Dua Tahun Yang Lalu....
Cielo menyiapkan buku teks dan catatan yang akan dipakainya untuk menulis.
Nayla tiba-tiba mencolek punggung Cielo dari belakang.
"Ciel, lihat itu siapa yang datang bersama Pak Sastro?" ucap Nayla setengah berbisik.
Cielo menegakkan kepalanya dan memandang ke arah pintu. Ia melihat Pak Sastro, dosen Statistika, sedang berjalan sambil berbicara dengan seorang pemuda yang bertubuh tinggi.
"Wow, itu Morgan Renato, saingan nilaimu, Ciel. Dia baru pindah di kampus kita waktu semester dua. Denger-denger IPKnya empat sempurna sama sepertimu. Padahal dia mengambil kuliah di dua tempat sekaligus. Tapi aneh, kok dia bisa sedekat itu sama Pak Sastro?" tanya Tobi penasaran.
Cielo kembali menatap ke arah pintu. Ia memang sudah lama penasaran dengan sosok Morgan Renato. Cielo mendengar dari teman-temannya bahwa ada mahasiswa pindahan yang bisa menyamai IPKnya di semester tiga kemarin. Namun sayang ia belum pernah sekelas dengan Morgan. Untuk pertama kalinya di awal semester empat, ia bisa bertemu dengan Morgan di kelas yang sama.
Jika dilihat dari dekat, Morgan memang seorang pemuda yang sangat sempurna. Wajahnya begitu tampan dengan kulit putih dan postur tubuh yang ideal. Ia mungkin lebih cocok menjadi model atau anggota boyband daripada seorang mahasiswa. Alisnya yang tebal dan sinar matanya yang tajam menunjukkan ia adalah seorang yang cerdas. Penampilan fisiknya yang mempesona itu ditambah dengan kepintarannya, merupakan formula paling sempurna yang akan membuatnya menjadi idola baru di kampus. Ketika ia melangkah masuk ke dalam kelas, sebagian besar cewek saling berbisik dengan ekspresi wajah penuh kekaguman.
Tanpa banyak bicara, Morgan langsung duduk di bangku paling depan. Tempatnya duduk hanya berjarak satu kursi dari Cielo. Itu artinya, Cielo hanya duduk berdua dengan Morgan di barisan terdepan.
"Cieee..., dua saingan duduk bersama. Panas, panas," gumam Tobi kepada Nayla.
"Ssst, jangan berisik. Pak Sastro udah mulai jelasin pelajaran. Bisa diketok kepalamu," kata Nayla memperingatkan Tobi.
Cielo melirik sekilas ke arah Morgan. Pemuda itu terlihat begitu serius dan tatapan matanya lurus ke depan. Wajahnya memang semakin tampan jika dilihat dari dekat. Namun Cielo merasakan adanya aura dingin pada diri pemuda itu.
Pak Sastro memulai pelajaran dengan meminta pengumpulan tugas dari murid-muridnya. Kemudian ia menjelaskan beberapa pokok bahasan di whiteboard. Cielo asyik mencatat beberapa point penting di bukunya, sampai ia mendengar seseorang memanggilnya dari samping.
"Hey, aku memanggilmu sejak tadi. Apa kamu gak dengar?" tanya Morgan keheranan.
"Heh, apa?" jawab Cielo terkejut.
Ia memang terlalu asyik mendengarkan dosennya, sehingga mengabaikan hal yang lain.
"Boleh aku pinjam satu penamu? Aku lupa membawa cadangan."
"Oh, iya, sebentar."
Cielo membuka kotak pensilnya dan mengambil satu buah pena miliknya yang tersisa.
"Ini, pakai saja," ucap Cielo meletakkan penanya di meja Morgan tanpa memandang ke arah pemuda itu.
"Katanya mahasiswa pintar, tapi lupa bawa alat tulis.
batin Cielo merasa terganggu.
"Nah, sekarang kita kerjakan latihan soal nomer satu dan dua dari halaman tujuh," ucap Pak Sastro.
Mata Pak Sastro berkeliling untuk mencari mahasiswa yang bisa ditunjuknya.
Pilihannya jatuh pada Devan, yang duduk paling belakang bersama teman-temannya.
"Coba kamu kerjakan nomer satu. Dan untuk nomer duanya, itu gadis yang pakai baju pink di depannya. Kamu kembarannya Cielo, khan?"
tanya Pak Sastro memperhatikan wajah Selena.
"Iya, Pak," jawab Selena singkat.
Selena tampak kesal karena mendapat giliran untuk mengerjakan soal. Dengan enggan, ia maju ke depan bersama Devan.
Cielo memperhatikan Selena dan Devan yang tampak bingung memahami soal itu.
Pak Sastro menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sampai kapan kalian berdua berdiri disitu? Jam pelajaran ini bisa habis karena kalian. Makanya dengarkan pelajaran saya baik-baik! Kembali ke kursi kalian sekarang."
"Iya, Pak," jawab Selena dan Devan bersamaan.
"Karena waktu kita tidak banyak, saya minta Morgan yang mengerjakannya. Morgan, kamu kerjakan soal nomer satu."
Cielo melihat sekilas kepada Morgan yang langsung bangkit berdiri dari kursinya. Dengan penuh percaya diri, Morgan mengambil marker untuk mengerjakan soal.
"Dan nomer dua, saya minta kamu Cielo yang mengerjakannya," sambung Pak Sastro.
"Wiih, pasangan paling pintar yang dipilih oleh Pak Sastro. Coba kita lihat siapa yang akan selesai lebih dulu di antara mereka," bisik Tobi kepada Nayla.
Para mahasiswa yang ada di kelas itu terlihat antusias menyaksikan kemampuan Cielo dan Morgan. Mereka penasaran ingin membandingkan secara langsung, siapa yang lebih unggul antara kedua mahasiswa paling pintar itu.
"Kenapa Pak Sastro menyuruhku mengerjakan soal bersamaan dengan dia? Aku tidak mau dibanding-bandingkan dengan cowok ini," pikir Cielo sedikit kesal.
Cielo berdiri di sebelah Morgan dan mulai mengerjakan soal. Cielo berusaha menuliskan jawabannya dengan cepat, namun ternyata Morgan selesai terlebih dahulu. Morgan melirik sekilas ke arah Cielo. Ia tersenyum tipis sebelum kembali ke kursinya.
"Apa maksudnya dia tersenyum seperti itu? Apa dia mengejekku karena aku kalah cepat? Sombong sekali," pikir Cielo merasa tidak suka dengan sikap Morgan.
Wajah Pak Sastro tampak puas ketika memeriksa pekerjaan Morgan dan Cielo.
"Bagus, jawabannya benar semua. Silahkan kalian semua perhatikan bagaimana langkah-langkah penyelesaiannya. Sekarang saya berikan tugas untuk kalian mengerjakan nomer tiga sampai sepuluh. Kumpulkan di hari Jumat. Minggu depan kita ada quiz. Cukup disini kuliah kita hari ini," kata Pak Sastro menutup sesi kuliahnya.
"Haiiiiih...," gerutu para mahasiswa yang mendengar pengumuman dari Pak Sastro.
Selena dan teman-temannya segera keluar dari kelas diikuti oleh Devan.
"Ciel, aku pergi. Nanti aku masih ada kelas sampai jam tiga. Kamu pulang sendiri aja," kata Selena melewati Cielo.
"Iya, sampai jumpa di rumah."
"Ciel, ayo antar aku fotocopy handout dulu. Nanti kita ada kelas Sistem Informasi Akuntansi. Aku lupa belum fotocopy dari minggu lalu," ucap Nayla menggandeng tangan Cielo.
"Oke, Nay."
Cielo baru saja melangkah keluar dari pintu bersama Nayla dan Tobi, ketika seseorang memanggilnya dari belakang.
"Cielo, namamu benar Cielo khan? Kenapa kamu selalu gak dengar kalau aku memanggilmu," ucap Morgan kesal.
"Ini penamu yang kupinjam tadi. Terima kasih," sambung Morgan sambil menyerahkan pena milik Cielo.
Morgan membalikkan badannya sebentar sebelum pergi.
"Lain kali perhatikan ucapan orang lain di sekitarmu. Jangan hanya memikirkan dirimu sendiri di dalam kelas," ucap Morgan tiba-tiba.
Setelah menyindir Cielo, Morgan berlalu begitu saja dari hadapan Cielo.
"A..apa maksudnya dia berani berkata seperti itu padaku? Dia bahkan tidak mengenalku," gerutu Cielo menahan amarah.
"Ih, arogan sekali si Morgan itu. Dipinjami pena malah memarahi Cielo," kata Tobi terheran-heran.
Nayla menepuk bahu Cielo.
"Sabar, Ciel. Morgan itu cowok sempurna makanya dia besar kepala. Kalahkan saja dia nanti di pelajaran yang lain, oke. Tapi, menurutku Morgan memang ganteng bangetttt. Semakin dilihat semakin ganteng. Seandainya aku punya pacar seperti dia...." ucap Nayla coba membayangkan.
"Mimpi kali kamu, Nay! Ganteng tapi bakalan makan hati tau," kata Tobi memperingatkan Nayla.
"Sok tau kamu Tobi. Jangan-jangan kamu yang naksir Morgan," jawab Nayla mengejek Tobi.
"Enak aj emang aku cowok apaan. Aku masih normal ya."
"Kalau gitu buruan pacaran sama cewek, biar kamu gak disangka homo."
Cielo tersenyum mendengar perdebatan kedua sahabatnya. Di dalam hatinya ia hanya berharap tidak bertemu lagi dengan cowok menyebalkan seperti Morgan.
Cielo menemani Nayla dan Tobi ke toko alat tulis sekaligus tempat fotocopy yang terletak di samping kampus.
Nayla menggerutu menyaksikan antrian panjang para mahasiswa di tempat itu. Di jam-jam kuliah, tempat itu memang selalu dipadati mahasiswa yang ingin fotocopy atau sekedar membeli alat tulis.
"Aduh, antrinya panjang. Mana tiba-tiba aku sakit perut lagi," keluh Nayla putus asa.
Tobi menertawakan Nayla.
"Ciel, awas nanti ada yang buang bom. Mundur-mundur, jauh-jauh dulu dari Nayla daripada kebauan kentutnya."
Nayla mencubit tangan Tobi.
"Ssstt, awas kamu ya Tobi. Kalau sampai ada yg dengar aku jitak kepala kamu."
"Udah, Nay, kamu ke toilet aja. Biar aku yang antri disini," kata Cielo menawarkan bantuan.
"Bener, Ciel?"
"Iya, sudah sana. Terima beres saja."
"Aduh, makasih banget, cantik. Kamu memang temen yang baik. Mmuuach," ucap Nayla memberikan kecupan jarak jauh kepada Cielo.
"Eh, aku ikut Nay."
"Tapi jangan ikut ke toilet cewek. Inget kamu cowok," kata Nayla mengejek Tobi.
Cielo tersenyum menyaksikan tingkah dua sahabatnya yang konyol. Ia menghela nafas panjang dan memutuskan untuk masuk ke dalam antrian. Cielo merasa harus banyak bersabar karena dia ada di barisan paling belakang.
Demi mengusir rasa bosan, Cielo mengambil ponselnya untuk sekedar melihat update berita di media sosial. Tanpa menoleh ke belakang, Cielo bisa merasakan ada seseorang yang berdiri di belakangnya dalam antrian itu.
"Hei, jangan dorong-dorong donk," teriak beberapa mahasiswa yang mengantri di depan.
"Ini si Yusak yang dorong. Badannya sebesar karung goni, jangan salahin kita," ucap mahasiswa lain.
Semua mata memandang ke arah Yusak, seorang mahasiswa bertubuh subur yang terkenal tidak sabaran.
"Kenapa kalian melihatku? Aku memang gendut tapi jangan jadiin aku kambing hitam," balas Yusak tersinggung.
Karena merasa jengkel, Yusak tidak memperhatikan tali sepatunya yang terlepas. Ia tersandung tali sepatunya sendiri dan jatuh ke belakang menimpa mahasiswa yang sedang mengantri di belakangnya. Tubuh Yusak yang berat membuat orang-orang di belakangnya terdorong ikut jatuh ke belakang.
Cielo yang menyaksikan kejadian itu terkejut, tapi ia tidak bisa menghindar. Ia tertimpa seorang cewek tomboy bertubuh tinggi yang mengantri di depannya. Cielo kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke belakang menimpa tubuh cowok di belakangnya.
"Aduh, sakit...," pekik Cielo.
Cielo bisa merasakan ada rasa hangat dari d**a cowok itu. Sepertinya cowok itu memiliki d**a yang bidang dengan otot-otot kekar di lengannya. Cowok itu memegang erat kedua tangan Cielo dan mendorongnya agar berdiri kembali.
"Eiits, Nona, hati-hati. Tubuhmu terlalu langsing sehingga kamu mudah jatuh. Atau mungkin kamu sengaja pura-pura jatuh supaya bisa menimpa tubuhku?" tanya cowok itu dengan suara serak.
Cielo menengok ke belakang untuk melihat wajah cowok yang sedang berbicara kepadanya. Ia tidak menyangka kalau cowok itu juga sedang menatapnya, sehingga pandangan mata mereka saling terkunci.
Cielo belum pernah melihat cowok itu di fakultas ekonomi. Dia memiliki wajah yang bisa dibilang sangat sempurna. Perpaduan wajah asia dan eropa yang hanya dimiliki oleh sebagian model atau artis ternama di layar kaca. Tubuhnya tinggi dan atletis dan tatapan matanya begitu dalam. Ia bahkan cocok menjadi pemeran utama pria dalam serial-serial drama yang digandrungi para remaja.
Senyuman tersungging di bibir cowok tampan itu.
"Kenapa, Nona manis? Apa kamu sedang terpesona melihatku?"
"Ehhm, maaf ya. Aku gak sengaja," kata Cielo menundukkan kepalanya agar tidak bertatapan langsung dengan cowok itu.
"Aku gak peduli kamu sengaja atau gak sengaja. Yang pasti aku senang karena kamu menabrakku. Siapa namamu, Nona Cantik? Aku belum pernah bertemu denganmu? Kamu dari fakultas mana?"
"A..aku, Cielomita dari fakultas ekonomi jurusan akuntansi. Sekali lagi maaf ya," ucap Cielo merasa tidak enak hati.
"Nama yang cantik seperti orangnya. Ternyata kamu dari fakultas ekonomi. Cewek-cewek fakultas ekonomi memang terkenal cantik-cantik. Perkenalkan aku Ansel, dari jurusan arsitektur," ucap Ansel mengulurkan tangannya.
Dengan ragu-ragu, Cielo mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan cowok bernama Ansel itu. Namun ia terkejut ketika Ansel tidak mau melepaskan genggaman tangannya.
"Beri aku nomer ponselmu," kata Ansel mengerlingkan matanya.