Pernikahan Rama dan Sinta semakin dekat, semakin sibuk pula pasangan kekasih itu menyiapkan pernikahan mereka. Hari ini Rama dan Sinta memiliki janji temu dengan salah satu toko perhiasan ternama di Jakarta. Rama dan Sinta akan memilih cincin pernikahan mereka.
Selagi menunggu Rama menjemputnya, Sinta mengecek benerapa dokumen keuangan di ruang kantor butiknya.
tok tok tok...
"Masuk" sahut Sinta dari dalam ruangan ketika mendengar pintu ruangannya diketuk.
"Ceklek"
Seorang laki-laki dengan pakaian kantor masuk ke dalam ruangan Sinta.
"Sibuk banget sayang" ucap Rama pertama kali ketika melihat sang kekasih sedang fokus dengan laporan di tangannya
"Ram...gak kok sayang, aku cuman lagi ngecek beberapa laporan keuangan butik. Mau berangkat sekarang?" tanya Sinta
"Boleh sayangku" balas Rama.
Di sebuah toko perhiasan yang mewah, dengan suasana romantis yang terasa di setiap sudutnya. Pasangan calon pengantin Rama dan Sinta sedang berjalan di antara deretan etalase etalase yang menampilkan banyak sekali perhiasan indah dan berkilau. Mereka berdua tersenyum satu sama lain, mata mereka saling bertemu, dan di setiap langkahnya, mereka merasa semakin dekat dengan momen besar yang akan datang.
Sinta berhenti di depan etalase yang menampilkan cincin nikah. Matanya berbinar melihat cincin emas putih dengan berlian kecil yang mempesona. “Bagaimana menurutmu, Sayang?” tanyanya sambil menunjuk cincin itu, suaranya lembut.
Rama mendekat dan mengamati cincin yang dimaksud. Dia mengangguk pelan. “Aku suka. Elegan, sederhana, dan pasti akan cocok dengan tangan indah mu” jawabnya sambil tersenyum hangat.
Sinta tertawa kecil, “Aku juga suka yang sederhana, tapi aku ingin cincin yang bisa mengingatkan kita tentang perjalanan kita bersama nanti.”
Rama menatap Sinta dengan penuh kasih, kemudian meraih tangan Sinta dan menggenggamnya. “Cincin itu akan selalu mengingatkan kita tentang janji kita, Sinta. Janji untuk selalu bersama, dalam suka dan duka.”
Sinta lalu menggenggam tangan Rama lebih erat. “Aku tak sabar untuk hari itu datang,” katanya dengan penuh harapan.
Mereka terus melangkah ke etalase lain, berbicara tentang pilihan mereka, sambil membayangkan kehidupan bersama di masa depan. Toko perhiasan itu menjadi saksi bagi mereka berdua, pasangan yang tak hanya memilih cincin, tetapi juga memilih satu sama lain, untuk selamanya.
Setelah menentukan cincin pernikahan mereka, Sinta dan Rama menghabiskan waktu bersama dengan makan siang di sebuah kafe kecil yang nyaman. Sinta dan Rama duduk berhadapan di meja yang terletak di sudut ruangan. Meja itu dihiasi dengan bunga kecil di vas, memberikan suasana yang tenang dan romantis. Mereka baru saja memesan makanan mereka, dan suara percakapan ringan mengalir di antara mereka, seiring dengan aroma harum dari hidangan yang dihidangkan.
Sinta mengambil sendoknya dan mencicipi sup tomat yang baru saja dihidangkan. “Hmm, supnya enak sekali, kamu harus coba!” katanya dengan senyum lebar.
Rama tersenyum dan mengangkat sendoknya, lalu mencicipi sup itu. “Kamu benar. Rasanya pas banget. Tapi aku lebih suka makananmu yang lain, sih,” jawabnya sambil menggoda.
Rina memiringkan kepala, penasaran. “Makanan apa? Kamu kok kayaknya sudah tahu apa yang aku pesan.”
Rama tertawa kecil, “Kamu suka banget spaghetti, jadi aku yakin itu pasti menu pilihanmu.”
Sinta tertawa dan mengangkat garpu, mencubit sedikit spaghetti yang ada di piringnya. “Gimana bisa kamu begitu tahu? Benar banget, ini menu favoritku.” Dia menyuapkan spaghetti itu ke mulutnya, lalu mengerling ke arah Rama. “Kalau kamu, lebih suka yang pedas, kan?”
“Benar!” Rama mengangguk antusias. “Gak lengkap rasanya kalau makan tanpa rasa pedas. Tapi hari ini aku senang karena kita bisa makan bareng, cuma kita berdua.”
Sinta tersenyum dan menatap Rama dengan lembut. “Aku juga senang. Momen sederhana seperti ini selalu terasa spesial kalau dilakukan dengan orang yang tepat.”
Mereka berbincang ringan tentang hal-hal kecil, saling menggoda, tertawa bersama, menikmati kebersamaan di tengah hiruk-pikuk dunia yang berjalan di sekitar mereka. Bagi mereka, momen makan siang ini bukan hanya tentang makanan, tetapi juga tentang berbagi cerita, tawa, dan rasa nyaman yang hanya bisa didapatkan saat bersama orang yang kita cintai.
Di sisi lain, Raka sedang berada di ruang kantornya yang modern dan minimalis, CEO tampan itu duduk di kursi kulit hitam, mengenakan jas yang rapi dengan dasi yang sedikit longgar. Suasana di sekitar ruangan cukup tenang, hanya terdengar suara ketikan cepat dari keyboard dan dering ponsel yang sesekali mengganggu konsentrasi. Layar komputernya penuh dengan dokumen dan email yang menuntut perhatian segera.
Raka menatap layar dengan fokus, matanya tajam dan penuh perhitungan. Di depannya, laporan terbaru tentang perkembangan proyek sedang menunggu untuk diperiksa. Di samping itu, panggilan telepon masuk satu per satu, beberapa dari investor, yang lain dari tim internal yang memerlukan keputusan penting untuk melanjutkan langkah strategis mereka. Setiap telepon yang diterima, Raka menjawab dengan tenang, nada suaranya penuh keyakinan, mencerminkan kekuatan yang dimilikinya sebagai pemimpin.
Sebentar, Raka melemparkan pandangan ke luar jendela besar di kantornya yang menghadap ke kota. Dia merenung sejenak, menyadari betapa banyaknya yang dipertaruhkan. Semua keputusan yang diambil akan memengaruhi tidak hanya perusahaan, tetapi juga kehidupan banyak orang yang bergantung pada visinya. Tiba-tiba, ponselnya bergetar lagi, pesan dari tim manajer yang meminta persetujuan untuk langkah selanjutnya dalam proyek besar. Dengan sigap, dia membuka pesan itu dan mengetik balasan singkat namun penuh pertimbangan.
“Setuju, pastikan semuanya berjalan sesuai rencana,” balasnya sambil menekan tombol kirim.
Raka menarik napas dalam-dalam dan menyandarkan tubuhnya sejenak, memijat pelipisnya yang mulai terasa tegang. Di balik penampilan yang tenang dan penuh percaya diri, dia tahu bahwa pekerjaan ini bukan hanya tentang keberhasilan bisnis, tapi juga tentang bagaimana menjaga orang-orang yang bekerja dengannya agar tetap merasa dihargai dan termotivasi.
Ketika rapat selanjutnya dimulai, Raka berdiri dan berjalan menuju ruang konferensi dengan langkah tegas, wajahnya tetap tampan meskipun terlihat sangat serius. Sebagai CEO, dia tahu betul bahwa tampangnya mungkin sering menjadi perhatian, tetapi jauh lebih penting baginya adalah bagaimana dia memimpin dengan keputusan yang tepat dan visi yang jelas.
Di balik segala kesibukannya, Raka menyadari bahwa setiap langkah yang diambil, setiap keputusan yang dibuat, adalah bagian dari tanggung jawab besar yang harus dia jalankan, bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk seluruh tim yang mengandalkan arah yang dia berikan. Raka memanglah CEO yang terlihat dingin dari luar, tapi tidak ada yang tahu, bahwa dia sangat memperdulikan semua nasib pekerjanya.