Malam sudah sangat larut ketika Xhavier keluar dari halaman kantor kepolisian. Angin malam menusuk kulit, namun pikirannya jauh lebih dingin daripada udara di sekelilingnya. Lampu jalan berpendar samar di antara kabut tipis, sementara suara mesin motornya memecah kesunyian. Ia baru saja meninggalkan Nana dan tim lainnya, tapi kata-kata terakhir Nana terus menggema di kepalanya — tentang keadilan, tentang anak-anak panti yang menjadi korban, dan tentang seorang lelaki tua bernama Tuan Jhon. Di tengah perjalanan, Xhavier sempat berhenti sejenak lalu mengeluarkan ponsel dalam jaketnya kemudian membuat panggilan telpon pada nomor telpon milik Tesaa sebelum mulai melajukan kendaraannya. Ia menarik napas dalam-dalam lalu tak beberapa lama Tessa terdengar menjawab panggilannya. “Tessa,” suara

