Udara pagi di kantor Kepolisian Kota Metropolitan terasa berat. Jam baru menunjukkan pukul delapan, namun ketegangan sudah memenuhi ruangan Divisi Intelijen. Berkas-berkas tebal bertumpuk di meja kerja, aroma kopi pahit bercampur kertas lembab memenuhi udara. Di tengah suasana itu, Nana berdiri dengan wajah tegas, menatap lurus ke arah ketua timnya, Pak Rio.
Wajahnya tampak serius, matanya tajam seperti elang yang menemukan mangsa.
“Kurasa kita harus mengambil tindakan untuk melindungi Tuan Jhon, Pak Rio,” ucapnya mantap. “Aku juga yakin, Tuan Jhon pasti akan menjadi target pembunuh dari The Shadow Angel.”
Pak Rio yang tengah menatap monitor komputer, menoleh perlahan. Garis kelelahan terlihat jelas di wajahnya. Ia mendengus kecil, lalu bersandar di kursi.
“Sepertinya itu agak sulit, Nana,” jawabnya, berusaha terdengar tenang meski nada suaranya berat. “Tentang Tuan Jhon menjadi target, itu masih sebatas prediksi kita. Belum ada bukti konkret. Jadi jika kita menjaganya dalam bentuk tugas resmi, itu akan terlihat berlebihan. Bisa jadi Tuan Jhon bukan targetnya juga.”
Nana menggigit bibir bawahnya, menahan emosi yang mulai mendesak. “Tapi aku yakin sekali, Pak Rio,” katanya dengan nada meninggi, “Tuan Jhon pasti akan menjadi target berikutnya.”
Pak Rio menghela napas dalam. “Nana, kita tidak bisa bertindak gegabah. Dalam dunia penyelidikan, keyakinan tanpa bukti bisa jadi bumerang. Kau tahu itu.”
Namun Nana tidak bergeming. Wajahnya semakin menegang, menunjukkan bahwa apa pun yang dikatakan ketua timnya itu tak akan menggoyahkan niatnya.
“Kalau begitu,” ucap Nana dengan nada tajam, “aku akan menemui atasan langsung dan meminta surat perintah untukku. Aku akan mengawasi Tuan Jhon sendiri. Aku yakin pembunuh bayangan itu akan beraksi, dan Tuan Jhon akan menjadi targetnya.”
Sebelum Pak Rio sempat menahannya, Nana sudah berbalik dan melangkah cepat ke luar ruangan. Tumit sepatunya memantul di lantai, memecah keheningan ruang kerja itu.
“Nana! Jangan gegabah!” teriak Pak Rio, namun gadis itu sama sekali tak menoleh.
Pak Rio memijit keningnya keras-keras, geram bercampur cemas. "Anak itu benar-benar keras kepala,” gerutunya sambil menghempaskan diri ke kursi.
Baru saja ia hendak menenangkan diri, pintu ruangan terbuka. Seorang pria dengan setelan rapi dan ekspresi tenang masuk, Xhavier. Wajahnya tampan, namun mata kelamnya menyiratkan sesuatu yang sulit dibaca, seperti ada badai yang disembunyikan di balik ketenangan.
“Ada apa, Pak?” tanya Xhavier dengan nada tenang. “Sepertinya mood Anda pagi ini sedang tidak bagus.”
“Bagaimana bisa bagus kalau aku punya anak buah sekeras kepala Nana,” keluh Pak Rio, menggeleng frustasi.
Xhavier yang selalu pandai menjaga ekspresi langsung beranjak mengambil air mineral dari dispenser, menuangkannya ke gelas, lalu menyerahkannya ke Pak Rio.
“Nah, minum dulu. Biar emosi reda sedikit,” ucapnya dengan nada ringan.
Pak Rio tersenyum tipis, menerima gelas itu dan meneguk airnya perlahan. Baru setelah wajahnya sedikit tenang, Xhavier bertanya lagi dengan nada lembut namun penuh perhatian. "Kalau boleh tahu, apa yang dilakukan Nona Nana sampai Anda terlihat semarah ini?”
Pak Rio mendesah panjang. “Dia keras kepala. Dia yakin bahwa Tuan Jhon akan menjadi target pembunuh The Shadow Angel.”
Mendengar itu, pupil mata Xhavier sedikit membesar, meski ia segera menutupi keterkejutannya. Dalam hatinya, badai kecil mulai bergejolak. "Dari mana Nana bisa tahu bahwa kami menargetkan Tuan Jhon?" pikirnya gelisah.
Pak Rio melanjutkan, tak menyadari perubahan ekspresi halus di wajah bawahannya itu.
“Dan sekarang Nana pergi menemui atasan langsung kita, meminta surat perintah untuk mengawasi Tuan Jhon.”
Xhavier mengangguk perlahan, pura-pura merenung, padahal pikirannya tengah bekerja cepat. "Gawat. Kalau Nana mulai mengawasi Tuan Jhon, rencana eksekusi bisa berantakan. Aku harus segera memberi tahu yang lain."
“Lalu menurut Pak Rio,” tanya Xhavier hati-hati, “apakah atasan akan memberikan surat perintah itu?”
Pak Rio menggeleng lemah. “Aku tidak tahu. Tapi kuharap tidak. Aku sudah cukup pusing mengurus satu orang keras kepala. Kalau dia sampai punya izin resmi, habis sudah ketenanganku.”
Belum sempat mereka melanjutkan percakapan, pintu ruangan kembali terbuka. Suara langkah cepat mendahului sosok yang muncul di ambang pintu.
“Aku berhasil!” seru Nana dengan wajah bersinar ceria, matanya berbinar penuh kemenangan.
Pak Rio hampir menjatuhkan gelas di tangannya. “Apa maksudmu?” tanyanya dengan nada tak percaya.
“Taraaa!” Nana mengangkat selembar kertas resmi berstempel merah di udara. “Surat perintah sudah aku dapatkan!”
Xhavier menatapnya tanpa suara, bibirnya sedikit terbuka tapi matanya tajam penuh kalkulasi. "Dia benar-benar mendapatkannya…Surat perintah itu.."
Pak Rio hanya bisa memandangi Nana tak percaya. “Kau benar-benar… mendapatkannya,” katanya dengan nada yang nyaris pasrah.
Nana mengangguk mantap, wajahnya penuh kebanggaan. “Aku sudah menjelaskan semuanya pada atasan. Dan beliau setuju aku melakukan pengawasan. Tidak ada intervensi langsung, tapi aku diberi wewenang untuk observasi dan pelaporan. Ini demi keselamatan Tuan Jhon.”
“Anak ini…” Pak Rio menepuk dahinya. “Kau sadar tidak, tindakanmu bisa saja membuat kita dalam posisi sulit kalau dugaanmu salah?”
“Tapi kalau dugaan itu benar, nyawa seseorang bisa selamat,” balas Nana cepat. “Dan aku tidak akan duduk diam hanya karena takut dianggap gegabah.”
Ruangan seketika hening. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar lembut di antara mereka.
Xhavier menatap wajah Nana lama, mencoba membaca isi pikirannya. Tapi semakin lama ia memandang, semakin sulit memahami gadis itu. Ada keberanian di mata Nana, tapi juga kepedihan. Seolah-olah setiap tindakan yang ia ambil bukan hanya karena tugas… melainkan karena sesuatu yang lebih pribadi.
Dalam hatinya, Xhavier bergumam lirih. "Dia bisa menghancurkan semua rencana yang telah aku dan timku susun, matang-matang." Senyum kecil muncul di wajahnya, tapi bukan senyum bahagia. Itu senyum getir seseorang yang baru saja melihat rencana sempurnanya perlahan retak.
"Gawat," pikirnya dingin. "Aku harus mendiskusikan ulang rencan kami dengan tim. Dengan Nana ikut mengawasi, operasi terhadap Tuan Jhon tidak bisa dilakukan dengan rencana awal. Aku yakin Nana akan mengacaukan semua rencana kami."
---
Beberapa jam kemudian, setelah suasana sedikit tenang, Xhavier berjalan keluar dari kantor. Langit mulai kelabu, angin sore berembus dingin. Ia menyalakan rokok kebiasaan yang jarang ia lakukan di dekat rekan kerja. Asap mengepul, menutupi wajahnya yang muram.
Pikirannya masih penuh dengan bayangan wajah Nana dan surat perintah yang tadi Nana acungkan dengan penuh semangat.
"Dia gadis yang berbahaya, bisiknya pelan. Bukan karena senjatanya, tapi karena hatinya. Keyakinan dan nalurinya terlalu tajam." gumam Xhavier, ia menatap langit yang perlahan diguyur hujan lalu kembali lagi berperang dengan pikirannya "Kalau terus begini, aku bukan hanya harus menyembunyikan identitasku sebagai pembunuh bayangan… tapi mungkin juga harus melindungi Nana dari kelompokku sendiri. Jika kelompokku sampai tahu bahwa Nana benar-benar bisa mengacau maka besar kemungkinan Nana akan menjadi target kelompok kami, jika itu terjadi aku tidak bisa berbuat apapun nantinya."
Xhavier kembali terdiam, ia berpikir bahwa ia tidak akan berdaya jika pendiri kelompoknya membuat perintah. Xhavier memang ketua kelompok tapi dia bukan pendiri ataupun pemilik kelompok, semua rencana pembunuhan yang dilakukan Xhavier dapat berjalan dengan mulus tanpa meninggalkan bukti itu semua berkat dana yang dikucurkan pendiri kelompok mereka "Jika Nana terlalu mencolok mengganggu tugas kelompok, aku takut dia yang nantinya akan menjadi target." pikir Xhavier mulai merasa gelisah dan takut, dan itu pertama kali ia merasakan takut akan kehilangan seseorang dalam hidupnya.
Dalam diam, Xhavier mengeluarkan ponsel dan menekan nomor rahasia untuk menelpon Tessa.
“Target Tuan Jhon, ku rasa kita harus merubah rencana eksekusi,” ucapnya dingin ke telepon. “Tiba-tiba ada pengawasan resmi dari pihak kepolisian. Aku akan awasi situasi dan kirim laporan baru malam ini.” Ucap Xhavier pada Tessa.
"Kenapa begitu tiba-tiba ada pengawasan, apa ini ada campur tangan dari detektif bernama Nana itu?" Tanya Tessa.
"Hm!" Xhavier hanya berdehem membenarkan "Tolong sampaikan informasi ini pada anggota tim yang lain, kita akan diskusi ulang nanti malam." Ucap Xhavier sebelum sambungan telpon terputus.
Bersambung!...