Udara di kamar panti itu terasa menyesakkan. Suara detak jam dinding menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar jelas di antara ketegangan yang menggantung di udara. Lila masih berdiri di samping Nyonya Jena namun tubuhnya yang kecil tampak kaku, seolah berusaha menyembunyikan ketakutannya di balik diam. Nyonya Jena berdiri tegap menggenggam erat pergelangan tangan kecil milik Lila. Ia berusaha terlihat tampak tenang, tapi matanya berkilat tajam seperti pisau. “Sebaiknya Anda segera pergi dari sini, Nona,” ucap Nyonya Jena dengan suara yang dipaksakan agar terdengar tenang. Tangannya menggenggam pergelangan tangan Lila dengan sangat erat, hingga anak itu menahan napas, menahan sakit. “Jangan membuat anak-anak di panti kami ketakutan.” Nana menatap Nyonya Jena balik tanpa bergeming. “Jus

