Penyesalan Terdalam

1366 Words
Kepala Cielo terasa berat saat ia terbangun dari tidurnya. Sepertinya ia baru saja bermimpi tentang kenangan manisnya saat pertama kali bertemu dengan Morgan. Namun, sebuah suara serak berbisik lirih di telinganya. "Kamu sudah bangun?" Cielo mengerjapkan matanya dan berusaha melihat lebih jelas. Ia seolah tidak percaya menyaksikan siapa yang sedang berbaring di sampingnya. Seorang pria tampan dengan tato berbentuk naga di bahu kanannya. Tubuhnya yang kekar itu bertelanjang d**a dan hanya terbalut sebuah selimut. Mata indah pria itu tengah mengamatinya dengan seksama. "An..sel, sedang apa kamu disini?" pekik Cielo. Cielo menatap Ansel penuh ketakutan layaknya seseorang yang baru saja melihat hantu. "Cielo, apa kamu sama sekali tidak ingat apa yang terjadi semalam antara kita berdua?" "A..apa?" tanya Cielo tidak mengerti. Senyuman tersungging di bibir Ansel. "Semalam, kamu sangat b*******h, Sayang. Kamu sudah menyerahkan dirimu padaku. Aku senang karena aku menjadi yang pertama bagimu." Perkataan Ansel seperti petir yang menyambar di telinga Cielo. Memang sejak bangun, ia merasakan perih di bagian bawah tubuhnya. Cielo mencoba memandang dirinya sendiri yang terbalut selimut. Alangkah terkejutnya ia mendapati tubuhnya yang polos tanpa mengenakan sehelai benangpun. Ia mengamati keadaannya yang begitu menyedihkan. Bekas-bekas kecupan merah bertebaran hampir di seluruh kulit tubuhnya yang biasanya putih tanpa cela. Mata Cielo berkaca-kaca. Ia tidak percaya nasibnya akan seburuk ini. "Kenapa kamu menangis? Bukankah kita sepakat melakukannya? Kamu tau aku baru pertama kali bercinta dengan seorang gadis yang masih suci sepertimu. Saat pertama melihatmu, aku yakin kamu belum pernah berhubungan dengan pria manapun. Aku puas bisa memilikimu sekarang," bisik Ansel di telinga Cielo. Cielo memperhatikan noda berwarna merah yang tercetak jelas di atas sprai tempat tidurnya. "Bagaimana bisa aku segila itu? Aku menyerahkan kehormatanku sendiri pada pria seperti Ansel. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" pikir Cielo putus asa. Air mata Cielo membasahi kedua pipinya. Ia merasa hidupnya sudah hancur berkeping-keping dalam semalam. Ia tidak bisa menyalahkan Ansel, karena semua ini terjadi atas kemauannya sendiri. "Aku tidak akan bisa menghadapi Morgan. Aku sudah ternoda dan kotor. Aku tidak pantas lagi untuknya," pikir Cielo sambil terisak. Ansel bangkit dari tempat tidur dan menyerahkan tissue kepada Cielo. "Jangan menangis, Cielo. Aku paling tidak suka melihat seorang gadis menangis di depanku. Mungkin ini terasa sulit karena kamu baru pertama kali melakukannya. Tapi setelah ini kamu akan terbiasa." "Kalau kamu mau, kita akan coba berkencan mulai sekarang. Kita perlu banyak menghabiskan waktu bersama supaya bisa menjadi sepasang kekasih," sambung Ansel. Sikap Ansel seolah-olah menunjukkan bahwa hal semacam ini sudah biasa baginya. Ansel berjalan pergi ke kamar mandi dan meninggalkan Cielo sendirian di kamar. Cielo tidak menggubris perkataan Ansel sama sekali. Ia sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri. "Aku harus segera meninggalkan tempat ini. Aku tidak ingin bertemu lagi dengan Ansel," pikir Cielo buru-buru memungut bajunya yang berserakan di lantai. Tanpa menunggu waktu lama, Cielo bergegas pergi untuk meninggalkan apartemen milik Ansel. Namun langkahnya terhenti ketika melihat tombol password di pintu apartemen. "Bagaimana caranya aku kabur dari sini? Aku tidak tahu berapa passwordnya," gumam Cielo merasa frustasi. "Apa yang kamu lakukan, Cielo? Apa kamu ingin pergi tanpa pamit padaku?" tanya Ansel tiba-tiba sudah berdiri di belakang Cielo. "A..aku harus pergi sekarang," jawab Cielo gugup. "Bersihkan dulu dirimu sebelum pergi. Apa kamu ingin orang lain melihatmu dalam keadaan berantakan seperti itu? Apalagi bajumu robek." Cielo memandang keadaan dirinya sendiri yang menyedihkan. Apa yang dikatakan Ansel memang ada benarnya. Dia tidak mungkin pulang kembali ke rumahnya dalam kondisi yang kacau balau. "Maaf, boleh aku mandi dulu? Setelah itu aku akan pergi dari sini." Ansel tertawa mendengar pertanyaan Cielo. "Kamu beruntung karena ada di apartemenku. Aku tinggal sendirian disini, jadi tidak akan ada yang melihatmu mandi, kecuali aku. Setelah itu ganti bajumu. Aku menyimpan beberapa baju wanita dari mantan pacarku di dalam lemari. Kamu bisa memilih salah satunya." "Dia memang cowok playboy yang suka berganti-ganti pacar. Pasti dia banyak melakukan hubungan semalam dengan para wanita. Aku benar-benar merasa jijik pada diriku sendiri karena sudah tidur dengan lelaki ini," batin Cielo putus asa dengan nasibnya. Cielo buru-buru menuju ke kamar mandi untuk membersihkan jejak perbuatan terlarang pada dirinya. Ia menyiram seluruh tubuhnya dengan air dingin dan menggosok kulitnya berkali-kali dengan sabun. Namun tetap saja Cielo merasa dirinya sangat kotor. Cielo kembali meneteskan air matanya. Ia bahkan tidak tau apa yang harus dikatakannya kepada mama dan omanya nanti. Apalagi mamanya sedang sedih karena perselingkuhan yang dilakukan papanya. Tidak mungkin, Cielo menambah beban penderitaan mamanya dengan mengatakan bahwa kesuciannya telah ternoda. Paling tidak di tengah penderitaannya, Cielo masih bersyukur karena mamanya menginap di rumah bibinya yang ada di luar kota. Dengan begitu, mamanya tidak akan melihat secara langsung keadaan tubuhnya yang sangat menyedihkan, Cielo keluar perlahan-lahan dari kamar mandi. Ia merasa lega ketika mendapati Ansel tidak ada di kamarnya. Cielo mengamati dressnya yang sobek di bagian samping kanan. Memang mustahil baginya untuk memaksakan diri mengenakan dress itu. Dengan terpaksa, Cielo membuka lemari baju di kamar Ansel. Ia menemukan sebuah dress casual berwarna merah yang ukurannya terlihat pas untuknya. "Dress ini pendek sekali. Tapi lebih baik aku memakainya dan segera pulang," batin Cielo mengamati dirinya sendiri di cermin. Cielo keluar dari kamar dan melihat Ansel sedang sibuk mengerjakan sesuatu di laptopnya. "Ia tampak begitu santai seperti tidak terjadi apa-apa. Aku hanya satu dari sekian banyak wanita yang pernah tidur dengannya. Harga diriku benar-benar sudah hilang dan masa depanku hancur," keluh Cielo di dalam hati. Ia merasa miris dengan kenyataan hidupnya sendiri. "Ansel...," panggil Cielo ragu-ragu. "Hmmm, ada apa? Apa kamu ingin pulang sekarang?" "I..iya," jawab Cielo singkat. Ansel bangkit berdiri dan langsung menuju ke pintu. Ia menekan beberapa tombol angka lalu membukakan pintu apartemennya. "Terima kasih," ucap Cielo buru-buru keluar dari pintu. "Apa pikiranku sudah tidak waras sampai aku mengucapkan terima kasih kepada orang yang sudah mengambil kesucianku? Seharusnya aku memukulnya atau mengutukinya," batin Cielo tidak habis pikir dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Sesungguhnya ia sangat ingin mengucapkan makian di depan wajah pemuda tampan yang berhati iblis itu. Jika Ansel pemuda baik-baik, tidak mungkin ia akan mencari keuntungan di saat dirinya sedang tidak sadar. Senyuman tersungging di bibir Ansel. Ia tiba-tiba menahan tangan Cielo. "Apa kamu tidak ingin mempertimbangkan tawaranku? Aku tidak memberikan kesempatan kepada setiap gadis untuk menjadi pacarku." "Tawarkan saja kepada gadis lain yang kamu mau. Anggap saja kamu tidak pernah mengenalku," jawab Cielo berlalu meninggalkan Ansel. "Dia gadis yang unik. Biasanya gadis lain akan memohon untuk terus bersamaku. Aku akan lihat sampai kapan dia bertahan dengan sikap sombongnya," batin Ansel memandang kepergian Cielo. *********** "Cielo, semalam kamu menginap dimana? Kenapa tidak pulang? Oma khawatir memikirkanmu. Oma tanya pada Lena, tapi dia juga tidak tau kamu ada dimana," tanya Oma kepada Cielo. "Maaf, Oma, Cielo kemarin menginap di rumah teman karena pestanya sampai malam," jawab Cielo terpaksa berbohong. Cielo memandang ke sekeliling ruangan untuk mencari Selena. Ia ingin menanyakan apakah Selena mengetahui siapa yang mencampurkan obat perangsang ke dalam minumannya. Tapi ia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan saudari kembarnya itu. "Oma, dimana Lena?" "Lena barusan pergi. Katanya ada janji dengan temannya." "Kalau begitu, Cielo masuk ke kamar dulu Oma. Cielo mau istirahat sebentar. Nanti Cielo akan bantu Oma memasak." "Tidak usah, Ciel. Oma akan memanggilmu nanti kalau makan siangnya sudah siap." Cielo masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu dari dalam. Dengan penuh rasa putus asa, ia merebahkan diri di tempat tidur. Entah mengapa takdir hidupnya begitu buruk. Ia tidak tau bagaimana harus menjalani hari-harinya kelak. Cielo mengambil ponselnya dari dalam tas. Ia baru tersadar kalau mungkin ponselnya sudah mati karena kehabisan daya saat tragedi itu terjadi. Cielo mengambil charger dan mencoba mengisi daya baterainya. Kurang lebih lima menit menunggu, Cielo mencoba untuk menyalakan ponselnya. Ia terkejut mendapati beberapa panggilan tak terjawab dan satu pesan masuk dari Morgan. "Sayang, kenapa tidak mengangkat telponku? Apa kamu sudah sampai di rumah? Tiba-tiba saja aku gelisah memikirkanmu. Apa kamu baik-baik saja? Tolong kabari aku secepatnya," tulis Morgan. Rasanya Cielo ingin menangis sejadi-jadinya ketika membaca pesan dari pria yang dicintainya itu. "Morgan, maafkan aku. Aku tidak sanggup membalas pesanmu. Aku juga tidak akan menerima panggilan telponmu lagi," batin Cielo pedih. Pandangan mata Cielo menerawang jauh. Sekumpulan memori manisnya ketika bertemu Morgan di bangku kuliah, silih berganti melintas di kepalanya. Sayangnya, semua itu cuma tinggal kenangan. Mungkin, hanya kenangan indah itulah yang di kemudian hari menjadi pegangan baginya untuk tetap bertahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD