Hari berganti, Minggu berlalu dan bulan berubah. Hubungan persahabatan antara Rinta dan Bara semakin baik, pekerjaannya juga lancar. Meski sedikit, tapi Rinta telah mulai bisa tersenyum karena Bara. Memang tak sepenuhnya menghilang, tapi ingatannya tentang Andro perlahan teralihkan. "Rinta, aku suka sama kamu, sejak pertama kali kita bertemu. Kamu mau kan jadi pacarku?" Ucap Bara sambil mondar-mandir di kamarnya sendirian. "Aahhh, terlalu kuno," gumamnya lagi sambil menjatuhkan tubuhnya sendiri ke atas ranjang. Pemuda itu bangkit duduk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Frustrasi. Dia berencana akan menyatakan perasaannya pada Rinta hari ini. Bara sudah tidak sanggup lagi jika harus menunggu lebih lama, rasanya hatinya ingin meledak. "Rinta, aku sayang sama kamu, aku ingin menja

