Ruangan kerja Nyonya Jena yang biasanya sunyi kini bergema oleh suara langkah-langkah terburu. Tangan wanita paruh baya itu berhenti menulis laporan bulanan ketika pandangannya tertuju pada jendela besar di sisi kanan ruangan. Dari sana, ia bisa melihat jelas mobil-mobil yang baru saja berhenti di depan gerbang panti. Wajahnya langsung menegang. Ia mengenali sosok-sosok yang keluar dari mobil itu yang merupakan anggota kepolisian. “Aaah!... Sialan!” umpatnya dengan suara parau penuh emosi. Tubuhnya refleks berdiri, kursi di belakangnya tergeser menabrak dinding. “Kenapa mereka datang lagi?!” Tanpa berpikir panjang, ia berlari keluar dari ruangannya, langkahnya tergesa, sepatu hak tingginya berdetak keras menapak lantai koridor panti yang panjang dan berbau lembab. Sementara itu, di hal

