Langkah-langkah Nyonya Jena bergema cepat di sepanjang koridor panti. Tumit sepatunya menghentak lantai ubin tua yang dingin, menandakan kegelisahan yang tak bisa ia sembunyikan. Nafasnya tersengal, wajahnya memucat. Ia baru saja melewati adegan yang membuat jantungnya hampir melompat dari d**a, kehadiran Nana di kamar Lila bukan hal yang ia perkirakan sebelumnya, meski ia tahu Nana akan datang. Begitu sampai di depan pintu ruangannya, tangan Nyonya Jena bergetar saat meraih gagang pintu. Ia segera masuk, menutup pintu rapat-rapat dan memutar kuncinya dua kali. Hening. Hanya suara napasnya sendiri yang terdengar di ruangan itu. Ia berjalan cepat menuju kursi kerjanya, meletakkan tubuhnya di sana, dan menunduk sambil memijit pelipisnya. “Ya Tuhan…” gumamnya pelan. “Kalau anak itu bicara t

