpa mengetuk pintu. “Om sama Tante nungguin di ruang makan.” “Saya gak nafsu. Kenapa kamu ada di sini? Kayak orang gak pun

