Diantara peluru dan Tatapan.

1371 Words
Udara sore di pelabuhan Zhinae terasa lembap dan beraroma asin. Laut yang bergelombang pelan di kejauhan tampak tenang, tapi bagi Nana Lohunea, ketenangan itu adalah pertanda buruk. Ia sudah terlalu sering melihat badai muncul dari keheningan seperti ini. “Target bergerak ke arah dermaga nomor tujuh,” laporan Pak Rio terdengar melalui alat komunikasi di telinganya. “Jangan bertindak sebelum aku beri perintah,” jawab Nana cepat pada rekan timnya yang lain. Matanya tajam memantau dari balik kaca spion mobil yang terparkir di sisi gudang. Hari ini mereka sedang menjalankan operasi penangkapan terhadap seorang mantan pejabat bea cukai yang diduga terlibat dalam jaringan perdagangan senjata ilegal. Pria itu juga merupakan salah satu nama yang muncul dalam daftar kemungkinan target pembunuhan organisasi The Shadow Angel. Namun yang membuat Nana sedikit kesal saat menjalankan misi ini adalah kenyataan bahwa salah satu anggota yang diizinkan ikut dalam operasi lapangan kali ini adalah Xhavier, seorang pemagang yang tidak memiliki pengalaman sama sekali di lapangan, dan sialnya Nana harus bersama Xhavier sepanjang hari selama masa magang Xhavier habis. Di kursi penumpang sebelah Nana, Xhavier duduk dengan ekspresi datar, mengenakan rompi pelindung dan headset komunikasi seperti anggota resmi timnya yang lain. “Ini pertama kalinya kau turun ke lapangan langsung melakukan aksi bukan?” tanya Nana tanpa menatapnya. “Tidak juga,” jawab Xhavier tenang. “Aku sudah beberapa kali ikut simulasi.” jawab Xhavier. “Simulasi tidak sama dengan kenyataan. Ini bukan latihan menembak kaleng, dan aksi simulasi lainya seperti saat kau berada di pelatihan akademi.” balas Nana cepat. Xhavier menoleh, bibirnya terangkat sedikit merasa tersinggung akan ucapan Nana “Baiklah, Nona. Aku janji tidak akan menembak kaleng seperti saat simulasi." sahutnya. Nana mendengus pelan, menahan kesal "Kesialan selalu datang padaku, di tengah misi penting ini bisa-bisanya aku harus bertugas sekaligus membimbingmu." Gumam Nana kesal. *** Setelah hampir 2 jam menunggu dengan penuh kewaspadaan akhirnya operasi misi dimulai. Langit mulai meredup, angin laut berembus membawa aroma solar dan logam karat. Nana memberi isyarat pada timnya untuk bergerak perlahan mendekati gudang tempat transaksi senjata diduga berlangsung. Rio berada di sisi barat, dua agen lainnya di sisi belakang. Nana memimpin tim utama di depan. “Xhavier, tetap di belakangku. Jangan lakukan apa pun tanpa perintah,” ucapnya tegas, takut Xhavier akan melakukan kesalahan karena ini operasi misi lapangan pertamanya. “Siap, Nona." jawab Xhavier. Namun di tengah ketegangan itu, Xhavier bisa melihat ekspresi khawatir Nana yang tersembunyi dibalik nada tegas suaranya. Xhavier tahu Nana sedang berusaha menutupi rasa khawatir bukan hanya karena operasi ini berbahaya, tapi juga karena terlalu banyak yang bisa salah ketika ada “pemula” seperti dirinya di lapangan. Saat mereka menyusup masuk ke gudang, suara langkah kaki terdengar samar. Tiga pria bersenjata berdiri di dekat tumpukan peti kayu, sedang bertransaksi. Salah satu dari mereka membawa koper besar berisi uang tunai. “Sekarang,” bisik Nana di mikrofon. Serentak, tim polisi muncul dari berbagai arah. “Tangan di atas kepala! Polisi!” teriak Nana. Kekacauan pun pecah. Suara tembakan pertama meledak, memantul di antara dinding besi gudang. Salah satu penjahat langsung menjatuhkan koper, berlari ke arah pintu samping. “Kejar dia!” perintah Nana. Xhavier melesat tanpa berpikir dua kali. Ia bergerak begitu cepat hingga Nana sedikit terkejut. “Xhavier! Jangan pergi sendiri!” Teriak Nana. Tapi Xhavier sudah lenyap di balik deretan kontainer. Nana mengejarnya. Nafasnya memburu, langkah sepatunya berderap keras di lantai baja. Ia melihat sekilas bayangan Xhavier melompat menubruk salah satu pelaku, menjatuhkannya dengan gerakan cepat dan presisi terlalu cepat untuk ukuran pemagang. Pria yang berusaha kabur itu sempat menarik pelatuk senjatanya, namun Xhavier lebih dulu memutar pergelangan tangannya hingga pistolnya terlepas. Dalam beberapa detik, pelaku itu sudah tak berdaya. Nana tiba tepat ketika Xhavier menekan leher pelaku dengan lututnya, ekspresinya dingin, tanpa ragu. “Lepaskan,” perintah Nana cepat. Xhavier mendongak, menatapnya dengan mata gelapnya yang dalam. “Kalau aku lepas, dia akan lari.” “Aku bilang lepas!”Nada tegas Nana membuat Xhavier akhirnya menyingkir. Dua anggota tim datang mengamankan pelaku. Nana berdiri di depannya, menatapnya tajam. "Dari mana kau belajar menahan orang seperti itu?” Xhavier terhenyak, dia benar-benar larut dalam aksi, seharusnya dia tidak gegabah seperti itu mengingat statusnya sebagai pemagang otomatis seharusnya ia bertingkah seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa. Nana tetap menatap Xhavier penuh selidik sebelum akhirnya Xhavier menjawab dengan nada tenang "Aku berlatih diakademi dengan melihat video pelatihan polisi dan pasukan lainnya." “Jangan melakukan hal gegabah seperti tadi, kita adalah tim, kita memiliki tim jadi harus bergerak bersama." ucap Nana, dan Xhavier mengangguk. "Maafkan aku, Nona." jawab Xahvier merasa menyesal. Setelah operasi selesai, markas kembali ramai oleh laporan dan evaluasi. Semua anggota duduk melingkar, mendengarkan hasil dari pimpinan. Rio menepuk bahu Xhavier. “Hebat juga kau tadi, anak magang. Tidak semua pemagang bisa berpikir secepat itu di lapangan.” “Terima kasih, Pak Rio,” jawab Xhavier sopan. Sementara Nana hanya diam, tangannya mengetik laporan di laptop dengan cepat. Rio berbisik kearah Xhavier, ia tahu tadi Xhavier dimarahi habis-habisan oleh Nana, “Ucapan dan tingkah Nana tadi jangan diambil hati, dia melakukan itu karena dia khawatir." “Aku tidak keberatan atas tindakan Nona Nana tadi, Pak,” balas Xhavier pelan, matanya menatap ke arah Nana. Rio tersenyum melihat respon Xhavier sebelum perhatiannya dicuri oleh Nana yang tiba-tiba berdiri. “Baik. Operasi selesai. Semua kembali ke posisi masing-masing.” Ucap Nana, membuat semua anggota timnya bersorak senang karena satu lagi tugas mereka selsai tanpa ada yang terluka. Beberapa jam kemudian, malam menjelang. Nana duduk sendirian di balkon kantor, menatap cahaya kota yang berpendar di kejauhan. Di tangannya ada secangkir kopi yang sudah dingin. Pikiran Nana melayang pada apa yang terjadi di gudang tadi. Ia mulai merasa bersalah karena telah bersikap keras pada Xhavier. “Apa yang sedang kau pikirkan?" suara lembut itu membuat Nana menoleh. Xhavier berdiri di ambang pintu balkon, membawa dua kaleng minuman. Ia meletakkan salah satunya di meja kecil dekat Nana, lalu duduk tanpa diundang. “Kenapa masih disini? Seharusnya kau pulang dan istirahat, apalagi tadi pekerjaan kita cukup melelahkan." ucap Nana. “Kau sendiri, kenapa masih disini bukannya pulang?" balas Xhavier dengan nada santai. Nana menghela napas, memilih diam. Beberapa detik kemudian, ia bertanya pelan, “Kenapa kau masuk kepolisian, bukankah waktu itu kau berkata kau membenci kepolisian?" Xhavier menatap langit lalu menjawab pelan. “Karena, mungkin jika aku bekerja di kepolisian aku tidak akan membenci anggota kepolisian lagi." “Kadang untuk menyukai sesuatu kita harus mencobanya terlebih dahulu." lanjut Xhavier membuat Nana mengangguk tanda setuju. Merekapun terdiam lama. Hanya suara angin malam yang berhembus membawa aroma debu dan lembabnya malam. --- Beberapa hari kemudian, Xhavier dan anggotanya memutuskan untuk memulai aksi pembunuhan mereka kembali dan kali ini, korbannya adalah seorang pengusaha besar yang baru saja dinyatakan tidak bersalah di persidangan oleh hakim atas kasus pelecehan, padahal jelas-jelas bukti dan saksinya ada namun hakim tidak menjatuhi hukuman padanya. Xhavier yang saat itu ada di markasnya segera mencoret foto target barunya menggunakan sepidol merah "Lagi, lagi hukum negara kita tumpul keatas. Lelaki b***t itu diponis bebas setelah melakukan penganiayaan dan pemerkosaan pada seorang gadis." ucap Xhavier. "Ingat misi kita, jika keadilan tidak bisa ditegakan maka kita yang akan memberikan keadilan itu." ucap Tessa semakin menambah semangat para anggotanya. Sementara itu di kepolisian, tepatnya di devisi milik Nana. Mata Nana terlihat melotot saat melihat berita bahwa hakim memutuskan pengusaha sukses Tuan Jhon dinyatakan bebas setelah tidak ada cukupnya bukti di persidangan. "Apa-apaan itu!.. Kita yang menyelidiki kasus Tuan Jhon ini, kita yang mengumpulkan bukti dan saksi, kasusnya benar terjadi dan dia pelakunya bisa-bisanya hakim memutusnya bebas dengan dalih kurang bukti." Pekik Nana merasa kesal, jujur terkadang Nana sendiri kesal pada aparat penegak hukum di negaranya. Nana terdiam sejenak berusaha menahan amarahnya lalu ia tersenyum getir kala kembali mengingat ucapan Xhavier saat pertama kali mereka bertemu. "Xhavier benar, hukum di Negara ini bisa di perjual belikan." gumam Nana. Pak Rio menatap Nana lalu berkata "Nampaknya akan ada kasus pembunuhan lagi." Mendengar ucapan Pak Rio Nana menyerengit bingung. "Apa maksudmu, Pak?" tanya Nana penasaran. "Aku yakin Tuan Jhon pasti akan menjadi target pembunuhan dari kelompok The Shadow Angel. apa kau lupa bahwa pembunuh itu selalu menargetkan orang-orang jahat kebal hukum seperti Tuan Jhon ini." jawab Tuan Rio. "Bisa jadi," jawab Nana Bersambung!...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD