Nana masih duduk diam di dalam mobilnya, matanya tajam menatap halaman panti asuhan dari balik kaca depan. Hujan sisa semalam masih meninggalkan jejak basah di jalanan dan rerumputan, membuat udara terasa lembab dan dingin. Ia baru saja hendak menyalakan mesin mobilnya lagi ketika sebuah mobil hitam berhenti tepat di belakangnya. Jantung Nana berdegup kencang mobil itu sangat familiar. Ia mengenal pelat nomornya, cara berputarnya yang tenang, dan bahkan suara mesinnya. “Pak Rio…” gumamnya pelan. Tanpa berpikir panjang, Nana segera keluar dari mobilnya dan berjalan cepat menghampiri. Tak lama, pintu mobil hitam itu terbuka. Dari dalam keluar Pak Rio dengan wajah yang tampak kesal, diikuti oleh Xhavier, Zia, dan Ree yang masing-masing terlihat tegang dan waspada. Begitu pandangan Pak Rio

