Pemagang yang tak diundang

1512 Words
Pagi itu, langit tampak muram seperti menahan hujan. Kantor Kepolisian Pusat Negara A, penuh hiruk-pikuk. Deretan meja dengan tumpukan berkas, aroma kopi hitam yang menguar, dan suara mesin printer yang terus berdengung menjadi latar kesibukan rutin para petugas kepolisian. Di salah satu sudut ruangan, Nana Lohunea duduk dengan wajah serius menatap layar komputer. Rambutnya diikat setengah, mata fokus membaca laporan hasil investigasi baru. Ia belum tidur dengan benar dua hari terakhir, terus memikirkan kasus berantai yang kini jadi sorotan nasional yaitu kasus pembunuhan yang dilakukan “The Shadow Angel.". Empat korban, semua pejabat publik. Pola pembunuhan identik. Tidak ada jejak sidik jari, tidak ada CCTV yang jelas, tidak ada jejak apapun di TKP semua dilakukan dengan bersih tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Pembunuhnya seperti hantu. Nana menatap foto-foto korban di mejanya. “Semua orang ini… mungkin memang pantas dihukum, karena mereka adalah koruptor yang dihukum tidak setimpal terhadap perbuatannya.” gumamnya lirih. “Tapi bukan begini caranya.” Ia menyandarkan kepala di kursi, menatap langit-langit sambil menarik napas dalam. Pikiran tentang pria misterius yang menabraknya tempo hari tiba-tiba muncul lagi. Tatapan mata itu, nada suaranya, bahkan cara pria itu bicara, semuanya terasa janggal dan… entah kenapa, menarik. “Argh, kenapa aku malah kepikiran pada lelaki aneh itu,” desahnya pelan. Tepat saat itu, pintu utama terbuka keras. Seorang pria tampan berjaket abu-abu masuk, membawa map dan senyum sopan yang anehnya terlalu tenang untuk orang baru. “Selamat pagi. Aku peserta magang baru yang dikirim dari akademi.” Semua kepala menoleh ke arah sumber suara. Nana yang tengah memegang cangkir kopi spontan menoleh dan... “KAU LAGI?!” serunya hampir tersedak. Cangkir di tangannya nyaris jatuh. Orang itu menatapnya dengan senyum ringan. "Selamat pagi juga, Detektif Nana Lohunea.” Suaranya tenang, hampir terdengar seperti ejekan halus. “Eh, kalian sudah saling kenal?” tanya Komandan Rio, pria paruh baya berkumis tebal yang memimpin divisi kriminal tempat Nana bertugas. Nana masih menatap tajam ke arah pria itu, nyaris tidak percaya. "Kenal? Tidak. Aku cuma pernah bertemu dia secara… tidak menyenangkan.” jawab Nana Pria itu, Xhavier Hassan karena itulah nama yang ia daftarkan di dokumen magang palsunya, ia mengangguk sopan saat Pak Rio menatapnya “Ya, waktu itu aku yang ditabrak oleh Detektif Nana Lohunea di tengah jalan. Tapi tidak apa-apa, aku maklum. Mungkin dia sedang terburu-buru mengejar penjahat.” ucap Xhavier mengejek Nana sepontan semua rekan polisi di ruangan itu menahan tawa akan celotehan Xhavier. Nana memutar bola matanya malas. “Kau yang nabrak aku, dasar…" “Cukup, cukup!” potong Komandan Rio sambil menepuk pundak Xhavier. “Bagus, anak muda. Selamat datang di divisi kriminal. Kami butuh darah baru yang berani sepertimu.” “Terima kasih, Komandan,” jawab Xhavier dengan nada sopan, tapi matanya menatap sekilas ke arah Nana dengan kilatan nakal yang nyaris tak terlihat. Komandan lalu menatap Nana. “ Nana, karena kau yang paling muda tapi paling berpengalaman di lapangan, kau yang jadi pembimbing magang ini. Ajari dia bagaimana sistem kita bekerja.” Nana mematung. “Apa? Aku?” “Iya, kau." sahut Pak Rio “Tapi Komandan, aku sedang sibuk—” “Harus kau, Nana. anggap saja latihan kesabaran. Sudah, tidak usah protes.” Ucap Pak Rio lalu berjalan pergi sambil tertawa kecil, meninggalkan Nana yang kini menatap kesal ke arah Xhavier. “Bagus. Sekarang aku jadi babysitter,” gumam Nana agak kesal. Xhavier tersenyum lebar. “Jangan khawatir, aku anak magang yang patuh. Aku akan mengikuti semua perintahmu… Detektif.” Nada bicara Xhavier seolah menguji kesabaran. Nana menghela napas dalam, mencoba menahan diri agar tidak melempar stapler. “Baiklah. Pertama, kau bisa mulai dengan menyortir laporan ini. Ada sekitar dua ratus berkas yang perlu dikategorikan.” “Dua ratus?” ulang Xhavier dengan nada pura-pura terkejut. “Ya. Anggap saja latihan awal.” ucap Nana “Ini bukan latihan, tapi kau sengaja untuk menghukumku karena menabrakmu?” ucap Xhavier "Syukurlah jika kau sudah tahu tujuanku." balas Nana, ia duduk kembali, berpura-pura sibuk dengan layar komputernya. Tapi diam-diam, sudut matanya terus memperhatikan gerak Xhavier. Ada sesuatu pada pria itu—cara ia memegang map, cara ia membaca berkas, bahkan gerak matanya saat mengamati detail kasus. “Orang biasa tidak bisa menilai luka tusuk seakurat itu,” pikir Nana dalam hati kala ia kembali mengenang ucpan Xhavier mengomentari foto korban yang dilihatnya pada saat pertama kali mereka bertemu. “Dia bukan orang sembarangan..” pikir Nana Sementara itu, Xhavier bekerja dalam diam, tapi pikirannya penuh perhitungan. Ia tahu setiap langkahnya di kantor ini diawasi. Tapi justru itulah yang membuat misinya menantang. Tujuan Xhavier sederhana yaitu mengawasi penyelidikan Nana, memastikan gadis itu tidak sampai menemukan jejak pembunuhan yang dilakukan Xhavier dan kelompoknya. Namun, setiap kali Xhavier melirik wajah Nana, wajah gadis itu tampak ekspresi serius, bibir mengerucut saat berpikir, dan rambut yang jatuh ke pipinya membuat Xhavier tersentak. Ada sesuatu yang lain tumbuh di d**a Xhavier, bukan ancaman, bukan kewaspadaan. Tapi sesuatu yang lebih berbahaya yaitu rasa ketertarikan pada lawan jenis. Beberapa jam berlalu. Di ruang istirahat kecil, Nana berdiri menuang kopi. Xhavier menyusul masuk, membawa tumpukan berkas. “Sudah selesai?” tanya Nana datar. “Ya, semua sudah aku sortir berdasarkan kategori, jenis kasus, waktu, dan lokasi.” Nana terdiam sejenak, memeriksa tumpukan berkas itu. Ia terkejut. “Kau lakukan ini dalam waktu tiga jam?” “Ya, kenapa?” jawab Xhavier “Biasanya pemagang butuh dua hari untuk menyelesaikan pekerjaan ini.” ucap Nana “Kalau kau cukup fokus, tiga jampun cukup,” jawab Xhavier datar. Nana menatapnya curiga."Kau bukan orang sembarangan, ya?” Tanyanya penuh selidik. Xhavier tak menjawab, ia hanya membiarkan Nana terjebak dalam rasa penasarannya tentang dirinya. sebelum tatapan mereka bertemu, lama, intens, sampai salah satu rekan Nana yang masuk ruangan batuk pura-pura saat melihat interaksi mereka. Nana langsung menunduk, berpura-pura sibuk dengan cangkir kopinya begitu mendengar suara batuk dari rekannya. Xhavier tersenyum samar, lalu melangkah keluar. Tapi langkahnya berhenti di depan pintu. "Oh ya, Detektif,” katanya pelan tanpa menoleh. “Hmm?” balas Nana. “Aku senang akhirnya kita bertemu lagi di tempat yang lebih… resmi.” Nada suara Xhavier menggoda, tapi dingin. Begitu pintu tertutup, Nana menatap kosong ke arah cangkirnya. “Orang itu… terlalu tenang,” bisiknya. “Dan kenapa jantungku berdetak begini? dasar jantung dan hati murahan, baru digoda sedikit sudah langsung berdetak tak karuan." gerutu Nana membuat rekan setimnya yang baru saja masuk langsung tertawa pelan. --- Malamnya, saat ruangan mulai sepi, Xhavier masih duduk di mejanya, pura-pura menulis laporan. Dari layar komputernya, ia membuka salinan database rahasia polisi sesuatu yang hanya bisa diakses dengan izin khusus. Tapi bagi hacker yang ada di kelompoknya itu hal sepele. Setelah memerintahkan hacker di kelompoknya meretas jaringan keamanan database kepolisian, Xhavier langsung mendapatkan informasi menyeluruh dari Nana. “Lohunea, Nana. 28 tahun. Divisi kriminal. Putri dari Komisaris Daniel Lohunea.” baca Xhavier pada data yang tertera di layar komputernya Ia menatap nama Lohune itu lama sebelum ingatannya membawanya kepada sosok ayah dari Nana 4 tahun lalu. “Jadi dia… anak dari pria itu.” gumamnya membuat senyumnya memudar. Xhavier tertawa lirih saat mengetahui Nana adalah anak dari Danuel Lohune "Takdir mulai bermain begitu cepat.” gumamnya. Suara langkah sepatu terdengar mendekat. Nana muncul di balik sekat meja, membawa jas dan tasnya. "Kau masih di sini?” Tanyanya. “Ya. Aku suka suasana kantor malam hari. Tenang.” jawab Xhavier. “Tenang, atau karena kau menyembunyikan sesuatu?" Nana lagi-lagi bertanya penuh selidik. Pertanyaan itu membuat Xhavier menatap Nana sekilas "Insting Nana memang tajam, aku harus hati-hati berada di dekatnya, salah melangkah bisa-bisa identitasku terbongkar." pikir Xhavier lalu lalu tertawa pelan dan menjawab "Memangnya apa yang dapat disembunyikan orang biasa sepertiku." Nana mendengus pelan. “Tapi instingku mengatakan bahwa kau bukan orang biasa." balas Nana “Ayolah Nona Nana jangan terlalu serius menanggapi semua hal, kau terlalu serius untuk seseorang yang cantik.” ucap Xhavier berusaha mencairkan suasana diantara mereka. Nana menatapnya tajam, tapi pipinya sedikit memerah setelah mendengar godaan Xhavier yang menyebutnya cantik “Berhenti menggodaku, anak magang.” Melihat reaksi Nana yang sedikit malu, Xhavier langsung berdiri perlahan, menatapnya dari dekat. “Kalau aku bukan anak magang, apa kau masih akan mencurigaiku?" pertanyaan Xhavier itu membuat ruangan hening sesaat. Nana tak tahu harus menjawab apa. Lalu ia berbalik cepat, mengambil tasnya. “Bagiku kau terlalu misterius, kemunculanmu dan semua tingkahmu semua terasa aneh bagiku, itulah yang membuat aku akan cari tahu siapa kau sebenarnya.” Ucap Nana dan langsung pergi. Begitu Nana pergi, Xhavier berdiri diam di bawah cahaya lampu neon yang berkedip pelan.Ia menatap layar komputer lagi, foto Nana tersenyum di acara penghargaan kepolisian terpampang di layar komputer itu. “Kau memang gadis menarik, Nana. Mari kita lihat apakah kau akan menemukan identitasku atau tidak." gumam Xhavier. Malam semakin larut. Di luar, hujan kembali turun. Di atap gedung, seseorang dengan headset hitam berdiri menatap ke bawah, memantau ruangan melalui teleskop kecil, gadis itu adalah Tessa salah satu anggota dari kelompok Xhavier. Tessa mengarahkan ponselnya yang sudah tersambung pada anggota kelompoknya yang lain lalu berkata "Xhavier berhasil masuk, penyamaran sukses." Ucapan Tessa membuat 5 anggota kelompoknya yang lain langsung bernafas lega. Bersambung!..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD